TERKASIH

TERKASIH
S2 - ABIAN DAN AIRA : Rencana Pesta Pernikahan.


__ADS_3

"Dalam hidup mas hanya akan menikah sekali, karena bagi mas cukup satu yang halal untuk mas. Tak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak, hanya kamu yang akan mas tuju dalam setiap doa mas."


...----------------...


Seminggu berlalu....


Di atas sofa ruang tamu Abian tengah merebahkan tubuhnya yang entah mengapa mulai terasa meriang sejak pagi tadi. Perutnya terasa mual dan kepalanya sedikit pusing, ia merasa tubuhnya sedikit panas. Sepertinya ia tengah menderita penyakit masuk angin akibat sering begadang setiap malam.


Bagaimana tidak, jika sudah menyelam pantang baginya untuk naik ke daratan, ibarat kata nanggung jadi tancap saja walau jam dinding sudah menunjukkan waktu tengah malam kala itu.


"Uhh, pusing sekali kepalaku." Ucap Abian sambil memijit pelan kepalanya.


"Kayaknya bakal sembuh kalau buka ronde deh," lanjutnya.


Plak!


Sita yang sudah ada di samping Abian sontak memukul bahu anaknya itu sambil berkacak pinggang. Mata Sita menatap tajam ke arah putra tengilnya yang sudah membuat menantunya kelelahan setiap malam.


"Kau ini, setiap malam sudah gempur istrimu masih saja kurang." Omel Sita.


"Namanya juga pengantin baru, bu. Kan sering gempur biar tanam saham kecebongnya cepat hasil." Ucap Abian membela diri.


"Dasar kau ini, lihatlah sekarang menantuku susah jalannya bahkan hampir tidak bisa bangun karena ulah ular derik mu itu."


"Bukannya itu pertanda kalau ular ku ini tiada tanding bu, ini demi masa depan lho." Ucap Abian tengil.


"Masa depan, masa depan, tapi ya harus tahu diri juga."


"Iya iya bu, nanti pasti aku kurangin nggak lagi. Tapi... Cuma seronde aja kurangnya." Cengir Abian tanpa dosa.


"Stres,"


Sungguh Sita tak habis pikir dengan anaknya itu, keturunan siapa coba kok tengilnya minta ampun begitu.


"Oh ya, pesta resepsi kamu gimana?" Tanya Sita dengan meraih remote tv di atas meja.

__ADS_1


"Udah ada rencana bu, minggu depan. Lagian nunggu Aira enakan dulu badannya." Jawab Abian beranjak duduk.


"Makanya jangan gempur muluk," cibir Sita.


"Terus rencana mau di adakan dimana? Persiapannya udah belum?"


"Insyaallah di hotel tempat di karung resepsi dulu bu. Udah konfir juga, udah boking dua hari kemarin. Buat undangan dan catering makanan juga udah. Tinggal... Bajunya yang belum." Jelas Abian.


"Perlu bantuan ibu nggak?"


"Ibu tinggal hadir saja, sekalian undang beberapa orang yang ingin ibu undang nanti. Lagian genk joker ngenes sudah cukup membantu."


"Ya sudah jika begitu, sana ke istri kamu. Ibu mau nonton sinetron, jangan di ganggu." Usir Sita.


Abian memutar bola matanya, selalu saja ibunya itu lebih sayang sinetron ikan gelepar dibandingkan mengobrol dengannya.


'Huh, kalah saing sama sinetron, awas aja itu tv ntar ya. Stop kontak mati ntar malam,' umpat Abian dalam hati.


Kemudian Abian beranjak menuju kamarnya untuk melihat istrinya yang katanya tepar akibat sering main gobak sodor dengannya.


Ceklek...


Aira yang baru keluar dari kamar mandi sontak menoleh ke arah pintu dan mendapati suaminya disana. Kening Aira mengerut kala melihat ke arah jam di dinding yang masih menunjukkan pukul sembilan pagi namun suaminya sudah ada di rumah.


"Mas pulang? Apakah tak enak badan." Tanya Aira menatap khawatir ke arah Abian.


"Iya sayank, badan mas nggak enak. Coba pegang," Abian berjalan menuju ke arah Aira yang hanya memakai lilitan handuk di tubuhnya karena usai mandi.


Telapak tangan Aira memegang kening Abian, ternyata benar sedikit panas. "Kamu demam mas, sini kamu tiduran aja." Aira menarik tangan Abian menuju ranjang lalu merebahkannya.


"Mas istirahat dulu, Aira akan ambilkan air buat kompres setelah selesai ganti baju." Lanjutnya sebelum beranjak menuju lemari untuk mengambil pakaian namun di hentikan oleh Abian.


"Sayank, yang demam bukan cuma tubuh mas. Coba cek yang ini," tangan Abian yang sudah menggenggam tangan Aira sontak mengarahkan ke arah bawah tubuhnya yang sudah mengembang.


Mata Aira membulatkan matanya melihat kelakuan suaminya itu, bagaimana bisa disaat sakit masih bisa berpikir tentang... Jatah.

__ADS_1


Apa suaminya itu tak memiliki rasa lelah, sedangkan dirinya saja sudah sangat kelelahan bahkan hampir tak bisa bangkit dari ranjang.


Gyut...


Jemari Aira mencubit pinggang Abian sambil melotot, "Huh, rupanya suamiku tersayang sudah sembuh. Kalau begitu aku tak perlu khawatir kembali." Ucap Aira ketus.


Abian yang tengah meringis kesakitan sontak mengusap pinggangnya, dan menatap kedua mata Aira dengan lembut.


"Aku itu nggak akan pernah bosan kalau menyangkut tentang kamu sayank. Bahkan jika ular derikku mengembang itu hanya padamu, itulah bukti bahwa cuma kamu yang bisa membangkitkan gairah bercinta seorang Abian."


Kini Abian merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar ke headboard tempat tidurnya.


"Sayank, mas sudah menyiapkan pesta pernikahan kita. Insyaallah jika tak ada halangan minggu depan akan terlaksana,"


Tangan abian menarik Aira ke dalam pelukannya, "Mas tak sabar melihatmu tampil anggun bak putri dongeng nanti dan mas akan menjadi pangeran paling beruntung karena mendapatkanmu." Tutur Abian membuat pipi Aira merona malu.


"Terima kasih mas, seharusnya tanpa pesta pun aku tak apa. Yang terpenting aku sudah sah menjadi istrimu,"


Dan juga... akulah yang sangat beruntung karena memilikimu dalam hidupku. Berjanjilah padaku bahwa hanya aku yang akan menjadi satu-satunya dalam hidupmu. Tiada celah bagi wanita lain, apapun itu alasannya." Pinta Aira yang mendongak menatap ke arah kedua mata Abian tanpa melepas pelukan.


"Tentu saja, mas tak akan berjanji karena itu... Tak mungkin terjadi." Abian mengecup kening Aira lembut.


"Dalam hidup mas hanya akan menikah sekali, karena bagi mas cukup satu yang halal untuk mas. Tak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak, hanya kamu yang akan mas tuju dalam setiap doa mas." Lanjut Abian begitu melepas ciuman di kening Aira.


Mata Aira berkaca-kaca lalu memeluk erat tubuh Abian, suami yang begitu sempurna di matanya. Bahkan suami yang hebat, mau menerimanya apapun kekurangan dan kelebihannya tanpa bertanya.


"I love you, mas Abian ku." Ucap Aira serak di sela tangisnya dalam dekapan hangat dada Abian.


"I love you too my wife, forever and ever." Balas Abian sambil memeluk erat tubuh istrinya kembali.


Pip... Pip... Pip...


Sinyal bahaya terdeteksi dalam otak cemerlang Abian, segara Abian melepas pelukan Aira darinya. Lalu tatapan matanya menatap ke bawah, disana sudah ada yang mengembang bahkan bergerak-gerak minta untuk dieksekusi.


"Sayank, ularnya minta di cekik."

__ADS_1


Apa?!


__ADS_2