
"Mungkin aku memang bukan cinta pertama dalam hidupmu. Namun percayalah, rumahku akan menjadi tempat terakhir mu kembali pulang. Seperti... Hatiku."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mata Aira mendelik tajam menatap Abian yang duduk cengar-cengir di teras rumahnya. Manusia cagak satu ini memang benar-benar menyebalkan, membuat jantungnya naik darah saja. Sungguh apes kejadian hari ini menurut Aira, yang notabenenya menjadi calon istri dadakan serta calon istri paksaan dari calon ibu mertuanya. Hanya gara-gara Abian salah ucap menjadikan keadaan runyam seketika. Pokoknya Fix! Salah Abian, titik!!.
"Sudah, jangan melotot begitu. Sama calon suami itu yang sabar, nggak boleh marah-marah." Ucap Abian dengan mulut penuh... Makanan.
"Cih, sabar!" Umpat Aira pelan.
Yups, Abian malam-malam bertamu ke kontrakan Aira hanya untuk minta dibuatkan mie rebus plus bonus dua telur tak lupa segelas teh hangat. Bayangkan saja, demi mie rebus bela-belain gedor rumah orang. Padahal yang sebenarnya memang sedang... Modus.
"Di rumahmu tak ada art apa?" Tanya Aira judes menatap sebal ke arah Abian.
"Ada," jawabnya enteng.
"Lalu kenapa tidak minta dibuatkan sama art?"
"Beda rasa."
"Apanya?"
"Seleranya, karena seleraku hanya seleramu." Gombal Abian. Eaaaakkk.
"Heleh, gimbal."
"Gombal." Ralat Abian lalu memasukkan satu sendok penuh mie ke dalam mulutnya.
"Dasar buaya," cibir Aira menahan senyum di bibirnya.
"Buaya di kandang, aku di hatimu doang." Balas Abian semakin menggoda Aira.
Blush,
Sontak kedua pipi Aira merona, Abian tahu jika Aira tengah menahan malu lantaran gombalannya, memang pesona Abian luar binasa. Siapapun pasti kelepek-kelepek padanya kecuali sang... Ibu. Wkwkwk...
Pede nggak boleh ketinggalan!😂.
Tangan Abian meraih tisu untuk mengelap mulutnya usai melahap habis makanan serta meneguk habis minumannya. Lalu Abian melihat jam di pergelangan tangan kirinya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
'masih jam sembilan malam, kayaknya masih buka deh!' gumam Abian dalam hati.
Sementara Aira tengah membereskan bekas makan Abian dan mencucinya di dapur sebentar kemudian kembali lagi ke teras untuk mengusir Abian pergi dari kontrakannya. Jujur saja, malam ini ia ingin tidur nyenyak tanpa gangguan apapun.
__ADS_1
"Sudah kenyangkan?" Abian menganggukkan kepalanya.
"Pulang sana." Lanjut Aira mengusir begitu saja. Namun Abian justru menggelengkan kepalanya lantaran tak mau pulang, membuat otak Aira menjadi kesal seketika.
"Mau apalagi? Ini sudah malam, lebih baik kau pulang saja sana." Kesal Aira tak habis pikir dengan tingkah manusia cagak satu ini.
"Aku tak mau, sekarang kau kunci rumah keong mu ini lalu ikut aku ke suatu tempat." Ucap Abian memberi perintah.
"Ogah!! Mending aku tidur." Tolak Aira mentah-mentah perintah Abian. Enak saja, ia ingin tidur nyenyak malam ini. Cukup sudah tenaga pikirannya di kuras dengan kejadian cukup menyebalkan baginya.
"Beneran? Aku teriak nih. Aku panggil warga kampung kalo kau berniat cabul padaku hayo." Ancam Abian sambil menyilangkan kedua tangannya di dada seolah Aira berniat tak senonoh padanya.
Mata Aira memutar malas, lantas ia masuk ke dalam sangkar dan mengunci pintunya. Dalam hati Aira terus mengumpat dan mengucapkan sumpah serapah ke arah Abian, karena tak berhenti mengetuk rumahnya.
Mau tak mau, dengan jiwa kesal raga dongkol Aira membuka kembali pintu rumahnya.
"Apalagi sih?" Ucap Aira dengan mode kesal maksimal.
"Sini biar ku kunci, dan ikut aku. Hayook !!" Abian menarik tangan Aira keluar lalu ia beralih mengambil kunci rumah yang tertempel di balik pintu dan menguncinya.
"Ambil kuncimu ini," Abian melempar kuncinya begitu saja ke arah Aira yang menatapnya penuh damba hingga ingin menelannya bulat-bulat.
"Aku tahu aku tampan !!"
"Najis!!" Umpat Aira lalu masuk ke dalam mobil Abian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kening Aira mengerut kala mobil Abian terus melaju mengarah ke jalan yang tak Aira tahu sama sekali. Hingga beberapa saat mobil Abian berhenti di sebuah lapangan tempat di adakannya pasar malam.
Keduanya turun dari mobil kemudian jemari Abian meraih tangan Aira dan menggandengnya masuk ke dalam pasar malam. Awalnya Aira memberontak menolak dan mencoba melepaskan, namun dengan keteguhan jemari Abian yang menggenggam erat membuat Aira menyerah memberontak dan membiarkannya saja.
"Wow!!" Ucap Aira merasa takjub melihat besarnya kincir angin di hadapannya itu.
"Kau ingin naik?" Tanya Abian menebak, dan benar saja Aira menganggukkan kepalanya antusias.
"Baiklah, tunggu aku membeli tiketnya dulu." Aira menganggukkan kepalanya saja dengan mata masih fokus melihat ke arah kincir angin. Jemari Abian melepas genggaman tangannya dan berbalik menuju loket.
Tangan Abian meraih sebuah kotak di dalam saku celananya, lalu menatap kotak beludru berwarna biru itu.
"Kurasa ini waktu yang tepat untuk melamarnya dengan romantis." Gumam Abian lalu segera membeli tiket tak lupa menuju penjaga kincir angin untuk membuat sedikit surprise di malam lamarannya yang sudah ia rancang sedemikian rupa walau dengan modal minta... Saran.
Ditangan Abian sudah ada dua tiket untuk naik ke atas kincir angin, langkah Abian mendekat ke arah Aira yang tengah memperhatikan sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa? Ayo naik, aku sudah membeli tiketnya." Ujar Abian namun tak di hiraukan oleh Aira lantaran sibuk menatap ke arah kerumunan yang sedang berkumpul mengerubungi sesuatu.
Tiba-tiba tangan Aira menarik tangan Abian untuk mendekat, dan melupakan acara naik kincir anginnya.
"Eh, eh, lho lho... Kemana kita? Tak jadi naik kipas angin?" Tanya Abian kebingungan karena tangannya ditarik-tarik.
"Tidak!,"
"Dan itu bukan kipas angin tapi kincir angin." Lanjut Aira membenarkan.
"Kau ini mau lihat apa sih?"
"Diam lah nanti juga tahu."
Hingga semua yang berkumpul membentuk lingkaran dan duduk, begitupun Aira dan juga Abian.
"Ini pertunjukan apa?" Bisik Abian bertanya-tanya.
"Topeng monyet."
Dalam hati Abian mengumpat, gara-gara topeng monyet acara lamaran romantisnya di kincir angin menjadi tertunda. Belum lagi, tadi ia sudah mengintruksikan masinis penjaga kincir angin.
'Asyem tenan,' umpat Abian dalam hati.
Hampir setengah jam pertunjukan topeng monyet berlangsung, disaat itulah Abian terus menggerutu dalam hatinya lantaran lamarannya tertunda cukup lama. Begitu pertunjukan berakhir, Abian sontak berdiri dan berbalik menatap ke arah kincir angin yang sudah padam tak beroperasi. Tak ingin kehabisan akal, Abian berlari ke tengah lingkaran tempat topeng monyet tadi beraksi.
"Tunggu!!" Abian menghentikan semua orang yang hendak membubarkan diri. Abian ingin mereka semua menjadi saksi lamaran dari seorang Abian kepada Aira.
"Ehem, pertama-tama saya mohon saudari bernama Aira Saskia untuk maju kedepan."
Sontak semua orang saling pandang dan mencari keberadaan orang bernama Aira Saskia itu. Sedangkan Aira sudah menutup mukanya menahan malu dengan aksi Abian. Entah apa yang akan di lakukannya kali ini.
Tubuh Aira tak bergeming, ia masih berdiri di tempat hingga Abian berjalan ke arahnya lalu menarik tubuhnya keluar dari barisan orang-orang yang akan menjadi saksi malam ini.
"Kamu ngapain sih?" Bisik Aira ketus.
"Membahagiakanmu."
Abian mengeluarkan kotak beludru dalam kantong celananya kemudian berlutut di depan Aira.
"Ra,
Mungkin aku memang bukan cinta pertama dalam hidupmu. Namun percayalah, rumahku akan menjadi tempat terakhir mu kembali pulang. Seperti... Hatiku."
__ADS_1
"Will you marry me?" lanjutnya.
"Aku.....