
"Katanya masa lalu itu di lupakan, tapi gimana mau lupa kalau ada makhluk yang hadir seperti pinang dibelah dua walau beda rupa."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, Aira sudah berdiri di depan rumah makan yang di katakan oleh Abian padanya kemarin. Dengan setelan kaos putih serta celana jins dan sepatu kets putih menjadi tampilannya saat ini. Tak lupa Aira juga menguncir kuda rambut hitamnya semakin menambah nilai imutnya. Wajahnya yang cantik dengan sapuan make up tipis membuat ia terlihat cantik dan segar seperti anak SMA.
Mata Aira memandang lekat ke arah plakat rumah makan itu. Alisnya mengerut kala membaca nama dari rumah makan yang ada di hadapannya. Dengan susah payah ia mencoba menahan tawanya kala membaca tulisan plakat itu.
"RUMAH MAKAN WAJIB SYUKUR"
Pftt,
"Hahaha," Aira tak mampu membendung tawanya lagi, ia sungguh merasa geli karena merasa nama itu cukup aneh. Namun jika di pikir-pikir lagi, pantas saja namanya aneh, yang punya aja juga aneh orangnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Abian turun lalu berjalan menuju rumah makannya. Saat melihat ada makhluk pendek yang tertawa terpingkal-pingkal di depan rumah makannya, Abian sontak berpikir jika ada orang gila yang hendak menyerang usahanya.
"Wah kagak bise di biarin nih." Gumam Abian lalu berjalan cepat menuju ke tempat orang gila itu berada. Semakin dekat alis Abian semakin berkerut, dengan mata memicing ia merasa mengenal orang itu.
Hingga Abian kini berdiri tepat disampingnya dan memastikan jika itu memang gadis pendek seperti tebakannya.
'Feeling seorang Abian memang tak pernah meleset, terbukti gadis pendek tukang rusuh ada di depan rumah makannya.' batinnya mendelik.
Tangan Abian bersedekap sebentar lalu berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah Aira yang masih berdiri dengan tawanya. Seperti Aira itu tak menyadari kedatangan Abian yang sudah melotot tajam ke arahnya dari samping.
Ehem !
Deg,
Tawa Aira hilang seketika saat menatap di sampingnya ada manusia cagak yang sudah mendelik tajam seperti kesurupan ke arahnya.
Tak hanya itu saja, manusia cagak itu kini tengah berkacak pinggang seolah siap menelannya bulat-bulat. Dan sialnya, manusia cagak yang ada di hadapannya ini adalah calon bosnya nanti. Ck,
"Hehehe, bos..." Cengir Aira.
Alis Abian terangkat sebelah, "Siapa bos kamu?"
Jari Aira menunjuk ke arah Abian, "Kan bos yang nyuruh aku untuk datang, pasti buat kerja di sini kan?" Aira memberikan senyum paksanya.
"Kagak useh senyum kalo kagak ikhlas!" Cibir Abian lalu melengos masuk ke dalam rumah makan di ikuti Aira dari belakang.
Nampak semua pegawai menyapa Abian setiap bertemu dan tentu saja, sebagai pemilik rumah makan yang terkenal ramah tidak sombong namun PEDE selangit membalas setiap sapaan pegawainya dengan senyum sejuta racun tawonnya. Tak hanya itu, Aira juga melihat banyak gadis cantik yang bekerja di rumah makan itu. Mulai dari yang asyem, kecut, manis, hingga legit dandanannya pun ada.
"Ck ck ck, mereka itu mau kerja apa sedang tanding tebal-tebalan muka." Cibir Aira pelan, namun terdengar oleh telinga Abian yang berjalan tak jauh darinya.
"Kalau iri bilang saja, tak perlu ngomongin di belakang. Lagian mereka cantik-cantik, tak seperti dirimu." Ejek Abian sambil melirik penampilan Aira sesaat lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
Merasa di remehkan, Aira yang tak terima mengikuti Abian dan masuk ke dalam ruangannya kemudian menutup pintunya keras dan rapat.
Brak!!
"Heh, bisa pelan tidak? Cewek kok tenaga Samson. Oh, pintuku kasihan kamu sayang," ucap Abian dramatis membuat Aira memutar bola matanya malas.
"Ojo lebay, piye aku arep kerjo opo ikie?" Sahut Aira lalu mendudukkan dirinya di atas sofa tanpa disuruh.
Mulut Abian mencibir kelakuan gadis pendek songong di hadapannya itu, lalu ikut duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Kalo ngomong pakai bahasa Indonesia, dan simpan bahasa planetmu itu." Ketus Abian.
"Ck, aku sekarang mau disuruh kerja apa?" Ucap Aira mengulang tak lupa dengan bibir yang sudah maju 5 centimeter.
Deg, deg, deg,,,,
Melihat keimutan gadis pendek di sampingnya itu, membuat usus Abian berdenyut. Apalagi bibir mungilnya yang sudah mengerucut lucu itu. Uh, ingin sekali Abian pagut habis hingga bengkak.
Eh,
Kepala Abian menggeleng seketika saat menyadari pikirannya. 'Dasar hati, apa yang kau pikirkan? Tak mungkin kan lelaki tampan seperti mu jatuh pada pesona gadis pendek yang hanya sebatas bahu mu itu.' batin Abian dengan kepala menggeleng.
"Kenapa dengan kepalamu? Gegar otak? Sini ku toyor biar hilang ingatan sekalian." Ucap Aira bercanda.
Hah?, sontak pikiran Abian kembali ditarik ke masa lalu.
Flashback on
"Kamu kenapa sih sayank geleng-geleng kepala terus, sakit? Sini ku sentil biar hilang ingatan nanti." Ucap seorang gadis bergaun putih itu dengan lembut.
"Maunya di elus sayank bukan di sentil, nanti kalau aku sakit gimana?" Rajuk Abian manja pada gadis bergaun putih itu yang tak lain adalah pacar pertama Abian saat SMA bernama Gladis.
"Jangan dong, aku kan nggak akan bisa selamanya buat mengelus kepala kamu. Aku kan harus pergi," ucapnya.
"Enggak kamu nggak boleh ninggalin aku, kamu harus selalu disamping aku, sayank." Ucap Abian mulai panik.
"Maaf ya sayank, bahagia ya sayank. I love you, bye Abian sayank-nya Gladis." Perlahan tubuh Gladis menghilang bak debu.
Flashback off
Plakkk !!!
Aira memegang dadanya lantaran terkejut mendengar teriakan Abian, hingga refleks jemarinya menampar pipi Abian begitu saja.
"Ops, sorry." Ucap Aira panik karena berhasil melabuhkan cap lima jari di pipi Abian, hingga membuat sang empu merasakan panas tiada terkira di pipi kanannya.
"A I R A... " Teriak Abian murka sembari memegang sebelah pipinya.
(Nah kan, ujungnya malah ingat mantan 😂.)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kini mata Abian terus memperhatikan setiap gerakan Aira kemanapun ia pergi. Entah itu yang mengelap meja, membersihkan lantai. Mengisi tisu atau tengah mencatat pesanan tamu yang datang untuk mengisi perut mereka.
Abian sendiri juga tidak mengerti dengan dirinya, kenapa ia sangat suka melihat Aira tanpa ia sadari. Bahkan kesalahan kecil yang dilakukan Aira seperti salah menaruh pesanan membuatnya tersenyum tanpa sadar.
Aneh memang,
Namun Abian juga menyadari, setiap melihat Aira membuat ingatannya kembali mengenang Gladis, cinta pertamanya.
Mungkin, secara rupa mereka berbeda dan tak sama. Hanya saja, sifat dan tingkah keduanya yang hampir mirip membuat dada Abian kembali berdesir.
"Katanya masa lalu itu di lupakan, tapi gimana mau lupa kalau ada makhluk yang hadir seperti pinang dibelah dua walau beda rupa." Gumam Abian kemudian memilih masuk ke dalam ruangannya saja. Bisa gila ia jika terus melihat Aira yang menyerupai mantannya itu.
Jam makan siang tiba, Aira memilih duduk di depan kipas angin guna mengusir rasa gerahnya.
__ADS_1
"Gila! Gerah banget." Umpat Aira pelan.
Salah satu teman baru Aira yang bernama Jeni menghampirinya, lalu mengatakan jika ia dipanggil Pak Abian ke ruangannya.
Dengan muka kesal Aira menuju ruangan manusia cagak yang menyebalkan menurutnya. Kakinya menjadi berjalan lambat seolah enggan masuk ke dalam ruangan itu yang baginya adalah tempat paling menakutkan.
Huh,
Tangan Aira terangkat untuk mengetuk pintu, namun nasib naas untuk Abian rupanya. Karena tangan Aira malah mengetuk wajah Abian yang tiba-tiba saja membuka pintu.
"Aoch," pekik Abian terkejut lantaran mukanya di getuk baja tingkat sepuluh.
"Ops, maaf-maaf Pak, aku sengaja." Ucap Aira panik melihat wajah tampan Abian bergeser apa tidak? Wkwkwkk.
"Apa?" Teriak Abian melotot.
"Eh, maksudnya tidak sengaja Pak. Lagian salah Pak Abian kenapa malah buka pintu coba." Ucap Aira kembali membela dirinya.
"Jadi kamu nyalahin aku?"
"Iyalah, kan salah sendiri. Ops," Aira cengar-cengir lalu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya tanda damai. "Peace Pak."
"Heh," dengus Abian lalu menyuruh Aira masuk lewat ekor matanya. Tanpa kata Aira masuk mengikuti Abian ke dalam ruangannya.
Tangan Abian memberi kode agar Aira duduk di sofa sampingnya dan Aira mengikuti kemauan bos menyebalkannya itu masih tanpa protes.
"Makan." Titah Abian menyodorkan sepiring makanan ke hadapan Aira.
"Hah?,
Kagak salah Pak? Tumben baik benar? Pak Abian nggak niat racuni makanan ini kan?" Tanya Aira terheran dengan sikap Abian.
Jangankan kamu Aira, othor sendiri juga bingung sama nih tingkah si Abian 🙄.
"Kalau niat racuni kamu, pasti dari awal sudah ku kirim kau jauh dari usahaku ini." Sinis Abian.
"Habis cuma satu piring ini, Pak." cicit Aira.
"Iya itu buat kamu sekaligus buat... Suapi aku lah."
Hah???
Ctak!!
Jari Abian menyentil kening Aira yang terus saja menguji mental serta emosinya.
"Di suruh bukan dilakuin malah, hah hoh hah hoh. Cepetan," titah Abian tak terbantahkan.
Mulai modus nih ye, 😂.
Di cengkeram erat sendok pada tangan Aira lantaran menahan kesal, sungguh jika di hadapannya ini bukan bosnya sudah sedari tadi Aira lempar ke dalam kolam ikan samping.
Aaarrghhhhh,
Jerit Aira dalam hati menahan kesal dan sesal bertemu makhluk menyebalkan di depannya ini.
__ADS_1