
...*****...
...Malam ini, aku berada pada titik dimana rindu ku meluap menjadi bulir-bulir air yang tak bisa ku bendung sendiri....
...Wangimu membekas, sama seperti ingatan ini yang sulit untuk melepas....
...Sampai sini paham ya?...
...*****...
.
.
Setelah acara makan malam Athena dan Maza langsung bertolak ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatannya yang perlahan menurun setelah pertemuan pertamanya dengan Arjuna. Dokter pun menyarankan kepada Athena untuk membatasi konsumsi lemak dan sodium pada makanannya serta untuk tidak terlalu banyak pikiran. Karena itu bisa menyebabkan kondisi kesehatannya bisa menurun drastis.
.
.
.
“Za, jangan langsung pulang ya. Antar aku ke Katedral Gothic” ucap Athena yang tengah tak semangat duduk di belakang kemudi.
Maza meliriknya di pantulan kaca spion mobil, “Nona apa tidak sebaiknya saya mengantar Nona ke mansion saja untuk bisa istirahat. Kondisi Nona sedang menurun, sebaiknya di tunda saja pergi Katedral Gothic.”
“Aku menyuruhmu za, bukan meminta saranmu” ketus Athena langsung menatap tajam Maza di depan.
__ADS_1
Maza langsung menggigit bibirnya karena kelepasan bicara hingga membuat Athena kesal.
“Maaf Nona” cicit Maza takut kena amukan dari Athena.
Sementara perempuan berparas ayu itu sudah tidak menanggapi lagi. Pikirannya saat ini sedang berfokus pada seseorang yang berani membuatnya mengambil keputusan sejauh ini.
“Apakah ini akan berujung sia-sia” lirihnya seraya memegang jantungnya yang perlahan meluluh tidak sesakit tadi.
Di tengah mobil yang terus berjalan menuju katedral Gothic, Athena menatap sang rembulan malam yang tengah menyinari setiap malam yang gelap dengan cahaya teduh nan redup sejalan dengan awan hitam yang mulai menutupi cahayanya.
.
.
Setelah sampai di depan tempat tujuannya, Athena langsung keluar dari mobil meninggalkan Maza.
“Hiiii yang benar saja aku di tinggal sendiri. Sungguh beradab sekali dirinya” gerutu Maza yang di tinggal begitu saja.
“Tapi kenapa hawa katedral Gothic malam ini terasa berbeda ya” gumam Maza pada dirinya sendiri sembari memandangi katedral yang di datangi oleh Athena dari kejauhan.
“Gelap, misterius, mistis namun eksotis. Bangunan yang sangat cocok dengan kepribadian Nona Athena” ucap Maza menilai bangunan yang tengah berdiri menjulang tersebut.
.
.
Tak tak tak tak…
__ADS_1
Suara heels Athena sedikit menggema ketika kaki jenjangnya sedang berjalan menyusuri lorong kursi tempat ibadah di karenakan ruangannya yang cukup sepi dan hening. Sejenak kakinya berhenti memperhatikan sekitarnya namun sepertinya tidak ada sesuatu hal yang muncul.
Namun tak lama setelah itu, seekor burung merpati putih terbang bertengger di bahunya.
Athena langsung melirik merpati tersebut dan melemparkan senyumnya.
Hingga tak butuh waktu lama merpati yang bertengger di bahunya langsung berubah bentuk menjadi wujud manusia dengan perawakan pria tua dewasa yang selalu setia memegang petir di tangannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Zeus, raja dari para dewa.
“Apa kau merindukan tua bangka ini sayangku?” ucap Zeus pada putri kesayangannya seraya mengusap pucuk kepala Athena.
Athena hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan dari Zeus.
Melihat itu, Zeus hanya tersenyum tipis dan langsung bertanya perihal Athena menemuinya malam ini.
“Katakan apa yang membuatmu gelisah seperti ini. Apa karena anak muda itu lagi?” tebak Zeus sembari membaca air wajah dari Athena.
Athena langsung meremas kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.
“Kenapa dia menjadi berubah dan terkesan dingin padaku, aku tidak ingin seperti ini” keluh Athena.
“Lalu kau ingin bagaimana?” tanya Zeus to the point.
“Aku ingin dia seperti dulu. Itu permintaanku. Sekali ini saja. Ku mohon” pinta Athena pada Zeus dengan mata sendu.
.
.
__ADS_1
Continued💗😘