
" Ayo kita pulang, kasihan Arga sudah menunggu." Laki-laki itu mengajak Mira kembali pulang. Dia bahkan berani menggandeng tangan Mira tanpa menghiraukan tatapan mematikan dari Aslan yang siap mencengkram mangsanya.
" Beraninya dia ..." Rahangnya sudah mengeras, Aslan tidak tahan melihat ada laki-laki lain yang menggenggam tangan Mira.
" Sabar Tuan, ingat ini masih di pemakaman. Jangan gegabah," cegah Tejo. Semakin brabe entarnya, yang ada Mira semakin tidak menyukainya. Apalagi Tejo dapat melihat Mira tidak menolak sama sekali ketika laki-laki itu menyentuh tangannya. Tejo yakin pasti mereka bukan hanya sekedar kenal saja.
" Sebenarnya mereka memiliki hubungan seperti apa? Jika seperti ini Tuan semakin sulit untuk mendapatkan nona," batin Tejo.
" Sebentar Mas, aku mau pamit ke ibu dulu." Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum lalu dia melepaskan tangannya.
Mira berjongkok, laki-laki itu ikutan juga hingga Aslan berdecih tak suka melihatnya.
__ADS_1
" Jongkok doang, gue juga bisa." Aslan pun melakukan hal yang sama.
" Ibu, Mira pamit pulang ya. Arga sudah menunggu di rumah. Mira harap ibu bahagia disana. Ibu juga tidak usah memikirkannya Mira dan Arga lagi disini, karena Mira bakalan menjaga Arga baik-baik dan kami juga akan hidup dengan baik." Mira mengusap papan nama ibunya.
" Mira sayang Ibu, Mira bakalan datang lagi kesini ya. Assalamualaikum." Setelah itu Mira mengecup papan namanya itu tepat di bagian nama ibunya. Air matanya kembali menetes, buru-buru Mira menghapusnya karena pasti ibunya tidak akan suka melihat dirinya bersedih.
" Assalamualaikum Bu. Ini Adam. Maaf ya Adam baru saja datang, insyaallah Adam bakalan menjaga Mira dan Arga selagi ibu tidak ada sampai mereka bahagia. Ibu jangan risau lagi ya." Kini Adam yang berbicara.
Laki-laki itu bernama Adam, orang yang sangat dekat dengan keluarga Mira bahkan dengan ibunya karena Adam memiliki rasa pada wanita itu. Niatnya sangat tulus ingin melamar Mira. Hanya saja Mira masih belum ingin membuka hatinya untuk siapapun.
" Kami pamit dulu ya Bu, assalamualaikum." Mira dan Adam bangkit. Mereka tidak menghiraukan Aslan sama sekali dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Aslan sangat kesal, tetapi dia tidak segera menyusul. Laki-laki itu masih berjongkok tepat di atas kuburan ibunya Mira. Aslan memandang papan nama itu.
" Maafkan saya ya Bu, saya terlalu pengecut sehingga kehilangannya dan membuat anda menderita. Sekali lagi maafkan saya," sesalnya meminta maaf dengan tulus. Tejo tidak menyangka jika tuannya memiliki hati nurani juga, dia terharu.
" Dan saya pasti akan menjaga Mira dan juga Arga seumur hidup mereka. Saya pasti bakalan membahagiakan nya, anda jangan khawatir, cukup doakan dan restui saja kami."
Tejo langsung berubah ekspresi nya .
" Oh iya dan satu hal lagi, jangan restui laki-laki itu ya. Jangan biarkan mereka dekat-dekat karena Mira hanya boleh dekat dengan saya saja!" Seperti kata perintah, Tejo sampai menepuk keningnya. Ternyata tuan nya itu masih saja suka memerintah seenaknya saja bahkan dengan orang yang sudah tiada pun tidak masalah.
Mira menaiki motor Adam. Dia menoleh kebelakang melihat kuburan ibunya sekali lagi. Keningnya mengerut saat melihat Aslan ternyata masih di sana bahkan seperti sedang mengatakan sesuatu pada ibunya.
__ADS_1
" Ngapain dia disana? Dan apa yang dia katakan sama ibu?" Ucapnya penasaran.
" Dia siapa, Mir?" Tanya Adam yang juga melihat Aslan dari kejauhan.