TERKASIH

TERKASIH
Biarkan Aku Berjuang !!


__ADS_3

"Aku memang bukan orang kaya, dimana harta melimpah menjadi junjungan. Namun aku seorang dermawan, dimana hati dan setia cintaku menjadi panutan dalam hidupku."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kini Sakti tengah berdiri di depan pagar rumah Winda. Dengan seribu langkah pasti serta keyakinan diri, Sakti mendatangi satpam yang menjaga rumah tersebut.


"Assalamualaikum, Pak." Sakti mengucapkan salam kepada satpam yang bernama Karyo, dilihat dari name tag seragamnya.


"Waalaikum salam, ada yang bisa di bantu Pak?" Tanya Pak Karyo dengan ramah.


'What? Pak? Manggil gue Pak gitu? Fix! Matanya minus ini orang.' gerutu Sakti dalam hati.


"Saya mau bertemu yang punya rumah ini, bisa Pak?" Ucap Sakti tak kalah ramah bahkan dengan senyum menawannya hingga kering pula giginya.


"Kalau tuan besar masih di luar negeri, kalau Nyonya besar baru aja berangkat ke salonnya. Nah terakhir Non Winda tuan, entah mengapa sikapnya aneh sejak pulang dari Paris. Bahkan kemarin, non Winda pulang dengan keadaan kacau sekali." Papar Pak Karyo begitu saja.


DEG !!


'Winda...' lirihnya dalam hati.


"Kebetulan saya mencari yang bernama Winda Pak, bisa saya bertemu dengannya?" Ijin Sakti pada satpam botak mengkilat yang bernama Karyo ini.


"Kalau boleh tahu, bapak ini ada keperluan apa mencari non Winda ya?" Selidik Pak Karyo.


"Saya jasa pengirim bunga Pak, tadi ada yang memesan bunga untuk nona di alamat ini. Dan maaf, saya harus menyampaikan langsung pak kepada beliau." Jelas Sakti walau harus berbumbu ngibul dikit.


Sontak Pak Karyo mengangguk lalu membuka gerbang, "Silahkan masuk Pak, saya panggilkan dulu baliau." Pamit Pak Karyo melenggang pergi meninggalkan Sakti yang tengah mengambil buket bunga mawar putih di dalam mobil.


Tak lama Pak Karyo keluar lalu menganggukkan kepalanya sebentar saat berpapasan dengan Sakti.


Sakti melihat dekorasi ruang tamu rumah Winda, keningnya mengerut seketika saat melihat keanehan disana. Mengapa tak ada satupun foto keluarga mereka? dalam benak Sakti bertanya-tanya.


Selang beberapa menit, terdengar langkah kaki menuruni tangga. Tentu hal itu mengalihkan pandangan Sakti untuk menuju ke arah sumber suara.


Melihat Winda dengan balutan dress sederhana berwarna putih selutut, membuat Sakti terpanah untuk tak menatapnya. Dalam hati Sakti memuji kecantikan Winda tanpa polesan make up itu, terlihat lebih alami.


'Jantung tahu diri ye, inget! Perang belon mulai. Kejer-kejer nanti aje di waktu yang tepat bukan di waktu yang saleh.' batin Sakti.

__ADS_1


Langkah Sakti mendekat ke arah Winda, lalu menyerahkan bunganya.


Winda bergeming, tatapan matanya masih mengunci ke arah mata Sakti. Ia cukup terkejut saat melihat Sakti ada dihadapannya kini. Bukankah dia sudah memiliki calon istri? Lalu apa yang tengah dilakukannya disini.


Tatapan Winda beralih ke arah buket bunga di tangan Sakti, buket mawar putih favoritnya. Rupanya Sakti masih mengingatnya dengan baik apa yang menjadi kesukaannya.


"Ambil Win, ini buat kamu." Ucap Sakti menyadarkan Winda karena tak kunjung meraih buket bunga yang ia sodorkan.


"Ah,, maaf. Terima kasih bang." Balas Winda tak lupa senyuman manisnya. "Ada yang bisa Winda bantu bang?" Lanjutnya.


"Bisa kita bicara?"


Winda mengangguk, lalu mengajak Sakti ke arah taman belakang rumahnya. Winda memilih duduk di sebuah ayunan, dan Sakti mengikutinya bahkan kini duduk disebelah Winda.


"Abang sudah tahu apa yang terjadi di cafe waktu itu. Dan Abang sudah tahu semua, entah omong kosong darimana yang tengah dikatakan Norin padamu. Namun yang jelas, Abang bukan calon suami siapapun. Abang hanya akan menjadi calon suami mu nanti. Itu janji abang padamu." Ucap Sakti tegas.


"Namun saat itu, Norin mengatakan dengan jelas bang." Suara Winda tercekat, kembali mengingat setiap kata yang keluar dari mulut Norin.


"Percayalah pada Abang, setia ini hanya milikmu. Bahkan hampir dua tahun kamu meninggalkan Abang dengan semua tanda tanya. Apa Abang mencari pengganti mu?"


Winda menggelengkan kepalanya kuat, "Maaf," air mata winda meluncur seketika. Sakti memejamkan matanya sesaat, lalu melihat Winda tengah memainkan bunga pemberiannya dengan sesekali menghirup aromanya walau dalam keadaan menangis.


"Kita mulai dari awal ya, Abang nggak mau kehilangan kamu lagi. Segera mungkin Abang akan melamar mu." Ucap Sakti penuh tekad.


"Iya bang, berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan diriku bang." Pinta Winda dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah Sakti.


"Tidak dan tak akan pernah. Pegang janji Abang, akan Abang buktikan semuanya."


"Terimakasih bang, I love you." Ucap Winda semakin mengeratkan pelukannya.


"Love you too baby." Jawab Sakti membalas pelukan erat Winda.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi, kamu kurir bunga yang dibilang satpam rumah saya?" Sinis Melly menatap tajam ke arah Sakti.


Hari ini ia terpaksa pulang cepat dari salonnya, lantaran Pak Karyo, satpam rumahnya menelpon dan mengatakan jika ada kurir bunga datang ke rumah mengantarkan bunga untuk Winda.

__ADS_1


Namun sudah hampir satu jam kurir itu didalam tak kunjung juga keluar, karena takut terjadi apa-apa pada Winda akhirnya Pak Karyo menelpon sang Nyonya, yakni Melly untuk segera pulang.


Dan disinilah Melly saat ini, menginterogasi Sakti secara langsung.


"Iya Tante, saya Sakti." Jawab Sakti tenang.


"Mau apa kamu? Darimana kamu tahu alamat rumah ini?" Tanya Melly ketus.


"Saya datang menemui Winda dan hendak izin kepada Tante untuk melamar Winda. Tante tidak perlu tahu darimana saya tahu alamat rumah ini, karena cinta tulus saya lah yang menuntun langkah kaki saya sampai di sini." Jawab Sakti tegas.


"Cih! Punya apa kamu mau melamar anak saya? Saya nggak mau anak saya susah jika menikah sama kamu nanti." Cibir Melly mencoba merendahkan harga diri Sakti.


"Ma..." Tegur Winda, namun mendapat pelototan tajam dari Melly.


"Sejak kapan kamu ingat semuanya? Dan kamu... Lancang sekali kamu Winda, beraninya kamu mencari lelaki itu." Tatapan tajam beralih menghunus ke arah Winda, putrinya. Sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah sakti.


"Ma, Winda...


"Tante tak perlu menyalahkan Winda ataupun mendesak Winda untuk mengatakan apapun,


Aku memang bukan orang kaya, dimana harta melimpah menjadi junjungan. Namun aku seorang dermawan, dimana hati dan setia cintaku menjadi panutan dalam hidupku." Sela Sakti tegas menatap tajam kembali ke arah Melly. Orang sombong perlu di sentil ginjalnya biar paham dan sadar.


"Hahaha..." Melly tertawa mendengar penuturan Sakti. Apa katanya tadi? Cinta dan setia? Dasar bucin, batin Melly.


"Kamu pikir anakku akan kenyang makan cinta, hah?" Ledek Melly sinis.


"Ma, aku mencintai bang Sakti bagaimanapun keadaannya. Aku mohon ma, restui kami." Sahut Winda dengan tatapan sedihnya memohon ke arah Melly.


Huft,


Melly menghembuskan kasar napasnya, lalu menatap keduanya bergantian. "Sudahlah, akting sadis capek juga ternyata." Sontak ucapan Melly membuat Sakti dan Winda melongo tak percaya. Mereka dikerjai ternyata, fix! kena PRANK !!.


"Sebenarnya Mama merestui kalian, tapi... Ujian rintangan dan tantangan ada pada Papanya Winda.


Kamu pasti sudah tahu seperti apa tabiat Papa mu itu kan Win? Bahkan Papa mu juga yang memisahkan kalian selama ini." Jelas Melly membuat Winda menundukkan kepalanya seketika. Yah, Winda tahu seperti apa Papa nya itu. Papa nya sangat keras kepala, bahkan malam itu ia bertengkar hebat dengannya.


"Mama sengaja membawa mu pergi dari Paris karena Mama mau kamu mengejar kebahagiaan kamu nak. Setiap hari melihat mu melamun seorang diri di taman membuat hati Mama sakit. Mama akui, walau kamu lupa ingatan namun cintamu tak pernah hilang untuknya. Hanya ini yang bisa Mama lakukan untuk kalian..." ujar Melly menatap ke arah Winda dan Sakti bergantian.

__ADS_1


"Biarkan aku berjuang !!" Ucap Sakti tegas meyakinkan keduanya.


__ADS_2