
" Bagaimana keadaan ibu kamu?"
Setelah istirahat beberapa saat untuk menghilangkan lelah dan keringat akibat pergulatan panas tadi, kini Aslan bangkit dari tempat tidur dia memakai kembali pakaiannya.
Sementara Mira masih terbaring lemah tak berdaya seakan tak sanggup lagi untuk berdiri, dia pun memiringkan badannya menghadap ke arah Aslan yang sedang memakai pakaiannya.
" Alhamdulillah sudah semakin membaik," jawab Mira senang, suasana hatinya tampak gembira entah karena habis bercinta dengan Aslan, atau karena mendapatkan tambahan uang? Atau mungkin karena majikannya itu bertanya mengenai keadaan kondisi ibunya saat ini. Entahlah yang pasti keadaan hatinya sangat baik, dia seakan ingin terbang senyum terukir itu seolah tak pernah pudar.
" Oh, syukurlah kalau begitu." Aslan telah selesai memakai pakaiannya kemudian dia memainkan hp sambil duduk di atas tempat tidur.
" Aku sudah mentransfer uangnya lebih dari biasanya, beli lah kebutuhan mu kalau masih kurang kamu bisa bilang padaku."
Aslan memberikan uang lebih dari tarif biasanya, mungkin sekarang ini laki-laki itu habis gajian sehingga bisa memberikannya kepada Mira. Aslan ingin wanita itu membeli sesuatu karena selama bersama dengannya Mira tak pernah membeli barang-barang sesuai kebutuhannya, bahkan untuk baju saja Aslan melihat sudah buruk bahkan warnanya sudah pudar sehingga Aslan merasa kasihan karena wanita itu selalu memikirkan ibunya, ibunya, dan ibunya tanpa peduli jika dirinya sendiri sangat membutuhkan kebutuhan lain.
__ADS_1
" Ah, terima kasih banyak Pak!" Mira berpikir jika pelayanannya cukup baik malam ini sehingga majikannya itu puas dengan dirinya, sebab karena itu tak segan-segan memberikan uang tips sebagai hadiahnya.
Aslan bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah pintu, namun sebelum membuka laki-laki itu membalikan badannya memandang Mira.
" Ada sesuatu yang ketinggalan?" Tanya Mira.
" Aah, engak ada …" Aslan kembali membalik badan lalu membuka pintu kamar. Akan tetapi dia belum bergerak berjalan kemudian menoleh kembali ke arah Mira.
" Jangan membuat masalah dengan Monica. Jika kamu memang kurang sehat jangan memaksakan untuk bekerja seperti diperintahkan olehnya, dia tidak akan bisa memecat kamu. Jika perlu berusaha lah untuk menghindar darinya."
Mira merona, dia menutupi wajahnya dengan selimut seakan malu sendiri.
" Astaga, pak Aslan sangat khawatir padaku, aaaah senengnya."
__ADS_1
Mira ingin menjerit kegirangan, dia ingin melompat sangking senang nya namun tubuhnya sangat lemah tak berdaya sehingga dia urungkan niatnya tersebut.
Keesokan paginya, sebelum subuh Mira sudah berpindah kamar yang pasti saat itu masih belum ada yang bangun sehingga dirinya bisa keluar dari kamar kosong menuju ke kamarnya tanpa harus waspada. Mira tampak sedikit kesulitan melangkah.
" Aaauw, perih." Rintis nya seketika berjalan, dia pun perlahan melangkah. Bagaimana tidak merasakan perih, Aslan seperti singa kelaparan saat menghabisi dirinya. Laki-laki itu minta lagi dan lagi, dengan ukuran yang besar dan panjang itu memasuki miliknya tentu terasa sakit dan perih seakan di robek-robek habis olehnya. Setelah berada di kamarnya Mira langsung saja mandi menyegarkan diri sebelum beraktivitas kembali.
" Wah-wah, ada yang habis mandi basah nie …"
Deg … jantung Mira berdetak saat sindiran dari Dila sangat menusuk itu. Apalagi melihat tampangnya yang seakan jijik pada dirinya.
" Namanya juga habis mandi, Mbak. Yo pasti basah lah," balas Mira pura-pura tidak mengerti maksud sindiran itu.
" Oh, iya ya. Hahahaha, pura-pura bego aja deh," kata Dila, kemudian wanita itu melewati Mira dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Mira terdiam, dia mendesah. Disini Mira yakin jika Dila mengetahui tentang hubungan dirinya dengan majikan mereka. Tentu Mira sangat takut, dia menjadi gelisah. Bagaimana jika Dila mengatakan pada Monica. Apa yang harus dia lakukan? Sambil melangkah pikiran Mira menjadi kacau, namun dia harus beraktivitas berpura-pura untuk tenang.
" Ck, dasar muka ular, kita liat saja mau sampai kapan dia bisa menyembunyikan kebusukan nya." Dila bergumam sinis menatap punggung Mira yang sudah menjauh.