Terjebak Gairah Majikan

Terjebak Gairah Majikan
bab 28


__ADS_3

Aslan terdiam, apa mungkin dirinya akan melakukan hal yang sama atau malah memberikan apapun yang diinginkan oleh Mira karena dia adalah wanita yang dia cintai?


Mira tersenyum miris melihat bungkamnya Aslan. Dia bangkit dari duduknya malas meladeninya karena sudah tahu jawabannya. Lebih baik dia fokus pada pemakaman ibunya saja dan setelah itu dia akan memulai kehidupan baru bersama anak semata wayangnya itu.


" Mira kamu mau kemana?" Aslan meraih pergelangan tangan Mira takut wanita itu akan menghilang lagi dari pandangannya.


Lagi -lagi Mira menghempaskan tangan Aslan kembali, rasa sakit hatinya lima tahun yang lalu masih belum sembuh. Jadi dia tidak ingin kembali membuka jahitan luka itu jika kembali berhubungan dengan laki-laki yang masih menjadi suami orang. Mira tidak ingin mengulang untuk kedua kalinya.


" Urus saja urusan anda sendiri, jangan pernah ganggu saya lagi." Dengan nada dingin dan wajah jutek Mira pergi tak menghiraukan Aslan yang begitu sedih.


Mira masuk ke ruangan mayat untuk kembali melihat ibunya untuk yang terakhir kalinya.


" Mira ..." Aslan ingin mengejar tetapi asistennya menghalangi.


" Tuan, sebaiknya anda membiarkan Nona sendiri dulu. Dia masih berduka, Tuan." Tentu tidak mudah mendapatkan hati setelah di gantung sstusnya. Dan tidak bertemu setelah sekian tahun. Mira bukanlah seperti wanita lain yang gampang untuk di rayu, apalagi hatinya masih dalam keadaan berduka.

__ADS_1


Aslan mengusap wajahnya kasar, apa yang di katakan oleh asistennya itu benar jika saat ini Mira masih berduka, pasti hatinya sangat sedih, tentu saja pikirannya menjadi kacau ditambah dengan kedatangannya, pasti Mira sangat terkejut dan kebingungan. Begitulah yang ada di pikirannya Aslan.


" Kau benar, sebaiknya aku tidak memaksa dia untuk kembali bersamaku hari ini." Sungguh bodoh sekali batin sang asisten yang bernama Tejo itu.


" Perlahan namun pasti Tuan, jangan terburu-buru nanti yang ada dia malah takut fan semakin menjauh." Sepertinya Aslan memang butuh penasehat cinta.


Aslan menghembus nama kasar. " Tapi jika terlalu lama justru dia akan menghilang," dengusnya takut jika Mira kembali menghilang bak di telan bumi.


Tejo geleng-geleng kepalanya, tuannya itu memang butuh ahli pakar cinta. " Sebaiknya kita bantu urus pemakaman mertua anda Tuan sebelum nona semakin membenci anda," ucapnya.


Setelah selesai jenazah dimakamkan, kini suasana kuburan sudah kembali sunyi. Orang-orang yang menghantar sudah kembali pulang dan kini hanya tinggal Mira yang masih menangisi kepergian ibunya diatas kubur. Sementara Aslan hanya bisa menenangkan, tak lupa dengan beberapa orang-orangnya dan juga Tejo tak ketinggalan. Sedangkan Arga di titipkan ke tetangga karena masih terlalu kecil jika di ajak.


" Mira, sudah ya. Pasti ibu tidak suka melihat kamu sedih seperti ini," kata Aslan mencoba untuk menenangkan. Dia mengusap punggung belakang Mira.


" Hiks, ibu, ibu kenapa pergi secepat ini. Bukannya ibu ingin melihat Arga tumbuh besar?" Mira tidak menghiraukan ucapan Aslan, dia masih saja dalam kesedihannya yang masih belum mengiklaskan kepergian sang ibu.

__ADS_1


" Allah lebih sayang sama ibu, sebab itulah mengapa ibu pergi dengan cepat agar tidak merasakan penderitaan lagi. Dia akan bahagia disana," sahut Aslan agar Mira mengerti. Kematian tidak ada yang tahu, entah itu tua maupun muda jika sang pencipta sudah berkehendak maka terjadilah. Karena baginya tidak ada yang tidak mungkin.


Masih larut dalam kesedihan, seseorang datang dengan nafas ngos-ngosan. Seorang laki-laki berpakaian kemeja kokoh putih dan celana hitam serta peci yang menutupi kepalanya. Laki-laki itu masih terlihat sangat muda dan tampan.


" Mira ..." Panggilannya. Mira yang di panggil pun mendongak.


" Mas." Mira berdiri menyambut kedatangan laki-laki itu. Aslan menyerngit, dia menatap tak suka pada laki-laki itu.


" Mas, ibu ..." Mira kembali menangis. Laki-laki itu langsung menggeleng dan menghapus air matanya.


" Aku minta maaf karena datang terlambat. Aku baru saja di beri kabar," sesalnya, dia berdiri tepat di hadapan Mira.


" Jangan sedih lagi ya, ibu pasti bakalan ikut sedih juga jika melihat kamu seperti ini. Dan lagi Arga pasti gak bakalan suka," ucapnya menenangkan.


" Hey, itukan kata-kata ku!" Gumam Aslan sambil mengepalkan tangannya. Tatapan matanya sangat tajam bahkan aura tak sukanya keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


" Duh gawat, persaingan cinta. Semakin runyam dah urusan!" Tejo tepok jidatnya.


__ADS_2