
"Sebagai calon ayah yang hebat tak harus kau bersikap ketat dan keras untuk mendidik putra putrimu nanti. Cukup ajari cara bersikap tegas namun berwibawa, bukan tegas tapi angkuh. Ingat!! wibawa dan angkuh adalah dua hal yang berbeda."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam ruangan Abian menatap cemas ke arah Aira yang tengah di periksa oleh seorang dokter wanita yang bernama Amy. Bahkan tubuh Abian tak bisa di ajak duduk tenang, sesekali ia bangkit lalu berjalan mondar-mandir sambil melihat Aira yang masih belum sadarkan diri juga.
"Dokter, kenapa istriku masih belum sadar juga? Sakit apa dia? Apakah parah? Haruskah kita melakukan operasi?" Tanya Abian membombardir dokter Amy dengan banyak pertanyaan usai menyelesaikan pemeriksaan.
Bukannya marah justru dokter Amy tengah tersenyum menatap ke arah Abian, kemudian mengajaknya duduk di mejanya.
"Begini pak, ibu Aira tidak sakit apapun. Justru ini kabar baik untuk bapak, karena...
"Gimana sih dok, istri saya sakit terus saya harus senang begitu. Kabar baik apanya, istri saya bahkan belum sadar. Dokter ini jangan ngajak gelud saya ya, saya tak akan tertarik." Sela Abian gusar hingga membuat ucapannya ngelantur.
Dalam hati dokter Amy cukup kesal mendengar ucapan Abian,
Dasar bocah gendeng, siapa juga yang mau sama kamu. Orang suami saya gantengnya nggak ketulungan, bule lagi. Umpat dokter Amy dalam hati namun bibirnya tetap tersenyum.
"Biarkan saya menyelesaikan ucapan saya dulu ya pak,"
"Langsung ke intinya saja lah dok, saya ribet, ruwet, mumet kalau mesti pakai acara berputar-putar bicaranya." Sela Abian kembali membuat asap di kepala dokter Amy mulai menguap.
"Baik pak, mohon maaf sebelumnya. Daripada saya capek jelasin namun bapak sela terus, mending saya rekomendasikan langsung bapak dan istri untuk mendatangi poli kandungan. Disana bapak bisa bertanya secara langsung kepada dokter Novie alasan istri anda pingsan." Ujar dokter Amy kesal menghadapi kecerewetan Abian.
"Begitu dong dari tadi, masak saya ngamuk dulu baru ngerti." Ucap Abian menyebalkan membuat dokter Amy tersenyum malas.
Fix, kalau datang lagi ini orang mesti di tolak. Bikin sakit otak!!. Umpat dokter Amy mencibir Abian dalam hati.
Senyum Abian tak henti-hentinya mengembang saat dokter Novie menunjukkan titik hitam di dalam perut istrinya. Ukurannya masih sangat kecil, namun Abian cukup antusias kala melihatnya.
Berulang kali ponsel Abian berdering namun ia abaikan, karena ia tahu kalau yang menghubunginya adalah sang ibu.
"Jadi itu anak saya kan dokter?" Tanya Abian kesekian kalinya kepada dokter Novie.
Sungguh Abian tak menyangka jika ia akan menjadi seorang papi secepat ini. Namun inilah yang di inginkannya sejak menikahi Aira, dan rupanya yang maha kuasa mendengarkan segala pinta dan doanya.
Tak hanya itu, berkali-kali Abian mengucap syukur dalam hatinya bahkan tanpa malu ia bersujud saat dokter Novie mengatakan jika istrinya itu tengah hamil dengan usia dua minggu.
"Benar ini calon bakal anak bapak nanti," dokter Novie terus menggerakkan alat di atas perut Aira dan mendapati satu titik lagi di belakang titik itu walau sempat tertutup sedikit tadinya.
"Sepertinya, bayi bapak ini kembar. Lihatnya titik satunya tengah bersembunyi di balik titik yang depan ini." Dokter Novie membesarkan gambar sedikit lalu menunjukkannya pada Abian.
Mata Abian berkaca-kaca lalu segera menciumi wajah Aira yang kini mulai sadar perlahan.
"Mas," lirihnya.
"Sayank kami hamil, kamu hamil anak kita. Lihatlah kita akan mempunyai anak kembar nanti." Ucap Abian lalu menunjuk ke arah layar USG.
"Aku hamil mas," mata Aira berembun dengan suara lirihnya menatap ke arah layar.
__ADS_1
Usai melakukan pemeriksaan, Abian membawa Aira pulang ke rumah. Abian menggendong Aira dengan hati-hati keluar dari mobil setelah sampai dan memarkirkan mobilnya kembali ke bagasi.
Abian tak mengijinkan Aira berjalan kaki, dengan berdalih jika ia akan kecapekan nanti. Dan Abian tak mau hal itu terjadi pada istri mungil dan galak kesayangannya itu.
"Mas, aku bisa jalan sendiri lho." Ucap Aira lirih sambil malu-malu.
"Tidak, mas lebih suka menggendong seperti ini. Ingat! Ada si kembar yang tak boleh kelelahan." Jawab Abian.
Semua orang menyambut dengan suka cita kehamilan kembar Aira, terutama Sita yang tak melepas menantunya itu barang sedetikpun. Sita memonopoli Aira dengannya sendiri dan mengabaikan Abian, yang jelas-jelas putranya.
Tak ingin menganggu acara mertua dan menantu dalam mode gibah, Abian memutuskan ke halaman belakang dengan membawa ponselnya.
Pikir Abian, inilah saatnya pamer kebahagiaan di grup joker ngenes. Biar yang joker makin ngenes, wkwkwk...
Memikirkan saja membuat Abian tertawa geli membayangkan bagaimana ekspresi yang lainnya nanti jika ia memiliki kecebong kembar.
Abian mengetik di dalam grup, "1... 2... 3... Siaga dahaga sebelum panas menyerang jiwa...!!"
{Bilang aja sariawan, susah amat.} Ketik Bima.
"Biar elegan dikit lah." Balas Abian.
{Kode siaga, si panu tak terdeteksi.} Ketik Sakti.
"Si panu lagi ngurus si jelly." Ketik Bima.
{Apaan? Buruan!! Gue lagi main bilyard.} Balas Sakti menyebalkan.
{Tahu lah, orang si jelly jadi tetangga resek samping rumah gue,
Ude hasil belum suhu?} Tanya Bima.
{Ude, cuma satu kecebong. Tapi syukur alhamdulilah, anugerah.} Jawab Sakti.
"Oh, kok gue baru tahu si jelly pindah. Alhamdulillah bang, turut bahagia. Bini aye juga lagi isi, kembar lagi." Ketik Abian.
{Alhamdulillah kalo gitu, jadi kesampaian kita bakal punya kecebong barengan. Nggak nyangke tokcer juga itu oli punye lue, langsung due.} balas Sakti.
"Iye alhamdulilah bang, aye kagak nyangke. Due sekaligus,"
1 detik...
2 detik...
3 detik...
Tak ada balasan membuat Abian mengumpat pelan lantaran kesal di tinggalkan begitu saja on grup sendirian.
"Gue di tinggalin nih, beneran??" ketik Abian.
__ADS_1
Namun tak ada satupun yang membalas, sontak Abian mematikan Internetnya lantaran kesal dan sebal.
Asyem bener dah, umpat Abian lalu mengantongi ponselnya dan masuk kembali ke dalam rumah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam itu Babe Rojak datang ke rumah Sakti bersama Nyak Munah sambil membawa mangga muda pesanan Winda yang nampaknya sedang mengidam.
Winda yang melihat kedua mertuanya datang sontak senang, itu artinya pesanannya juga datang.
"Assalamualaikum," ucap Babe Rojak dan Nyak Munah bersamaan.
"Waalaikum salam," jawab Winda yang sudah nyelonong duluan ke depan menyambut kedua mertuanya. Winda menyalami keduanya terlebih dahulu, setelah itu baru mengajak masuk.
"Win, ini mangge lue mau Nyak taruh mane?" Tanya Nyak Munah dengan menunjukkan sekantong mangga muda.
"Ke dapur yuk Nyak," ajak Winda.
Nyak Munah mengikuti langkah Winda ke dapur, "Ini mau Nyak kupas sekalian kagak?"
Senyum Winda makin merekah, dengan penuh semangat ia mengangguk. "Mau Nyak,"
"Iye ude, duduk dulu. Nyak bikinin minum Babe dulu ye," Winda hanya mengangguk saja sambil memperhatikan yang Nyak Munah lakukan.
Di ruang tamu, kini Babe Rojak dan Sakti tengah mengobrol berdua.
"Sak, gimane kandungan si Winda?" Tanya Babe Rojak menatap ke arah Sakti.
"Alhamdulillah baik beh, ngidam juge kagak aneh-aneh amat. Jadi aye kagak terlalu kerepotan, cume...
"Cume ape?" Sela Babe Rojak.
"Posesif amat beh, baperan juge." Bisik Sakti pelan takut nyonya naga mendengar dan ngereog di tempat, bisa berabe ini mah.
"Wajar pan lagi hamil,
"Sak, Babe cume bise kasih nasihat aje. Babe harap lue ntar bise terapin ke anak lue." Ujar Babe Rojak.
"Iye beh,"
"Sebagai calon ayah yang hebat tak harus kau bersikap ketat dan keras untuk mendidik putra putrimu nanti. Cukup ajari cara bersikap tegas namun berwibawa, bukan tegas tapi angkuh. Ingat!! wibawa dan angkuh adalah dua hal yang berbeda." Ucap Babe Rojak.
"Iye beh, insyaallah ntar aye terapin ke anak-anak aye nanti." Jawab Sakti.
"Bagus, Babe harap begitu. lue bise lihat kakak lue Setya dan adek lue, Ririn. Keduanye tumbuh menjadi anak bertanggung jawab begitupun lue. Babe cume pengen hidup kalian akur antara anak same orang tuanye."
"Iye beh, terima kasih beh." Ucap Sakti tulus.
"Same-same," Babe Rojak menepuk pundak Sakti.
__ADS_1