Terjebak Gairah Majikan

Terjebak Gairah Majikan
bab 13


__ADS_3

Tentu Dila sangat bersemangat sekali menelepon dokter kandungan, dia tidak sabar akan menyaksikan drama yang amat sangat menyenangkan nantinya. Dila yakin jika Mira benar-benar hamil dan sialnya itu adalah anak majikannya sendiri, karena dirinya tidak menyukai Mira tentu Dila akan senang hati menyingkirkan wanita itu setelah dia ditendang dan diusir dari rumah ini maka barulah ia bertindak untuk menggoda majikannya tersebut.


Dila sangat menginginkan majikannya dia ingin menguasai laki-laki itu dan menjadi Nyonya di rumah ini karena Dila merasa jika dirinyalah yang pantas bahkan jika dibandingkan dengan Monica. 


Sementara Mira hanya tertunduk diam dia tidak membantah apapun, dia hanya tertunduk lesu di lantai karena dirinya memang ternyata hamil atas perbuatannya sendiri hingga dia siap menerima apapun nantinya.


" Aku hanya bisa pasrah aku yakin Nyonya Monica pasti sangat marah sekali sama aku," batin Mira pasrah. Dia mendesah pelan dengan detak jantung perasaan was-was tubuh gemetar dan juga rasa mual itu kembali hingga membuatnya tidak tahan kemudian berlari menuju WC untuk memuntahkan isi dalam perutnya.


" Dasar pembantu tidak tahu diri, wanita murahan sialan berani-beraninya dia memasukkan laki-laki di rumahku," ucap Monica sangat kesal bagaimana bisa pembantu rumahnya hamil. Dia takut jika pembantu-pembantu lain akan mengikuti jejak Mira membawa laki-laki masuk ke rumah dan melakukan perbuatan senonoh yang akan membuat rumahnya menjadi sial.


Akan tetapi siapa laki-laki itu apa mungkin tukang kebun atau supir tapi, dan mungkin bisa jadi satpam. Namun Monica tidak terlalu ambil pusing, mau anak siapapun itu dia tidak peduli yang jelas jika terbukti merah hamil dia tidak akan mau menampung wanita itu di rumahnya apalagi dengan keadaan kondisi hamil diluar nikah. 


Tak lama kemudian terdengar suara bunyi klakson mobil, kemudian mau nikah memerintahkan Dila untuk menyambut kedatangan tamu tersebut yang ia yakini jika itu adalah dokter kandungan yang ditelepon tadi. 


" Cepat suruh dokter itu masuk," perintah Monica.


" Baik nyonya siap dilaksanakan." Dengan semangat 45 di Labora lari ke pintu utama dan mempersilahkan dokter kandungan tersebut masuk.


" Silakan masuk, Dok," ucapnya sok ramah sekali.


" Terima kasih." Kemudian Dokter wanita itu melangkah masuk seraya menenteng koper kecil bawaannya di dalam kubur kecil itu adalah perlengkapan alat-alat yang selalu dia bawa jika dipanggil ke rumah orang untuk memeriksa pasiennya. 


Dengan jalan yang sangat elegan Dokter wanita itu tersenyum melihat Monica.

__ADS_1


" Halo saya dokter Rani," dia memperkenalkan diri.


" Saya Monica, terima kasih sudah mau datang." Dokter wanita itu tersenyum ramah.


" Jadi siapa yang akan saya periksa, apa itu Nyonya?" Tanyanya kepada sang pemilik rumah.


" Oh tidak bukan saya tetapi pembantu saya tolong periksa dia," ucapnya dokter itupun manggut-manggut kemudian dia membuka kopernya dan mengambil alat tes urine.


" Jadi yang mana yang akan saya periksa?" Dokter Rani melihat beberapa pembantu namun dia tidak mengetahui siapa yang akan diperiksa.


" Di mana Mira? Cepat panggil dia sekarang," perintah Monica. Dia sendiri tidak melihat keberadaan Mira.


" Biar saya saja bu yang akan memanggilnya." Bergegas bila pergi ke belakang untuk memanggil Mira yang akan sebentar lagi tamat riwayatnya.


" Makanya jadi orang itu tahu diri, sok-sokan mau merayu suami orang segala terlebih lagi majikan sendiri. Ck emang lo itu seistimewa apa," sindir Dilla kemudian dia menabrak bahu Mira.


" Cepatlah Nyonya Monica sudah menunggumu dan selamat untuk detik-detik tamatnya riwayatmu," ujarnya kemudian lalu dia tersenyum menyaringnya kemudian pergi meninggalkan Mira yang terdiam.


Merah menghela nafas mungkin ini sudah saatnya dirinya pergi meninggalkan rumah ini di mana tempat dirinya mencari uang dan juga tempat pemuas nafsu majikannya tersebut sehingga dia bisa membiayai pengobatan ibunya selama 1 tahun dan untunglah dari bonus-bonus majikannya itu yang sering diberikan Mira tabung hingga dia ada sedikit tabungan untuk bekal dibawa pergi nanti.


Mira perlahan berjalan menuju ruang tamu yang sudah ramai itu dia melihat ada dokter cantik yang sudah duduk di sofa sedang menunggu kedatangannya.


" Mira cepetan jangan sampai bu dokter menunggumu," kata Dila tak sabaran lantaran Mira jalannya begitu lelet sekali melebihi kura-kura.

__ADS_1


Monica dan juga Bu dokteran menoleh ke arahnya Monica menatapnya sinis sementara dokter Rani menatapnya dengan senyuman. Mira kembali menghela nafasnya dia tidak peduli tatapan dari art lainnya terutama kepada Bu Sumi yang sudah selama ini begitu baik kepada dirinya Mira tersenyum seakan mengatakan maaf kepada Bu Sumi. Kemudian dia melewati mereka dan berjalan menuju sofa tersebut Mira duduk di lantai karena tidak mungkin bagi dirinya tunduk di sofa.


" Eh kenapa kamu duduk di bawah ayo duduk sini biar saya periksa dulu," ujar dokteranny yang sangat lembut sekali.


" Tidak apa-apa Bu biar saya duduk saja di sini bu dokter boleh langsung periksa saya," pasrahnya.


" Tapi di bawah sangat dingin Jika kamu beneran hamil tidak baik untuk janin ayo duduk di samping saya." 


Mira menoleh ke arah majikannya yang menatapnya sinis itu, kemudian Mira kembali menolak Dan dia menyerahkannya tangannya tanpa harus berpindah duduk lantaran melihat tatapan sinis Monica dia tidak ingin mengotori sofa mahal tersebut karena selama ini memang semua para RT tidak diizinkan duduk di sofa.


" Yasudah." Dokter Rani mengecek tensi darah Mira dulu.


" Kapan terakhir haid?" Tanya sambil melihat alat yang masih mengecek darahnya.


Mira mengingat kalau tidak salah dia terakhir haid bulan lalu. Kemudian dokter Rani menyuruh Mira untuk berbaring lantaran dirinya akan periksa di bagian perut.


" Apa boleh dia berbaring di sofa? Saya ingin memeriksa bagian perutnya." Dokter itu bertanya kepada Monica.


" Aduh nggak perlu repot-repot mau periksa di segala coba katakan saja apakah dia itu beneran hamil atau tidak?" Monica benar-benar tidak sabaran sekali yang ingin segera mengetahui apakah Mira mineral hamil atau tidak untuk pemeriksaan seperti itu menghabiskan waktu dirinya..


Dokter Rani tertegun dia tidak mengerti sebenarnya ada masalah apa, dia tidak bisa membantah apalagi bertanya. kemudian Dokter Rani mencari sesuatu di dalam kopernya lalu menyuruh Mira untuk tespek melalui tes urine agar semuanya lebih jelas untuk mengetahui apakah Mira beneran hamil atau tidak dan lebih cepat pas tentunya.


" Kamu pakai ini dan tolong baca secara petunjuknya setelah sudah selesai segera kasih ke saya," ucap dokteran nih dia merasa tersinggung dengan ucapan mau nikah yang menyuruhnya untuk memeriksa lebih cepat seakan pemeriksaannya lambat sekali.

__ADS_1


Mira mengangguk, kemudian dia mengambil alat tes tersebut dari tangan dokteran nih kemudian ia bergegas pergi ke WC untuk mengecek melalui tes urinenya. 


__ADS_2