
"Jodoh dan kematian itu sudah ada yang mengatur, jalani saja apa yang ada di depan mata. Karena bahagia cukup sederhana... syukuri saja, masih bisa bernafas di dunia."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari telah berganti tanpa terasa, kini Sakti tengah sarapan bersama kedua orang tuanya. Menu sarapan hari ini pun terbilang cukup istimewa, selain masi goreng teri yang tersedia di meja makan. Rupanya Nyak Munah membuat sambal bajak teri juga sebagai pelengkapnya. Ternyata cabe yang di dapat Nyak Munah dari encing Romlah langsung tereksekusi saat itu juga.
Usai menyelesaikan makannya, Sakti berpamitan kepada Babe Rojak serta Nyak Munah sembari menyalaminya. "Be, Nyak, aye pamit berangkat dulu ye."
"Iye, ati-ati ntar kalo bawa motornye. Kagak usah ngebut, inget! lu belon kawin." nasihat Nyak Munah pada Sakti memang tiada duanya.
"Iye-iye Nyak, ngapa mesti bawa kawin-kawinan segale sih." kesal Sakti mendengar ucapan Nyak Munah.
"Nih anak, dasar badung. Lu udah bangkotan kasak, mending cepetan nyari bini sono." Dumel Nyak Munah melihat kelakuan putranya itu.
"Nyak.... Jodoh dan kematian itu sudah ada yang mengatur, jalani saja apa yang ada di depan mata. Karena bahagia cukup sederhana... syukuri saja, masih bisa bernafas di dunia." ucap Sakti bijak.
"Tumben WARAS." sahut Babe Rojak terbahak-bahak.
"Iye bang, tumben bener ye." imbuh Nyak Munah menggoda anak badungnya itu.
Sedangkan Sakti hanya mencebikkan bibirnya saja, lalu pergi berangkat bekerja meninggalkan Nyak dan Babenya yang masih tertawa terbahak-bahak.
'Nyak berharap lu selalu bahagia, Sak.' gumam Nyak Munah dalam hati saat punggung Sakti tak terlihat lagi.
"Maleh ngelamun, ayok kite ngamar Mun. Mumpung ude sepi nih," goda Babe Rojak yang minta jatah.
"Pa'an sih bang, masih pagi juge." sebal Nyak Munah melihat kelakuan genit suaminya itu.
"Emang nape kalo pagi, Abang ude kagak tahan nih. Liat deh, ude keringet dingin Abang,"
"Abang masuk angin?"
"Iye lah ape lagi, tadi subuh habis sholat langsung ke kebon singkong buat alirin aer bentar. Dah yok, kerokin" ucap Babe Rojak.
Demi apapun, Nyak Munah malu sekali karena salah mengira. Dikira Babe Rojak minta jatah beliung namun nyatanya minta jatah kerokan di badannya. Huft,
"Iye deh, yuk bang."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ceklek...
Sakti memasuki ruangan divisinya, karena masih terbilang pagi terlihat ruangan itu masih sepi. Sakti berjalan menuju kursinya lalu mulai mengerjakan semua pekerjaannya, kini Sakti bertekad akan bekerja lebih keras lagi agar lebih sukses lagi kedepannya.
Tak lama salah satu teman Sakti datang, dengan wajah kusut mendudukkan tubuhnya di depan meja Sakti. "Pagi bener," ucapnya.
"Hm, biar cepet selesaikan tugas. Tumben lu dah di sini Cak?" tanya Sakti pada temannya yang bernama Cakra.
"Daripada di rumah di omeli sama Mak muluk, mending berangkat ke kantor lah." jawab Cakra sembari menguap.
"Anjir, bau jigong woy. Tutupin napa itu mulut." sebal Sakti.
"Mata lu, udah gosok gigi gue. Kagak percaya nih, Aahhhh...." dengan jahil, Cakra sengaja membuang bau nafasnya di depan Sakti.
"Huekkk, bau pete njir. lu habis makan apaan dah." ucap Sakti sambil menutup mulutnya.
"Semur jengkol lah." jawab Cakra tanpa dosa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bandara Soekarno Hatta...
Seorang gadis berjalan keluar dari area bandara bersama ibunya, mata gadis itu takjub bahkan hatinya berbunga-bunga seketika namun entah apa alasannya. Hampir dua tahun berada di negeri orang, kini dia berada disini.
'Aku pulang,' gumam gadis itu, yang tak lain adalah Winda.
"Kau bahagia sayang?" tanya Mama Melly yang duduk di samping putrinya di dalam mobil menuju mansion.
"Apa kita berasal dari sini ma?" tanya Winda tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Iya." jawab Mama Melly sedikit ragu. Winda hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar jawaban dari Mama-nya. Jujur saja, Melly sendiri sedikit ragu untuk mengajak putri semata wayangnya itu kembali ke tanah air. Namun hal itu harus ia lakukan mengingat putrinya kini tengah mengalami amnesia akibat kecelakaan dan itu cukup menyiksanya disaat melihat putrinya sering melamun seorang diri.
Hal itu pula yang membuat Melly takut jika kejiwaan putrinya akan terganggu, walau ia harus bertengkar hebat dengan suaminya karena membawa paksa pulang ke tanah air. Melly memang jarang berada di mansion dan memperhatikan keadaan putrinya, karena Melly memiliki alasan mengapa ia berbuat demikian. Namun lambat laun ia mulai menyadari sikap egoisnya sebagai seorang ibu hingga membuat putri satu-satunya menderita secara mental perlahan.
'Mama harap dengan pulangnya kamu ke tanah air akan membuatmu mengingat segalanya, nak. Sekaligus menebus segala kesalahan Mama selama ini.' gumamnya.
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi Winda dan Mama Melly sampai di mansion. Suasana mansion nampak sepi, mengingat hampir dua tahun mereka pergi meninggalkan semuanya dan mulai hidup di Paris. Walau demikian, tetap ada art yang datang setiap seminggu sekali untuk membersihkan tempat itu.
Akibat kelelahan, Melly segera masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat setelah mengantar Winda beristirahat ke dalam kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam menjelang begitu indah sembari di temani oleh cahaya bulan, membuat siapa saja yang melihat akan terlena dalam sekejap. Seperti pemuda satu ini yang tak lain adalah Sakti. Usai pulang bekerja, Sakti yang awalnya berniat pulang ke rumah justru membatalkan niatnya saat pandangan matanya terpukau menatap banyak taburan bintang di langit.
'Indahnya... sungguh nikmat manalagi yang engkau dusta kan.' ucap Sakti lirih dengan menapaki setiap jalan menggunakan motor sportnya membelah jalanan dalam keheningan.
Terkadang dalam diam Sakti masih terbayang sosok paras gadis yang mampu mengusiknya dikala itu. Bohong jika ia berkata akan melupakannya, sementara hatinya saja menolak mentah-mentah untuk membuang namanya. Jika dipikir lagi, apakah ini cinta buta? atau bahkan cinta gila? entahlah, yang ia tahu bahwa kehilangannya telah menghancurkan sebagian mimpinya dan juga dirinya.
Memang berat disaat hati tengah memilih, namun takdir tak menghendaki. Bahkan takdir itu pula yang mempermainkan langkah dirinya, andai ia bisa pergi tentu raga yang lelah itu akan dengan senang hati tinggalkan dunia penuh fatamorgana. Sekali lagi, takdir memiliki rencana tersendiri bagi setiap hambanya. Karena hal itulah menjadikan ketegaran dan kepasrahan dari seorang Sakti Surojak menjalani nasibnya.
"Ya allah, hamba terima segala perintah-Mu. Hamba ikhlas menjalani segala petunjuk-Mu. Dan hamba tak akan menanyakan seperti apa diri hamba di masa lalu ataupun di masa depan. Namun jika hamba boleh memohon, tolong satukan hamba dengan cinta hamba kembali dan jangan di pisah kembali. Sungguh berat ya Allah, hamba tak kuat menahan.... "ucap Sakti lantang hingga tak lama terdengar sahutan Guntur seketika, seolah pertanda dan ikut menyetujuinya.
"Masya Allah, kenceng banget itu guntur. Untung kagak jantungan aye, hati masih aman tak terkejut dan mengucapkan kata latah." ucap Sakti lalu meminggirkan motornya ke tepi jalan saat merasakan ponselnya terus bergetar di saku celananya. Untung saja getarannya tak membuat si saju bangkit dari tidurnya.
'Babe?' kening Sakti mengernyit. "Perasaan aye kagak enak nih," gumamnya namun tetap mengangkat panggilan dari Babe Rojak.
"Assalamualaikum, iye beh. Kenape beh?" tanya Sakti.
'Waalaikum salam, lagi dimane?" tanya Babe Rojak balik.
"Di jalan beh, otw pulang."
'Kebetulan, mampir bentar ke warung nasi goreng langganan Babe. Ambil pesenan Babe,'
"Iye beh, ude itu aje pan." tanya Sakti kembali untuk memastikan.
'Iye. Ye ude cepetan ambil.' sergah Babe Rojak.
"Iye iye beh, assala....
'Jan lupe bayarin sekalian. Waalaikum salam.' Babe Rojak sontak mematikan sepihak panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Sakti. Karena Babe Rojak paham betul pasti Sakti kini nampak mixsuh-mixsuh tak jelas mengingat telah ia kerjai.
Benar saja, kini mulut Sakti tak berhenti komat-kamit mengingat kelakuan Babe-nya satu itu. "Kebiasaan banget sih si Babe, kagak kire-kire ngerjainnye." dengan mencebikkan bibirnya kesal, Sakti menuju tempat penjual nasi goreng langganan Babe Rojak di dekat komplek depan gang rumahnya.
__ADS_1