
Setelah dari puskesmas yang mengharuskan rujuk kerumah sakit lantaran penyakit ibunya sudah semakin parah. Mira meminta tolong sama petugas puskesmas untuk mengantar dirinya dengan menggunakan mobil ambulance supaya lekas tiba disana tanpa halangan macet nya dalam perjalanan.
Dengan kecepatan dan bunyi nyaring sirine mobil ambulance tersebut menerobos dijalan. Sementara Mira diam-diam menangis melihat ibunya sudah tidak sadarkan diri. Mira mencoba untuk tidak menagis karena ada anaknya, dia tidak ingin anaknya nanti ketakutan saat melihat dirinya menangis.
" Bu, Ibu harus bertahan." Dengan nada serak Mira menggenggam tangan ibunya, dalam hatinya terus berdoa. Saat air matanya mengalir cepat-cepat Mira hapus agar anaknya tidak melihat.
Untunglah anaknya itu tidak rewel, dia duduk anteng dengan mainan yang dia bawa dari rumah. Terkadang sesekali anaknya itu bertanya dengan sangat pintarnya.
" Nenek kok tidur sih? Terus kita mau kemana? Apa mau ke tempat pak polisi?" Terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Sirine ambulance Arga kira itu adalah bunyi mobil polisi. Karena yang dia tahu mobil yang memiliki bunyi wiw, wiw, wiw tersebut adalah milik mobil pak polisi saja. Dan Arga punya mobil mainannya.
" Kita kerumah sakit sayang, nenek harus berobat disana biar cepat sembuh," jawab Mira memberikan pengertian.
" Oh, kita kerumah sakit naik mobil pak polisi. Pak polisi nya mana?" Sambil melihat kiri kanan lantaran yang menyetir mobil adalah petugas puskesmas yang menggunakan baju putih bukan seragam polisi.
" Ini mobil ambulance sayang," jelas Mira dia sedikit tertawa karena anaknya begitu menggemaskan.
__ADS_1
" Ambulance itu apa?" Masih belum mengenalnya, jadi dia kembali bertanya dengan wajah polosnya.
" Ambulance adalah mobil untuk membawa orang sakit ke rumah sakit."
Arga manggut-manggut, kemudian dia kembali fokus pada mainannya. Mira tersenyum melihat anaknya anteng, walaupun dalam hatinya terus menangis berharap ibunya tidak kenapa-napa.
Sesampai di rumah sakit, petugas langsung membawa ibunya Mira menggunakan brankar dan mendorongnya cepat -cepat hingga beberapa suster membantu dan menuntun untuk dibawa ke ruangan ICU.
" Mbak tolong tunggu disini, biar dokter yang akan menanganinya. Sebaiknya Mbak isi formulir mengenai data pasien disana," ujar suster tersebut. Mira mengangguk kemudian dia menggendong anaknya dan pergi menuju tempat pendaftaran lalu menulis lengkap data ibunya. Mira menggunakan BPJS karena jika umum tentu tidak sanggup apalagi tabungan uangnya sangat minim sekali.
" Astaghfirullah perasaan apa ini ya Allah. Semoga engkau memberikan keselamatan untuk ibu hamba." Mira sangat takut sekali, berkali -kali menarik nafasnya namun perasaan tidak enak itu terus ada.
Tak lama kemudian keluarlah dokter laki-laki dari ruangan ICU dengan wajah yang nampak sedih. Mira bergegas menghampiri.
" Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" Tanya Mira tak sabaran.
__ADS_1
" Maafkan saya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi Allah berkehendak lain," ucapnya sedih dengan nada berat.
Mira menggeleng, air matanya mengalir deras. Dia pasti salah dengar, tidak mungkin ibunya pergi meninggalkan dirinya. Pasti ini dokter itu bercanda padanya.
" Dokter bercanda kan? Tidak mungkin ibu saya sudah meninggal, pasti dia baik-baik saja kan Dok?" Sambil menggenggam tangan dokter laki-laki itu erat. Mira menangis, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
" Maafkan saya Mbak, semoga Mbak di berikan ketabahan dan kesabaran. Kami turut berdukacita." Tak bisa berkata apa-apa lagi, dengan berat hati dokter tersebut pergi meninggalkan Mira yang tertegun.
" Tidak, ini pasti bohong kan. Tidak mungkin ibu pergi meninggalkan aku …" Mira menangis dia terduduk lemas di lantai. Detak jantungnya seakan berhenti, nafasnya sangat sesak sekali, ibu yang selama ini terlihat baik-baik saja tidak mungkin tiba-tiba begitu saja pergi meninggalkan dirinya.
Mira menangis histeris tak percaya, sementara Arga ikutan menangis lantaran takut melihat ibunya yang menangis seperti itu. Arga tak tahu apa-apa, dia hanya menangis karena takut sambil melihat ibunya.
****
Sementara itu, seseorang berlari menelusuri rumah sakit, dia sudah mengetahui keberadaan orang yang dia cari setelah bertanya di bagian informasi. Dengan wajah penuh keringat membasahi pipinya, laki-laki itu menghentikan langkahnya melihat dari kejauhan seseorang wanita terduduk dilantai sambil menagis. Dia juga melihat anak kecil disamping wanita itu yang juga ikutan menangis. Perlahan langkah kaki panjangnya maju menghampiri dengan detak jantung berdegup kencang.
__ADS_1
" Mira …" lirihnya pelan.