Terjebak Gairah Majikan

Terjebak Gairah Majikan
bab 10


__ADS_3

Seminggu kemudian, Mira selalu menghindar saat berpapasan dengan Dila walaupun dia selalu mendengar cibiran pedas dan sindiran panas yang di lontarkan oleh wanita itu untuk dirinya, namun Mira tak pernah menanggapinya, dia hanya berpura-pura tidak tahu apa-apa dan selalu memberikan senyuman palsu saja dan itu semakin membuat Dila jengkel melihatnya.


" Ck dasar munafik, muka sok polos padahal dalamnya busuk!" 


Mira hanya mendengar bak angin lalu saja, mau sakit hati toh nyatanya memang seperti itu kenyataanya. Dirinya memang tak jauh sama seperti wanita murahan di luar sana, bedanya Mira berwajah polos dan lugu sehingga tak akan ada yang percaya jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri jika dirinya menjadi wanita pemuas nafsu dari suami orang atau lebih tepatnya majikannya sendiri hanya karena kekurangan biaya pengobatan ibu nya di rumah di rumah sakit sehingga rela menjual masa depannya tersebut.


Akan tetapi, karena sikap lembut dan penuh sayang saat bercinta dengan majikannya itu Mira menjadi wanita sedikit serakah, diam-diam dia menyimpan rasa pada laki-laki itu, diam-diam dia terus memperhatikan, curi-curi pandang saat tidak ada yang sadar. Rasa serakah ingin memiliki itu muncul dengan sendirinya dalam dirinya setelah merasakan kenikmatan yang diberikan oleh laki-laki memiliki istri tersebut, terkadang Mira melupakan fakta jika dirinya hanyalah pemuas nafsu saja.


Oweeeek … Untuk kesekian kalinya Mira muntah-muntah, terkadang dia sendiri bingung penyebab apa yang membuat diri nya selalu merasakan mual di pagi hari bahkan jika mencium aroma menyengat dia pasti akan muntah.


" Masih belum sembuh-sembuh juga ya mbak Mira muntah-muntah nya? Masa iya masuk angin sampai segitu lama?" Haran Nisa.


" Mungkin yang masuj dalam perutnya itu bukan angin, melainkan orok!" Jawab Dila santai.


" Huuuus, kalo ngomong yo di saring toh Mbak." 


" Emang kenyataanya kok, coba kamu pikirkan aja, masuk angin mana yang betah berlama-lama di tubuh orang. Setidaknya kalau beneran masuk angin, di minumin obat 2-3 hari pasti sembuh, lah ini lebih dari seminggu. Bukan masuk angin lagi namanya itu," jelas Dila sangat yakin jika Mira tengah hamil saat ini. Walaupun dirinya belum berpengalaman tentang hamil, tetapi dia tidak bodoh.


" Masa iya, tapi kan mbak Mira belum nikah?" 


Nisa kurang yakin, tetapi jika di pikir-pikir lagi memang gejala Mira yang sering muntah-muntah tersebut sama seperti orang yang sedang hamil muda. Akan tetapi masalah Mira belum menikah, lalu anak siapa yang di kandung teman kerjanya itu? Rasanya tidak percaya jika Mira melakukan hal semacam itu melihat tampangnya yang begitu polos dan lugu seperti wanita baik-baik.

__ADS_1


" Tauk, yang pasti anaknya orang bukan jin." 


Dila pergi melanjutkan pekerjaannya setelah mengatakan itu, dia semakin penasaran bagaimana jika majikan perempuannya tahu jika Mira sedang hamil dan Dila juga sangat yakin sekali jika anak yang di kandung Mira adalah anak tuannya. 


" Pertunjukan akan segera dimulai, jadi gak sabar menonton." Dila tertawa kecil, sebenarnya dia sendiri tidak percaya sih jika Mira bakalan hamil.


Terkadang berpikir apa mungkin tuanya itu sengaja menaruh benih ke dalam rahim Mira mengingat pernikahan mereka yang tak di dasar kan oleh cinta. 


" Tapi kayaknya gak mungkin deh, jika pak Aslan sengaja berarti dia sudah cinta dong sama Mira? Atau jangan-jangan Mira nya aja yang sengaja hamil supaya nanti bisa minta tanggung jawab dan meminta pak Aslan buat nikahin dia? Wah jadi nyonya kedua dong dia, licik juga!" 


Dila memikirkan hal tersebut sambil menyapu halaman. Dila membayangkan jika Mira menjadi nyonya kedua rumah ini, padahal dia bermimpi bisa menjadi madu Monica karena pernikahan mereka tidak dilandasi dengan cinta dan membuat majikannya itu bisa jatuh cinta padanya. Akan tetapi semuanya sirna gara-gara Mira sudah bergerak cepat, entah dengan cara apa wanita itu bisa merayu sosok dingin seperti Aslan, dirinya saja sudah beberapa kali mencoba, berdandan seksi dan cantik bahkan berusaha mencari perhatian dari laki-laki itu tetap saja tidak bisa. Dila tidak tahu yang sebenarnya, yang jelas dia tahu jika Mira lah yang duluan merayu majikan mereka.


" Entah pakai ilmu sihir dari mana dia bisa dengan mudah nya merayu pak Aslan, jika Mira beneran jadi nyonya di rumah ini, aku gak sudi banget deh, pokoknya aku harus bisa membuat wanita murahan itu di usir dari rumah ini. Satu-satunya cara adalah melibatkan Monica!" 


Sementara itu, Nisa terus memikirkan perkataan Dila tadi. Diam-diam dia memperhatikan Mira yang kembali muntah-muntah saat mencium masakan bi Sumi. Memang aneh sih jika hanya masuk angin saja lalu mengapa harus mual saat mendekat makanan atau hal berbau menyengat.


" Mbak Mira muntah-muntah lagi?" Tanya Nisa menghampiri bi Sumi.


" Sepertinya begitu." 


Nisa mengangguk pelan." Apa gak sebaiknya di bawa ke klinik saja, kayaknya masuk angin mbak Mira makin parah deh, kasihan juga melihat dia selalu muntah-muntah seperti itu apa lagi kalau pagi hari mukanya itu pucat banget," usul Nisa dia ingin memastikan.

__ADS_1


" Sudah, tapi Mira nya sendiri menolak. Katanya cukup minum obat nanti sembuh," jawab bi Sumi.


" Tapi yo kok gak sembuh-sembuh. Coba aku tanya mbak Mira nya saja." 


Nisa menghampiri Mira yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Kayaknya sakitnya Mbak Mira semakin parah, kenapa gak minta izin sehari buat pergi ke klinik. Kali aja obat dari saja ampuh," kata Nisa. 


" Nggak apa-apa Mbak, nanti setelah minum obat agak baikan," jawab Mira lemas, dia baru saja memuntahkan isi dalam perutnya tentu tenaga nya terkuras.


" Merasa baikan gimana, lah wong tiap pagi muntah-muntah gitu kok." 


Mira hanya tersenyum saja, dia mengambil air minum hangat untuk melegakan tenggorokan lalu mengambil obat cair masuk angin untuk di minumnya kembali.


" Apa gak sebaiknya di cek dulu Mbak, takutnya bukan masuk angin melainkan …" 


" Hamil!" Sela Dila cepat. 


" Eh, bukan aku loh ya yang ngomong!" Nisa merasa gak enak sendiri.


" Masuk angin apa yang gak sembuh-sembuh? Itu mah bukan masuk angin lagi, tapi masuk orok." Sindir Dila mengejek.

__ADS_1


" Napa … gak percaya? Coba aja di tespek pasti bergaris dua," sambungnya saat Mira menatap padanya. 


" Gak usah malu, udah malu-maluin ini. Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai pada akhirnya ketahuan juga," lanjutannya lalu berlalu pergi dengan senyuman mengejek. 


__ADS_2