
"Jika tak bisa membujuk dengan cara halus, maka ajian sakti mandraguna milik Rojak yang akan turun tangan."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Biarkan aku berjuang !!" Ucap Sakti tegas meyakinkan keduanya.
"Kau yakin?" Ledek Melly membuat sakti menelan ludahnya susah payah. Apa benar jika calon ayah mertuanya se... Arrghh. Bahkan Sakti pun tak sanggup untuk menjabarkannya. Belum juga maju sudah merinding ngeri tubuhnya.
Melihat reaksi Sakti membuat Winda menatap iba, satu tangannya menggenggam tangan Sakti erat. Sontak sang empu menoleh menatap hangat ke arah pujaan hatinya.
"Kita akan berjuang bersama." Ucap Winda cukup menenangkan kegalauan Sakti.
"Terima kasih." Kata Sakti tulus. Setidaknya dengan berdua, semuanya terasa lebih mudah walau masih sebatas... ANGAN !!
Lagipula sekeras-kerasnya batu bila di tetes air akan terkikis juga? Namun versi Sakti berbeda, menggunakan tetesan air akan terasa lama. Jika perlu guyur dengan satu ember air setiap harinya, pasti cepat luluh. Pikir Sakti konyol.
Jujur saja, keberanian Sakti masih diujung kelingking. Hanya saja, tekad kuat Sakti untuk memiliki Winda sudah bulat. Cukup hampir 2 tahun ia sudah kehilangan Winda, kali ini biar kata badai menghadang datang ia rela. Sangat rela jika harus berguru kepada senior yakni Babe Rojak tercinta. Walau harus siksaan fisik ia terima, demi perjuangan cinta ia akan penuh semangat menjalani meski harus... Nyangkul kebon!.
Urusan bujuk membujuk atau rayu merayu, Babe Rojak ahlinya. Buktinya Nyak Munah berhasil dipersunting oleh Babenya dari Aki Salman, ayah Nyak-nya yang terkenal galak dan garangnya melebihi Nini Hannah, ibu Nyak Munah.
"Baiklah, saya mohon pamit dulu Tante. Saya akan bicara dengan Babe, untuk menyiapkan strategi membujuk calon ayah mertua agar mengeluarkan titah restu nanti." Pamit Sakti pada Melly.
"Pulanglah, jika kau tak kembali maka cemen sekali nyalimu anak muda." Ejek Melly sengaja untuk membakar semangat dalam diri Sakti.
"Pasti Tante." Jawab Sakti mantap, lalu beralih menatap Winda.
"Abang pulang dulu, tenangkan hati. Yakinlah Abang pasti datang." Ucap Sakti menyakinkan Winda.
"Winda akan selalu menunggu kedatangan Abang."
Sakti mengendarai mobilnya pulang dengan segera, saat ini dalam pikirannya harus cepat bertemu dengan Babenya. Sesaat Sakti mulai menerka tentang ayah Winda, selama ini ia hanya sebatas mendengar nama saja. Seperti apa orangnya? Apakah lebih garang dari Aki Salman yakni kakeknya. Uh, belum apa-apa rasanya sudah lemas kedua kakinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Assalamualaikum," salam Sakti begitu masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah nampak sepi sekali, kemana Babe dan Nyak-nya.
__ADS_1
Halaman belakang rumah menjadi tempat pertama untuk Sakti datangi, tetap saja nihil. Tak ada batang hidung Babe serta Nyak-nya. Sakti beralih ke dapur, ke samping rumah, tetap saja sama.
'Main petak umpet dimane sih, kagak tahu lagi genting ape.' dumel Sakti karena tak berhasil menemukan kedua orangtuanya.
Dengan kesal Sakti menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu lalu menelungkup menyembunyikan wajahnya ke dalam bantal sofa. Kemudian...
Semenit...
Dua menit...
Tiga menit...
Tak ada tanda-tanda Sakti merubah posisinya, tiba-tiba saja terdengar suara mengejutkan.
'Ngrookkhhh !!'
Suara napas teratur tak lupa melodi irama nyaring keluar dari mulut Sakti menandakan sang empu tengah tertidur lelap.
Babe Rojak dan Nyak Munah masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Keduanya baru saja pulang dari rumah sakit menjenguk encing Romlah. Syukur luka pada kepala encing Romlah tidak parah, sehingga besok sudah diperbolehkan pulang.
Andai dia tak menitipkan Norin kepada adik istrinya, maka semua tak akan seperti ini jadinya. Nasi sudah menjadi bubur, semua tak dapat disesali kembali. Mungkin nanti setelah encing Romlah pulang dari rumah sakit, ia akan segera membawa Norin ke kota dan akan memanggilkan psikiater untuk menangani Norin.
Di ruang tamu Babe Rojak dan Nyak Munah melongo mendengar suara sapi yang sangat nyaring dari atas sofa. Apalagi jika bukan suara dengkuran Sakti,
"Astaghfirullah bang, aye baru tahu kalo anak aye tidurnye macam keb* begini." Ucap Nyak Munah tak percaya.
"Iye Mun, mane kenceng banget suara ngoroknye. Untung hati gue aman kagak terkejut." Ucap Babe Rojak sambil mengelus dada.
"Yang terkejut bukannye jantung bang?"
"Eh, ude pindah. Bukan hati lagi?" Tanya balik Babe Rojak dengan muka sok polosnya.
"Bukan beh, tapi di jidat!" Sahut Sakti yang terbangun dari tidurnya karena suara berisik kedua orangtuanya. Setelah mengumpulkan nyawanya, Sakti merubah posisinya menjadi duduk dan menatap Babe Rojak dan Nyak Munah bergantian.
"Darimae sih Nyak, beh?" Tanya Sakti sambil menguap.
__ADS_1
"Dari tengokin encing Romlah, gimane tadi ketemu same Winda nye?" Tanya balik Nyak Munah lantaran penasaran melihat muka lecek anaknya itu. Pasti ada ape-ape nih, tuh muka kusut banget kayak jemuran si Takiman. Batin Nyak Munah.
(Takiman itu duda tua, yang hobinya nyuci baju tiap hari ya guys. Tetangga depan rumah Nyak Munah sama Babe Rojak)ðŸ¤
"Oh! Lancar Nyak...
"Alhamdulillah..." Sahut Nyak Munah memotong ucapan Sakti.
"Awalnya....
"Hah? Gimane? Gimane? Ya Allah, cerita yang bener jangan separuh-separuh nape." Sewot Nyak Munah.
Nah kan, nah kan, belum juga Sakti selesai ngomong main nyerocos ini Nyak satu. Sementara Babe Rojak tengah duduk menyimak sambil memakan camilan di atas meja.
"Jadi Nyak.....
Akhirnya Sakti menceritakan segalanya tanpa di tutupi, membuat Nyak Munah yang mendengar sontak menganggukkan kepalanya. Babe Rojak? Tentu saja terdiam tengah memikirkan solusi untuk putranya satu itu.
"Aye mesti begimane Nyak, beh?" Tanya Sakti bercerita.
"Tanye aje ame Babe lue, die pan paling berpengalaman begituan." Jawab Nyak Munah lalu beranjak pergi ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
"Tenang aje,
Jika tak bisa membujuk dengan cara halus, maka ajian sakti mandraguna milik Rojak yang akan turun tangan." Ucap Babe Rojak jumawa.
Tentu saja Sakti tersenyum sumringah mendengar penuturan Babenya. "Beneran beh?"
"Bener, asal... Bantuin panen jengkol lusa dan kagak ade penolakan." Cetus Babe Rojak lalu ikut masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Sakti terpaku sendirian.
'NASIB!'
"Kenape mesti kebon lagi sih, demi cinte aye rela deh. Walau berbumbu kepakse dan berarome ade maunye." gerutu Sakti kemudian beranjak dari sofa menuju dapur mencari makan.
Ingat motto hidup Sakti, "Semakin kesal harus semakin banyak makannya! karena kesal juga butuh tenaga."
__ADS_1
Wkwkwk, ngakak othor lihat kelakuan Abang satu ini, 😂.