Terjebak Gairah Majikan

Terjebak Gairah Majikan
bab 37


__ADS_3

" Mira aku tidak bisa lama-lama berada di sini pekerjaanku di sana sudah menumpuk Tejo sudah tidak sanggup lagi untuk mengerjakan semuanya tanpa aku. Sebaiknya kita pindah ke Jakarta di sana kalian akan mendapatkan rumah yang jauh lebih baik lagi," ucapnya akan mengajak Mira dan juga harga tinggal di kota Jakarta dengan fasilitas yang jauh lebih layak.


" Jika pekerjaanmu di sana banyak, kenapa tidak kamu saja yang kembali pulang. Aku tidak mau," tolaknya.


" Kalau aku pulang ke sana nanti sekalian berdua gimana Apa kamu lupa kalau kita ini sudah menjadi suami istri?" Tuturnya mengingatkan.


" Aku tahu, tapi aku tidak ingin lagi kembali ke sana tolong mengertilah," timbulnya masih menolak.


Ini hari ke-5 setelah mereka menikah, Aslan masih berada di kota Bandung Mereka pun masih belum melakukan apapun karena Mira masih halangan jadi Aslan harus menunggu dan kebenaran sekali pekerjaan kantor sudah sangat banyak dan dirinya selalu saja ditelepon oleh Tejo agar segera kembali membantunya dalam mengurus urusan kantor. Dan jika mereka sudah tiba di Jakarta Aslan barulah akan melakukan hal yang sempat mereka tunda.


" Kenapa?" Tanya Aslan, dia duduk disamping istrinya.

__ADS_1


" Bu Monica bakalan marah besar padaku, pasti dia akan kembali menghinaku dan mencaciku jadi aku tidak mau lagi kembali ke sana. Aku tidak mau Arga sampai terlibat apalagi sampai terluka," ujarnya takut, Mira sudah membayangkan Apa yang akan terjadi jika dirinya kembali ke rumah itu.


" Aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyentuh anak kita, kamu harus percaya padaku Mira!" Aslan meyakinkan.


" Harga tidak akan terluka jika anda berada di sisinya. Tapi bagaimana jika anda pergi ke kantor apa Anda yakin dengan keselamatannya?" Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dan merah sangat takut jika lengah anaknya pasti akan terluka.


Aslan menghembuskan nafasnya kasar lalu dia menjambak rambutnya. Tidak mungkin dia terus-menerus bolak-balik jakarta-bandung seperti ini. Aslan diam sejenak untuk berpikir.


" Aku akan membeli rumah khusus untuk kalian di sana. Dengan begitu Arga maupun Kamu tidak akan terluka, tidak akan ada yang menyakiti," ide Aslan. Mungkin dengan cara ini Mira mau ikut dengannya ke Jakarta.


" Apa maksud kamu?" Tanya Aslan dengan kening yang berkerut.

__ADS_1


" Emmm, i-itu ... " Mira ragu untuk bercerita.


Aslan perlahan menyentuh bahunya. " Sebenarnya ada apa? Apa sebelumnya ada yang mencari dan mengancam kamu?" Tanyanya pelan.


Mira menggeleng. " Bukan hanya sekedar mengancam, tetapi sudah menusukku dengan pisau. Tapi sebelum pergi mereka itu mengatakan jika semua ini karena aku sudah menyakiti bu Monica, sebab itulah aku mengetahui yang melakukan ini adalah dia. Untunglah saat i lukanya idak terlalu dalam dan ibu cepat -cepat membawa ku ke rumah sakit."


"Apa!"


Aslan mengepalkan tangannya, pantas saja Monica mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah menemukan di manapun keberadaan merah bahkan sampai ke ujung dunia. Ternyata kata-kata itu memiliki maksud lain bodohnya dirinya tidak menyadari perkataan tersebut.


" Tolong jangan paksa aku pulang, dan tolong jangan kasih tau keberadaan ku disini. Aku gak mau dia kembali melakukan hal itu lagi," pintanya memohon.

__ADS_1


Aslan menghela nafasnya lalu menarik Mira dalam pelukan.


" Aku akan menjagamu dan juga Arga dengan nyawaku sendiri. Aku tidak akan membiarkan kalian terluka lagi." Aslan pasti akan melindunginya. Dia akan membalas siapapun yang sudah berani menyentuh wanita kesayangannya itu.


__ADS_2