
Keesokan paginya Mira mulai kembali bekerja seperti biasa, dia sangat rajin dan telaten saat membersihkan rumah yang besar dan mewah tersebut tanpa mengeluh rasa lelah dan capek. Sudah dari pagi-pagi sekali dia membersihkan lantai menyapu dan mengepel, setelah selesai Mira kembali membersihkan kamar-kamar yang kosong tepat berada dilantai dua. Walaupun ada beberapa pembantu lainya akan tetapi tugas Mira hanya bersih-bersih seorang diri saja.
" Kepalaku masih pusing banget." Mira menghentikan sejenak karena kepalanya terasa pusing, dia bersandar di dinding sambil memejamkan kedua matanya. Rasanya seperti naik kincir angin sehingga dia merasa pusing dan mual, perutnya seperti diaduk-aduk dan sangat terpaksa Mira harus berlari dan segera memuntahkan isi dalam perutnya.
" Loh Mbak Mira masih sakit?" Tanya pembantu lainnya melihat Mira yang sedang memuntahkan isi dalam perutnya.
" Masih pusing sedikit Mbak, dan masuk angin mungkin karena belum sempat sarapan tadi," kata Mira dengan nada lemah.
" Istirahat aja dulu Mbak kalau masih gak enak badan, liat wajah Mbak pucet gitu."
" Nggak apa-apa Mbak, takut nanti Ibu marah."
Mira takut jika majikanya kembali memarahi dirinya karena tidak bekerja kemarin, Mira tidak ingin dikatai hanya memakan gaji buta saja.
" Nggak apa-apa lah Mbak, ketimbang masih kurang sehat begitu. Mending istirahat aja," paksanya.
" Iya Mbak insyaallah nanti jika benar-benar gak kuat aku bakalan istirahat." Kinan kekeh tetap melanjutkan pekerjaannya.
" Terserah deh." Teman kerjanya kembali bekerja dan Mira mengambil sapunya kembali walaupun kepalanya terasa berat dan mata kunang-kunang serta perut ingin kembali mual dia tetap mengerjakan pekerjaannya.
" Kenapa dia?" Salah satu teman kerjanya yang kurang menyukainya bertanya pada Nisa yang berbicara dengan Mira tadi.
" Masih sakit," jawabnya tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang mencuci pakaian.
" Ck, alesan. Bilang aja mau malas-malasan," cibir nya tak suka.
" Huus jangan begitu, dia memang lagi sakit kok. Wajahnya aja pucet banget," bela Nisa walaupun kurang akrab dengan Mira tetapi dia masih baik.
" Jangan percaya, dia itu pandai cari muka apalagi kalau ada bapak," katanya sinis.
__ADS_1
Dila pembantu yang sangat yak menyukai Mira sejak Mira diperlakukan istimewa oleh Aslan. Dan terlebih lagi Dila pernah melihat Aslan tersenyum pada Mira padahal dia sudah lama bekerja di rumah itu tetapi tak pernah sekalipun melihat tuannya itu tersenyum apalagi kepada pembantu, bahkan istrinya saja dia tidak pernah melihat tuannya itu memasang wajah yang lembut apalagi untuk tersenyum. Lalu mengapa pada Mira tuannya itu malah tersenyum lembut padanya, sungguh mencurigakan.
Terkadang Dila selalu memperhatikan gerak-gerik Mira saat melayani Aslan ketika makan. Dia sangat iri sekali dengan posisi itu, bilang saja dia sangat menginginkan dekat dengan tuannya siapa tahu ketiban aji mumpung tuanya itu bisa Nasir padanya, tetapi malah sirna sejak kedatangan Mira dan merebut semuanya dan tentu Dila sangat benci padanya.
" Liat tuh, mual-mual begitu kayak orang lagi hamil saja."
Mira kembali memuntahkan isi perutnya, dia sendiri tidak tahu mengapa rasa mual itu terjadi tak seperti biasanya. Mira mengambil minyak kayu putih lalu menggosokkan nya ke perut, kemudian duduk sejenak karena kepalanya rasa berputar-putar terus pedagang nya saja sudah samar-samar.
" Mbak sarapan aja dulu ya, Nisa ambilkan ya." Nisa terbaik hati menawarkan Mira sarapan dia merasa kasihan, bayangkan posisi itu ada pada dirinya jadi dia harus membantu biar ketika dia sakit kelak ada yang perhatian padanya.
" Ada masalah apa ini?" Bi Sumi Baru saja datang dia melihat tiga pembantu majikannya Tengah berkumpul di dapur sebagai senior atau sebagai pembantu terlama dan tertua di sana dia pun harus tahu lagi ada masalah apa.
" Itu si Mira sakit lagi, biasa caper," kata Dila sewot lalu dia meninggalkan dapur karena sudah ada bi Sumi tentu dia akan kalah lawan.
Saat keadaan Mira yang nampak lemas dan pucat itu dia pun menghampiri dan menyentuh keningnya.
" Badan kamu nggak terlalu panas, lalu apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya bi Sumi.
" Ditambah lagi Mbak Mira belum sarapan Bi, Nisa ambilkan dulu ya."
Bi Sumi melihat ke arah Mira kemudian menghela nafasnya dalam." Jangan sampai lupa sarapan, kamu juga harus menjaga kesehatan. Tahu sendiri kan gimana kalau Non Monica sampai tahu."
Bi Sumi menasehati Mira dia tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali saat majikannya yang bernama Monica itu memarahi habis-habisan si Mira hanya karena tidak enak badan sehingga menunda pekerjaan padahal hanya sehari saja, tapi apalah daya, toh majikan menang berkuasa.
" Iya Bi, maaf aku tadi bangun agak kesiangan jadi gak sempat buat sarapan dulu," lirih Mira.
" Mbak ini makanannya." Nisa dengan baik hati mengambilkan seperti nasi goreng yang dibuat oleh bi Sumi yang memang bertugas sebagai koki di rumah tersebut.
" Makasih Mbak, Mbak sendiri sudah sarapan?" Mira mengambil piring tersebut tak lupa dia juga menanyakan hal yang sama sebagai balas budi.
__ADS_1
" Sudah Mbak, yaudah kalau begitu Nisa lanjut kerja lagi ya. Jangan lupa habis makan minum obat Mbak supaya lekas sembuh."
" Sekali lagi terima kasih Mbak."
Nisa mengangguk lalu pergi meninggalkan Mira dan bi Sumi disana untuk melanjutkan pekerjaannya.
" Mira makan dulu ya Bi, maaf kalau lagi-lagi Mira membuat Bi Sumi khawatir." Ucap Mira tidak enak hati.
" Nggak apa-apa, yaudah kamu makan aja dulu abis itu minum obat masuk angin lalu istirahat. Bibi mau menyiapkan sarapan bapak dulu."
Deg … mendengar kata bapak yang berarti Aslan membuat jantung Mira berdetak, dia mengangguk pelan lalu memakan makanan yang diambilkan oleh rekan sesama pembantu tadi.
Setelah selesai sarapan, sesuai ucapan bi Sumi untuk meminum obat masuk angin karena Mira yakin jika dirinya hanyalah masuk angin biasa sehingga dia pun meminum obat cair tersebut kemudian beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa sakit kepalanya.
Setelah cukup lumayan baik Mira bangkit dia melihat di meja makan sudah tersaji berbagai macam jenis makanan untuk majikan mereka sarapan, buru-buru Mira merapikan diri terutama rambut yang agak berantakan dan pakaiannya.
" Udah baikan Mira?" Tanya bi Sumi saat Mira menghampirinya.
" Alhamdulillaah sudah Bi, jadi Mira sudah mulai bisa kembali bekerja lagi." Mira membantu bagi Sumi, selang berapa lama kemudian turunlah Aslan.
Mira menoleh ke arahnya, dia sangat terkagum-kagum pada sosok ciptaan Tuhan yang bisa di bilang sangat sempurna ini. Tidak ada kata kekurangan pada fisik Aslan, bentuk tubuh yang gagah dan sempurna, bentuk wajah yang begitu tampan dan memiliki kulit putih mulus tegap berisi. Siapa yang tak mendambakan nya, Mira bermimpi jika dirinyalah yang berada di sisi tuanya itu sungguh bahagia sekali, apalagi jika mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya.
Akan tetapi, Mira buru-buru bangun dari mimpinya karena semuanya itu hanya dalam mimpinya saja, toh nyatanya dirinya hanya sebagai pemuas nafsu saja tanpa adanya cinta bahkan ikatan pun tak ada. Sakit tapi tak darah, itulah kenyataan yang harus dia hadapi.
Bisa merasakan tapi tak bisa Memiliki, mungkin sebagian wanita itu saja sudah cukup karena banyak sekali wanita di luar sana menginginkan tubuh yang sangat sempurna itu berada di atas tubuh mereka, ingin merasakan bagaimana gagahnya sosok Aslan saat di atas ranjang. Sementara Mira sudah merasakan semuanya, dan tentu saja karena hal tersebut Mira sungguh tidak tahu dirinya malah jatuh cinta kepada laki-laki yang sudah beristri itu sungguh miris sekali.
" Mira, saya dengar kamu sakit?" Tanya Aslan saat Mira mengambilkan sarapan untuk tuannya itu.
Deg … ingin sekali jantungnya itu copot saking groginya apalagi jarak keduanya agak dekat sehingga Mira bisa mencium aroma maskulin tubuh Aslan sehingga pusing dan rasa mual pada dirinya seakan hilang seketika seolah-olah aroma wangi tubuh Aslan adalah obat.
__ADS_1
" S-sekarang sudah lebih baik, Pak!" Jawab Mira gugup. Aslan manggut-manggut lalu memakan sarapannya yang sudah di sediakan.
Tak … tak … terdengar suara langkah kaki dari anak tangga, buru-buru Mira mundur jauh-jauh dari meja makan. Dia tahu siapa si pemilik suara itu.