
" Gak usah malu, udah malu-maluin ini. Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai pada akhirnya ketahuan juga," lanjutannya lalu berlalu pergi dengan senyuman mengejek.
Mira terdiam setelah perkataan Dila yang hampir benar tersebut Mira sama sekali tidak kepikiran ke arah sana dia berpikir jika dirinya ini hanyalah masuk angin biasa namun setelah perkataan Dila Mira mulai mengingat kapan terakhir kali dia datang bulan dan merah pun berlari ke kamarnya untuk melihat tanggal setiap kali dia datang bulan yang selalu dia tulis di kalender yang ditempelkan di dinding kamarnya tersebut.
" Ya Allah ... ternyata aku udah telat dua minggu, apa mungkin aku ..."
Tangan Mira gemetar dia mengelus perutnya sekarang, Mira baru ingat ternyata periode datang bulannya bulan ini sudah telat 2 minggu, mungkin saja yang dikatakan Dila benar jika dirinya saat ini sedang mengandung anaknya Aslan. Mira terduduk di tempat tidurnya, kakinya sangat lemas tubuhnya gemetar matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Mira bingung harus melakukan apa sekarang, dia sangat takut benar-benar takut.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang jika benar-benar anak ini hadir dalam rahimku. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin bisa meminta pak Aslam untuk bertanggung jawab dan aku juga tidak mungkin bisa bertahan di sini lebih lama lagi pasti Bu Monica sangat murka dan mengusirku lalu aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
Mira frustasi dia benar-benar bingung sekarang ini, rasa gelisah takut benar-benar menghantui dirinya. Tubuhnya lemas gemetaran, pikiran takut itu menguasai kepalanya sehingga dia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Mira menangis, dia menutup mulutnya agar tak bersuara. Mira memukul-mukul perutnya yang masih rata.
Mira mengerutuki dirinya sendiri karena sangat ceroboh sehingga benih Aslan tumbuh dalam rahimnya. Seharusnya ini tidak sampai terjadi, Aslan pernah mengatakan dulu saat awal perjanjian, jangan sampai hamil karena jika hamil tak ada kata pertanggungjawaban dan perjanjian itu pun selesai.
Mira takut biaya pengobatan ibunya yang sebentar lagi akan sembuh itu terhenti dan dirinya pun kehilangan pekerjaan dan tentu diusir dari rumah ini. Dan Mira harus ke mana, sementara dia sudah berbadan dua. Ibunya pun pasti sangat marah dan kecewa padanya.
" Apa aku menggugurkan saja anak ini?"
Tin ... tin ...
__ADS_1
Mendengar bunyi klakson mobil Mira cepat-cepat menghapus air matanya, dia sudah tahu jika klakson mobil tersebut adalah milik Monica tepat hari ini Monica pulang dia memang sudah mengetahuinya karena sudah diberi kabar sebelumnya. Rasa takut dan gelisah itu kembali menghantuinya, namun dia harus berusaha untuk bersikap tenang agar tak mencurigakan apapun yang terjadi kepada dirinya.
" Mbak ayo keluar, bu Monica datang jangan sampai dia melihat kita tidak melakukan apapun nanti dia murka." ajak Nisa.
" I-Iya, kamu duluan aja aku mau cuci muka sebentar."
Nisa mengangguk lalu dia keluar dari kamar Mira dan mulai kembali bekerja agar terlihat rajin di mata majikannya tersebut. Sementara Mira pergi mencuci mukanya cepat walaupun mata sembab dan agak sedikit merah namun Mira berusaha untuk kuat seakan tidak terjadi apa-apa kepada dirinya, dia juga mengambil sapu dan pel untuk mengepel lantai kembali lalu bekerja seperti biasa.
" Pagi Bu." sapa Mira saat Monica masuk melewati dirinya.
__ADS_1
wanita yang di siapa itu acuh dia tak menoleh apalagi menjawab wanita itu sungguh sangat arogan dan sombong mengingat yang menyapanya itu hanya seorang pembantu saja..