
“Sebaiknya, kau mundur saja. Hati ku sudah menjadi milik orang lain” lirih Athena tanpa menoleh Ares yang saat ini berdiri tegap di hadapannya.
Duarrr….
Bagaikan gelas kaca yang pecah dan hancur tak tersisa seperti itulah penggambaran sakit hati Ares. Rahangnya seketika mengeras, emosi pun sepertinya sudah menguasai dirinya bahkan terlihat dari kilatan tatapan kedua mata elangnya.
“Tarik kata-katamu itu Athena” teriak Ares tepat di wajah Athena, sedangkan Athena hanya diam tidak ingin menjawab.
Ares menggeleng kepala kemudian “Tidak sepertinya aku salah mendengar, atau mungkin kau berbohong kan Athena. Itu hanya alibi mu saja supaya aku bisa berhenti memperjuangkan mu” ucap Ares berusaha mengelak bahwa apa yang di katakan Athena itu hanya kebohongan semata.
“Itulah kenyataannya, dan mungkin sekarang saatnya dirimu harus sadar diri” ketus Athena meninggalkan Ares yang diam mematung mencermati setiap kata-kata Athena barusan.
Seketika Ares murka, ia mengepalkan kedua tangannya “Jika memang aku tidak bisa memilikimu, maka manusia itu pun tidak bisa memilikimu. Aku pastikan itu, bahkan aku akan membunuhnya bila bisa” ucap Ares menggebu-gebu.
__ADS_1
Sontak Athena yang semula hanya diam dan enggan menjawab perkataan Ares di buat meradang dan terpancing emosi “Jangan melewati batasan mu dewa Ares” balas Athena dengan suara dingin.
“Haha haha kalau kau sendiri bisa melewati batasan, lalu kenapa aku tidak boleh. Kita lihat saja nanti” setelah mengucapkan itu Ares langsung merubah wujudnya menjadi burung hantu berwarna coklat kemudian terbang ke arah langit.
“Aresss kembali kau” teriaknya kesal bercampur gelisah. Ia sudah sangat hapal betul bagaimana jika Ares murka, dewa yang haus akan darah.
Athena seketika di buat khawatir bahkan mondar-mandir di balkon kamarnya, takut Arjuna akan kena imbas kemarahan dari Ares. Tapi memang sudah pasti Arjuna sasaran kemarahan dan kemurkaan Ares.
Tanpa di sadari nya, Arjuna telah menguping pembicaraan Athena dan Ares secara tidak sengaja. Arjuna terdiam mematung di depan kamar Athena yang tidak tertutup sempurna. Kedua tangannya mengepal. “Saingan ku rupanya berasal dari kalangan para dewa” batin Arjuna.
Arjuna sedikit pusing memikirkan itu, sehingga dirinya sejenak menepi menuju balkon kamarnya untuk mendapatkan angin sepoi-sepoi.
Ada sedikit rasa cemburu di hati Arjuna ketika mendengar obrolan Athena dan Ares. Ia takut kalau sebenarnya Athena juga memili perasaan yang sama terhadap Ares.
__ADS_1
“Siallll…. Kenapa jadi begini” desah Arjuna frustasi.
“Baru juga berjuang, sudah ada rival. Bahkan rivalnya dari kalangan dewa” gerutu Arjuna sembari menarik rambutnya ke belakang.
Tanpa di sadari nya, seekor burung merpati berwarna putih bertengger di pagar balkon kamar Arjuna.
Merpati tersebut hanya diam mendengarkan segala keluh kesah dari Arjuna, bahkan mendengar umpatan dari Arjuna pula.
Arjuna kemudian duduk dan mengeluarkan rokok beserta korek di saku celananya. Arjuna menikmati hisapan rokoknya dengan mata berkelana jauh. Ya, Arjuna saat ini sedang melamun di campur sedang berpikir keras agar Athena tetap bersamanya.
Hingga sorot matanya menangkap seekor burung merpati tengah menatap ke arahnya.
“Apa yang kau lihat, apa kau ingin merokok juga” ucap Arjuna asal pada burung tersebut.
__ADS_1
“Jika kau mengizinkannya, boleh saja” balas burung merpati itu.