
"Jangan datang padaku jika pada akhirnya kau meninggalkanku, namun datanglah padaku dengan segenap kepercayaanmu bahwa aku akan selalu menjadi milikmu... Itu janjiku."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apakah, kau masih mencintaiku bang?"
Sesaat Sakti menghela napasnya, bagaimana mungkin pertanyaan itu ditujukan padanya. Tidakkah ia bisa melihat seberapa perjuangannya hampir selama dua tahun ini untuk menanti kedatangannya. Berharap akan kepulangannya, walau itu mustahil terwujud meski harus mengingkari kata keajaiban setiap harinya.
Bahkan Tuhan maha adil, selama ini doa yang dipanjatkannya terkabul. Dan kini sudah berada tepat di depannya, disampingnya. Lalu pantaskah pertanyaan itu tertuju padanya? Sementara selama ini kesetiaan tetap ia jaga segenap hatinya. Tidak bisakah dia sedikit, PEKA !
Dalam hati Sakti terkekeh, lagi-lagi tombak luka mengujinya. Perlahan Sakti menatap intens wajah teduh wanita yang paling di cintainya, mencoba menyalurkan segala rindu lewat tatapan matanya. Berharap ia dapat merasakan besarnya rindu yang lama tersimpan.
"Bang!, Maaf. Bukan maksudku mempertanyakan rasamu, aku hanya...
"Aku mengerti, pertanyaan mu tak salah sama sekali. Mungkin dalam hatimu belum yakin akanku, tak apa hal itu bukan masalah bagiku." Sakti menutup matanya sejenak, mencoba menguasai seluruh emosi dalam dirinya.
'Jangan datang padaku jika pada akhirnya kau meninggalkanku, namun datanglah padaku dengan segenap kepercayaanmu bahwa aku akan selalu menjadi milikmu... Itu janjiku.' ucap Sakti dalam hatinya.
Perlahan sakti membuka matanya, tatapan matanya mengunci ke dalam mata gadis yang di cintainya. "Win, Abang....
"Permisi mas, mbak, ini pesanannya. Silahkan dinikmati." Pelayan itu tersenyum ramah lalu meninggalkan meja Sakti.
'****!' maki Sakti dalam hati.
Ingin sekali Sakti mengumpat habis pelayan itu, beraninya menyela ucapannya. Tidak kah ia tahu, jika menyatakan perasaan diperlukan kekuatan mental. Huh!
Ehem!
"Minum dulu Win," ucap Sakti tenang, namun aslinya tengah menahan getaran di tubuhnya.
Winda menganggukkan kepalanya, "Terima kasih bang,"
"Hm."
Beberapa saat keheningan melanda, Sakti mencoba mengumpulkan kembali keberaniannya untuk menyatakan perasaannya.
Berulang kali Sakti mengontrol deru napasnya, sungguh ia benar-benar tengah gugup kali ini.
"Win..." Panggil Sakti.
__ADS_1
"Iya bang,"
"Tadi kau tanya Abang, apakah Abang masih mencintaimu apa tidak? Abang akan jujur padamu. Sebenarnya Abang sa....
"Bang Sakti?" Sela seorang wanita di samping Sakti.
'D*mn!' umpat Sakti untuk kedua kalinya dalam hati.
Kedua alis Winda mengerut, dalam benaknya bertanya siapa wanita itu.
Sementara Sakti menatap nyalang ke arah wanita yang kini berdiri disampingnya. "Norin," desisnya tak suka.
"Maaf bang, aku ganggu ya?" Tanya Norin dengan menampilkan muka polosnya di depan Sakti namun ekor matanya melirik Winda sinis sesekali.
"Banget !!," Teriak sakti keras namun didalam hatinya saja. Jika ia berteriak beneran bisa-bisa satu cafe menyiramnya dengan minuman masing-masing.
"Ada apa?" Ketusnya dengan nada tak suka.
"Boleh bergabung bang, aku lagi menunggu temanku." Cicit Norin dengan menundukkan wajahnya, jujur saja nyalinya menjadi ciut saat menatap ke arah Sakti dimana tatapan matanya siap untuk menggantung dirinya.
Sesaat Sakti menatap sekeliling, benar saja pengunjung sedang ramai sehingga meja cafe pun penuh terisi. Lalu tatapan Sakti mengarah ke Winda, seolah meminta persetujuan wanita itu.
Winda mengerti arti tatapan mata Sakti, namun haruskah ia mengijinkan wanita itu. Sementara yang di inginkan saat ini adalah berdua bersama Sakti menghabiskan waktunya. Pandangan Winda berganti menatap sekeliling, ternyata penuh. Baiklah, ia tak mau egois walau bagaimanapun ia seorang wanita.
Berbeda dengan Norin yang kini menyunggingkan senyum sinisnya diam-diam, ia pasti bisa merebut Sakti dari tangan wanita itu.
"Win, aku ke toilet bentar ya." Tanpa menunggu jawaban dari Winda, segera Sakti menuju toilet. Secepatnya ia harus menurunkan emosinya karena sudah dua kali gagal mengungkapkan perasaannya.
Di meja kini tertinggal Winda dan Norin, tentu saja hal ini tak akan di sia-siakan oleh Norin begitu saja. Tatapan tajam Norin tertuju pada Winda, ia tak terima jika orang yang di cintainya kembali pada orang yang telah menaruh luka selama ini.
"Kamu Winda kan?" Tanya Norin sinis.
"Kamu....
"Aku Norin, calon istri dari bang Sakti." Ucap Norin pongah mengenalkan dirinya sebagai calon istri dari Sakti.
Sontak hal itu membuat Winda terkejut bukan main, rupanya wanita dihadapannya ini adalah calon istri dari laki-laki yang sangat dicintainya sedari dulu.
"Aku...
__ADS_1
"Aku berharap kamu segera meninggalkan bang Sakti. Seperti kamu meninggalkannya tanpa kata saat itu, bahkan menghilang begitu saja. Ingat Winda, aku sekarang adalah calon istri bang sakti. Dan aku harap kamu tidak merusak hubungan kami." Sela Norin, ia tak akan memberikan kesempatan pada Winda untuk berbicara sepatah kata pun.
"Tapi...
"Maaf kalau aku egois, aku ingin kau tak menampakkan diri lagi dihadapan bang Sakti. Sama seperti saat kau menghilang selama ini. Aku mohon, jangan hancurkan kebahagiaan kami. Carilah kebahagiaan kamu sendiri." Tukas Norin begitu menusuk hati Winda.
Suara Winda tercekat seketika, benarkah ia sudah terlambat? Apakah ia sudah benar-benar kalah?. Air mata Winda menetes begitu saja, hancur sudah semua harapannya. Remuk sudah segala impian yang di dambakan bersama Sakti.
Norin yang melihat Winda menangis, tertawa dalam hatinya. Ia berharap setelah ini, Winda akan terpuruk dan pergi menghilang kembali dan takkan pernah lagi menemui Sakti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sakti yang baru kembali dari toilet sontak mengerutkan keningnya saat tak melihat Winda di tempat duduknya. Disana hanya terlihat Norin tengah menikmati minumannya seorang diri.
'Dimana Winda?' batinnya sembari mencari sosok Winda disekitar, namun tak menemukannya.
"Kemana dia?" Gumam Sakti sambil menuju meja yang di duduki Norin untuk bertanya keberadaan Winda.
"Winda mana?" Tanya Sakti to the point begitu sampai didepan Norin.
"Eh, bang Sakti. Nggak tahu bang, tadi aku lihat dia menerima telepon lalu pergi begitu saja." Bohong Norin tak lupa dengan senyum dustanya.
"Telepon?"
Norin menganggukkan kepalanya, "Iya bang, cuma nggak tahu dari siapa. Soalnya Winda nggak pamit waktu pergi, tapi aku sempet dengar suara laki-laki waktu Winda angkat teleponnya bang." Norin semakin membual, ia ingin Sakti setelah ini tak akan mencari Winda kembali. Sengaja ia membuat keduanya salah paham, agar keduanya tak lagi bersama.
'Jika aku tak bisa memiliki kamu bang, maka tak ada satu orangpun yang bisa miliki kamu.' seringai Winda ketika menatap wajah Sakti yang pias setelah mendengar ucapannya.
"Duduklah bang, minum dulu." Norin menarik tangan Sakti begitu saja tanpa menunggu jawabannya.
Sakti yang sedang dalam mode linglung, menurut saja tanpa membantah. Maklum kagak sadar ye bang Sakti nye ðŸ¤
Dibalik dinding pintu keluar, Winda yang menyaksikan hal tersebut sontak tersenyum kecut. Air matanya kembali menetes membasah kedua pipinya.
'Aku benar-benar sudah terlambat,' batinnya pilu. Lalu beranjak pergi meninggalkan cafe, ia butuh waktu sendiri tanpa gangguan apapun.
Sementara Sakti yang sudah tersadar, segera melemparkan tatapan mautnya ke arah Norin. Berani-beraninya menarik dirinya hingga duduk semeja dengannya. Mencari mati rupanya,
Sedangkan Norin yang ditatap sedemikian rupa oleh Sakti bukannya takut malah tersenyum manis. Ia bahkan tak menunjukkan wajah bersalah sama sekali, karena inilah harapannya yaitu memiliki Sakti seutuhnya.
__ADS_1
Terlalu muak melihat sikap Norin, tanpa kata Sakti bangkit dari duduknya lalu pergi berlalu begitu saja meninggalkan Norin. Ia tak perduli dengan Norin, yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah Winda. Siapa yang menghubunginya? Kemana ia sekarang? Berbagai tanda tanya berkecamuk kembali di dalam kepala Sakti.
"Aku tak akan melepas mu lagi Win, sekalipun aku harus mengejar mu ke ujung dunia." Gumam Sakti dengan rahang mengeras.