Terjebak Gairah Majikan

Terjebak Gairah Majikan
bab 7


__ADS_3

" Hey, you … bawakan koper saya ke mobil." 


Monica ya wanita itu adalah Monica pagi-pagi sekali dia sudah berdandan sangat cantik dan menyeret sebuah koper yang cukup besar lalu memerintahkan Dila yang sedang lewat untuk membawa koper ke mobilnya sepertinya wanita itu akan bepergian lumayan lama melihat koper yang cukup besar tersebut. 


" Hallo Hony …" Monica langsung menghampiri asal yang tengah makan dan Monica juga mengecup sebelah pipi kirinya tanpa malu-malu. 


Mira membuang mukanya ke arah lain, dia tidak ingin melihat adegan itu yang akan membuat suasana hatinya memburuk.


" Hentikan itu Monica!"  Bentak Aslan, dia sangat benci di ganggu saat lagi makan.


Diam-diam Mira tersenyum dalam hatinya berkata bahwa Aslan tetaplah Aslan, walaupun mereka berdua bercinta malam itu namun sikap dingin Aslan tetaplah sama ternyata Tak ada cinta diantara keduanya dan itu sungguh membuat hati Mira entah mengapa lega, sangat sekali lega seakan dia menjadi wanita jahat mendoakan pasangan suami istri itu tidak ingin saling mencintai. Mira mungkin berpikir jika Aslan adalah seorang laki-laki normal bak seekor kucing yang diberi ikan Langsung melahapnya mungkin seperti itulah Aslan,apalagi hasrat nafsunya yang sangat besar tentu sangat tergoda bila makanan lezat ada di depan mata.


" Ayolah Boy, jangan galak-galak begitu. Aku hanya menciummu takutnya nanti kau merindukan ku." 


Monica malah menggodanya, dia duduk disebelah Aslan dan ikut untuk sarapan. Melihat majikannya hendak piring, buru-buru Mira mengambilkan untuk nya.


" Ini Bu," kata Mira sopan. Monica menaikkan sebelah alisnya melihat Mira dari ujung kaki sampai ujung rambut. 


" Kau yang males bekerja kemaren itu kan?" Kata Mira seraya tanpa dosa, sementara Mira hanya diam saja.


" Saya mau pergi ke luar kota selama seminggu, awas saja kalau kamu semakin malas-malasan bekerja di rumah ini, saya tidak akan segan-segan untuk memecat kamu!" Ancam Monica ketus. 


" Baik Bu, saya berjanji akan bekerja dengan baik lagi," jawab Mira dengan nada serak.


Sementara Aslan hanya diam saja tanpa adanya pembelaan pada Mira padahal wanita itu sudah cukup lama dia gagahi tubuhnya. 

__ADS_1


" Bagus, dah sana pergi jauh-jauh dari hadapan saya. Bikin gak nafsu makan saja." 


Mira menyingkir dari meja makan, dia kembali bekerja. Dila yang melihat itu tertawa puas dengan suara kecil.


" Emangnya enak, dasar penjilat." 


" Oh iya As, kamu gak mau mengantar aku ke bandara?" 


" Aku sibuk," jawab Aslan singkat dan datar dia sudah selesai sarapan lalu bangkit dari duduknya.


" Ck, kau selalu saja seperti itu. Menyebalkan!" Monica menggerutu melihat kepergian suaminya tanpa basa basi. Laki-laki itu pergi begitu saja bahkan untuk berpamitan saja tidak apalagi bertanya mau apa disana dan dengan siapa. Laki-laki itu terlalu cuek dan acuh sehingga tidak peduli apapun yang dilakukan oleh istrinya tersebut.


Setelah kepergian Aslan dan di susul oleh Monica, Mira kembali merasakan mual sehingga dia kembali memuntahkan isi perutnya tersebut. 


" Kenapa mual lagi, padahal tadi sudah merasa baikan." 


Siang berganti malam tanpa terasa jika hari berjalan sangat cepat. Padahal baru saja kemarin matahari terbenam kini sudah kembali terbenam kembali seakan memiliki roda yang berputar sangat cepat. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Aslan baru saja pulang dari kantornya, seperti biasa laki-laki itu nampak terlihat kusut dengan wajah yang lesu karena beban pikiran akibat masalah di kantor membuatnya harus berpikir keras. 


Sesampainya di rumah Aslan seperti biasa, merebahkan tubuhnya di sofa tanpa membuka terlebih dulu sepatu dan pakaian kerja yang dia kenakan. Dan disaat bersamaan pula sosok wanita berjalan datang menghampirinya, tanpa membuka mata Aslan tahu siapa wanita tersebut sehingga dia membiarkan saja jika sepatu, kaos kaki bahkan jas yang dia kenakan dibuka oleh wanita tersebut. Akan tetapi bau wangi ditubuh wanita itu terasa agak aneh dan sontak saja dia membuka matanya, Aslan disini terkejut karena wanita yang sedang membukakan pakaian bukalah wanita yang sering dia tiduri itu melainkan sosok wanita lain. Dan tentu saja itu membuat Aslan sangat marah padanya.


" Siapa kamu! Berani-beraninya kamu menyentuh saya!" Bentak Aslan sangat marah, dia berdiri dan menatap tajam pada wanita itu.


" M-maafkan saya Pak. Sa-saya hanya membantu melepaskan sepatu dan pakaian anda karena anda kelihatan lelah sekali," ucapnya terbata.


" Lancang! Siapa yang menyuruh kamu melakukan itu hah!" Sangat marah sekali, berbeda saat Mira yang melakukan itu. Mungkin karena perjanjian kontrak yang mereka sepakati atau mungkin karena sudah terbiasa.

__ADS_1


Mendengar suara gaduh di ruang keluarga membuat seisi rumah terbangun dari tidur mereka termasuk Mira yang segera berlari ingin tahu apa yang terjadi apalagi suara marah itu sangat tidak asing baginya. Mira ketiduran sehingga lalai menunggu tuanya pulang.


" Tuan, ada apa?" Tanya bi Sumi, dia melihat arah wanita tersebut yang ternyata adalah Dila.


" Dila kamu ngapain disini?" Tanya bi Sumi beralih pada Dila.


" Saya tidak mau lagi hal ini terjadi, jika sekali lagi kamu lancang saya akan pecat kamu!" Kata Aslan dengan nada dinginnya.


" M-maafkan saya Pak!" Jawabnya takut dengan kepala tertunduk.


Mira hanya diam melihat kejadian tersebut, saat Aslan melewatinya dirinya malah dipanggil oleh Aslan.


" Dan kamu … " Aslan menunjuk Mira. " Ikut saya." 


" Baik Pak." Tanpa bertanya, tanpa bantahan Mira mengekor mengikuti Aslan yang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. 


" Ini gak adil, kenapa Mira boleh, sementara aku tidak?" Kesal Dila melihat kepergian keduanya.


" Jangan mengeluh, ini semua memang tugas Mira. Dan kenapa kamu sangat lancang melakukan yang tidak di perintahkan?" Jawab bi Sumi.


" Tapi kenapa? Apa bedanya aku sama dia? Dan lihatlah, bahkan bapak membawa Mira ke kamarnya disaat ibu gak ada." 


" Jangan ikut campur, sudah ayo kembali tidur."


" Termasuk mereka tidur bersama?" 

__ADS_1


" Jaga ucapan kamu Dila! Kamu gak mau kan kehilangan pekerjaan ini? Jika masih mau bekerja sebaiknya mulut dan perlakuan kamu di jaga, anggap saja tidak terjadi apa-apa, paham kamu!"


Bi Sumi memperingati Dila, wanita paruh baya itu bukannya tidak tahu tentang hubungan Mira dan tuanya hanya saja dia memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tahu mengenai apa yang terjadi karena suatu ancaman, terlebih lagi bi Sumi tidak mau ikut campur, biarlah mereka yang menjalani dan mau sampai kapan akan seperti itu bi Sumi tidak peduli karena tujuannya hanyalah bekerja, mendapatkan uang untuk keluarga.


__ADS_2