Terjebak Gairah Majikan

Terjebak Gairah Majikan
bab 26


__ADS_3

Sementara itu, seseorang berlari menelusuri rumah sakit, dia sudah mengetahui keberadaan orang yang dia cari setelah bertanya di bagian informasi. Dengan wajah penuh keringat membasahi pipinya, laki-laki itu menghentikan langkahnya melihat dari kejauhan seseorang wanita terduduk dilantai sambil menagis. Dia juga melihat anak kecil disamping wanita itu yang juga ikutan menangis. Perlahan langkah kaki panjangnya maju menghampiri dengan detak jantung berdegup kencang. 


" Mira …" lirihnya pelan. 


Nafasnya ngos-ngosan, nampak jelas jika dia habis berlarian ditambah lagi keringan bercucuran membasahi bajunya sampai basah dan menjadi transparan karena baju kemeja itu berwarna putih dan sangat tipis sekali kainnya. Sontak banyak mata yang mengagumi bentuk tubuh nya yang begitu sixpack dan gagah. Tetapi dia tidak peduli karena tujuannya hanya satu yaitu mencari keberadaan Mira dan juga anaknya.


" Mira." Dia terduduk di lantai, kakinya merasa lemas saat melihat wanita yang sudah lama dia cari akhirnya ketemu.


" Mira, kamu kenapa?" Tangannya gemetar, antara senang dan sedih dia rasakan saat ini. Senang akhirnya bisa menemukan wanita yang dia cintai, sedih melihat air mata keluar dari wanitanya itu, ditambah lagi mendengar tangisan yang begitu pilu sungguh sakit sekali melihat keadaannya.


Mira menoleh. " Pak Aslan!" Ucapnya tanpa suara, kemudian Mira semakin menangis.


Aslan langsung menarik tubuhnya membawa dalam pelukan. " Tidak apa, aku ada disini." Walaupun tidak tahu apa yang terjadi, namun dia tidak menghentikan tangisan Mira, biarlah dia mengeluarkan semuanya.

__ADS_1


Mira tidak menolak, saat ini dia memang membutuhkan sandaran.


Melihat ibunya di peluk orang asing, Arga menarik baju Aslan hingga membuat laki-laki itu menunduk kemudian menatap anak laki-laki yang mirip dengannya.


" Kenapa Bunda menangis?" Tanyanya dengan wajah polos.


Aslan yakin jika anak laki-laki ini adalah anaknya, Aslan pun tersenyum lalu meletakan telunjuknya ke mulut.


Arga memang anak yang pintar, dia duduk dengan santai sambil menunggu sang bunda tenang dan berhenti menangis tanpa kembali bertanya lagi. Asisten Aslan membisikan sesuatu ke Aslan untuk memberitahu pasal penyebab Mira yang menangis histeris yaitu meninggal nya ibu Mira.


Aslan turut berdukacita, dia sangat menyesal karena tidak ada saat Mira membutuhkan dirinya. Andai dulu dirinya tidak bodoh dan mengakui perasaannya sejak awal, mungkin dirinya tidak akan berpisah dari wanita yang dia cintai dan ibu nya Mira tidak akan meninggal seperti ini.


" Maafkan aku Mira." Aslan mencium kening Mira berkali-kali.

__ADS_1


Setelah Mira sudah mulai tenang, dia menatap kosong jenasah ibunya yang sudah di tutupi dengan kain putih. Rasanya tak percaya jika ibunya telah pergi.


" Bu, jangan tinggalkan Mira," ucapnya pelan, suaranya nyaris habis karena tangisan tadi.


" Kamu yang sabar ya Mira, aku yakin ibu akan bahagia disana." Aslan mencoba menghibur sambil mengusap punggungnya.


" Jika ibu pergi, lalu kami akan tinggal dengan siapa? Selama ini ibu selalu yang menemani kami dan menjadi penyemangat kami," ucap Mira sedih.


" Kamu jangan khawatir, mulai dari sekarang kita akan tinggal bersama, aku akan menjagamu dan juga anak kita," jawab Aslan kembali menarik Mira dalam pelukannya.


Karena larut dalam kesedihan, Mira baru sadar jika Aslan sedari tadi ada disini. Kedua mata Mira terbelalak lebar, dia langsung mendorong tubuh Aslan lalu menatapnya.


" Pak Aslan kok bisa ada disini?"

__ADS_1


__ADS_2