
"Aku tak pernah sedikitpun menyesal memilih mu apalagi hidup bersamamu. Bagiku, miskin ataupun kaya bukan acuan dalam rumah tangga. Cukup dengan sama-sama cinta, insyaallah anugerah terindahnya melindungi kita."
...----------------...
Mata Aira mengerjap, kepalanya sedikit pusing kala merasakan sakit di tengkuk lehernya. Dengan perlahan Aira mendudukkan tubuhnya sembari menatap sekelilingnya. Kening Aira mengerut menatap tempat asing dihadapannya kini.
"Aku neng ngendi toh? Iki kamar wek'e sopo?" Gumam Aira sambil turun dari ranjang.
"Lho lho lho, sik sik. Iki kok gawe kebaya, jarikan pisan." Tangan Aira beralih ke atas kepala. "Lho enek konde pisan, duh." Aira berlari menuju cermin disamping sebuah pintu dan melihat penampilannya.
"Astaghfirullah, kok ayu tenan aku iki." Puji Aira pada dirinya sendiri saat melihat cantiknya penampakannya di depan cermin. "Tapi kok koyo wong kawinan toh yo," lanjutnya.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka menampilkan Abian dengan wajah tanpa dosanya karena berhasil menculik dan menikahi wanita pendeknya.
"Selamat datang istriku yang cantik." Ucapnya sambil tersenyum lebar memperlihatkan giginya.
"Hah? Istri matamu? Kapan nikahnya?" Umpat Aira sambil berkacak pinggang.
"Lihat ini!" Abian berjalan menuju laci sebelah ranjang kemudian mengeluarkan buku nikah keduanya. "Kita sudah sah, sudah jadi suami istri. Jadi.... Yuk kelon."
"Apa????" Teriak Aira.
Flashback on
Bruk...
Tubuh Aira tergeletak didepan ruangan, kala Ibnu memukul tengkuk lehernya dan segera membawa masuk ke dalam. Usai menyerahkan Aira kepada Tantenya Sita, Ibnu keluar ruangan sambil merapikan jasnya.
"Mission completed." Gumamnya lalu beranjak pergi menuju ruangan sebelah.
Didalam ruangan, Aira tengah di rias sebelum berganti pakaian dengan kebaya putih yang sudah ada di atas ranjang pasien rumah sakit.
"Mbak, make up-nya cepetan dikit ya. Takut calon mantu saya bangun terus ngereog ntar." Ujar Sita mengundang kekehan yang lainnya kala menyamakan calon menantunya dengan kuda lumping.
"Baik bu," jawab sang perias lalu melanjutkan riasannya.
Hampir setengah jam akhirnya Aira selesai di rias, usai mengganti baju kebaya kini Aira tengah di dorong di kursi roda menuju ruangan sebelah oleh Sita.
Di dalam ruangan itu nampak Abian gugup mencoba menetralkan deru napasnya.
"Ude, yakin aje. Inget namanye pan?" Tanya Babe Rojak melihat kegugupan keponakannya itu.
"Ingetlah Beh, kalau salah sebut pan berabe." Jawab Abian sedikit sewot.
"Gue ngingetin bocah," umpat Babe Rojak.
__ADS_1
" Iye Babe, matur nuhun."
"Cih."
Kini tangan Abian sudah menjabat tangan penghulu dan siap mengucapkan ijab kabul. Dengan lantunan bismillah, Abian mampu menjawab dengan satu tarikan napas secara lancar dan tegas.
"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu.
"Sah,"
"SAH..." peiki Sakti dengan hebohnya.
"Alhamdulillah...."
Flashback off
"What?" Aira menatap tak percaya ke arah pria di depannya kini yang telah berubah menjadi suaminya dalam sekejap mata. Ya tuhan, mimpi apa ia semalam sehingga kini berakhir menjadi seorang istri.
"Tunggu, jadi maksudnya kita nikah di rumah sakit gitu?" Abian menganggukkan kepalanya tanpa beban membuat Aira kesal setengah mati. Sudah di nikah paksa, eh nikahnya di rumah sakit lagi. Tunggu!!
Kalau di ingat-ingat lagi bukannya kata teman-teman kerjanya tadi Abian tengah kritis, ini kenapa orangnya sehat-sehat bahkan ngawinin anak orang.
"Omg,",
Plakkk!!
"Kok di pukul sih yank?" Rengek Abian.
"Bodo', diantara semua tempat kenapa mesti rumah sakit sih. Dan juga, kata anak-anak di rumah makan kau sedang kritis di rumah sakit? Kau bohong ya? Jadi ini jebakan?" Kesal Aira, nggak elit sekali begitu lho apalagi ia dengan mudahnya tertipu. Ingin rasanya Aira memukul kepala Abian namun sayang ia takut jika dianggap durhaka pada suaminya sendiri.
"Namanya juga jebakan betmen yank, tapi kan yang penting sah."
"Huh,"
"Sah, sah... Kau tahu tidak bagaimana reaksiku tadi? Aku lari lho dari rumah makan sampai rumah sakit. Mana aku belom ada sarapan, tahu-tahu sudah di suruh olahraga saja." ketus Aira.
Abian menarik jemari Aira lalu membawanya duduk di pinggir ranjang. Dengan lembut Abian mengecup punggung tangan Aira lalu beralih pada keningnya.
Sesaat Aira memejamkan matanya kala bibir lembut itu menempel di keningnya.
"Maaf, aku takut nanti di tolak kembali. Namun begitu aku tak menyesal dengan ini semua." jawab lembut Abian menatap kedua mata Aira.
"Kenapa memilihku? Apa kau tak menyesal bersamaku nantinya? Aku bukan orang berada bahkan orang tuaku..." Tanya Aira lirih saat keduanya saling menatap.
Senyum Abian mengembang,
"Aku tak pernah sedikitpun menyesal memilih mu apalagi hidup bersamamu. Bagiku, miskin ataupun kaya bukan acuan dalam rumah tangga. Cukup dengan sama-sama cinta, insyaallah anugerah terindahnya melindungi kita." Ucap Abian lembut lalu merengkuh tubuh mungil Aira.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menerima ku, jujur aku senang kau menikahi diriku. Setidaknya, aku tidak sendiri lagi." Aira membalas pelukan suaminya tak kalah erat, menikmati kehangatan tubuh yang mendekap erat dirinya itu.
Ting!!!
Tak lama Abian melepas pelukannya lalu menatap Aira intens,
"Kok kita nggak berantem sih? Harusnya kan kita gelud?" Ujar Abian merusak suasana haru tersebut.
Gyut...
Bisa-bisanya ini orang berpikir mesum, dengan gemas Aira mencubit pinggang Abian. Harus ya pakai tanya begitu? disaat seperti ini langsung unboxing kek malah banyak tanya. Kan Aira jadi malu, tak sabar ingin celup-celup. Eh,
"Auhhh, kok di cubit sih yank?" Abian mengusap pinggangnya yang baru saja di capit cinta oleh istrinya itu.
"Tau ahh nyebelin!!." Aira berlalu ke arah keluar kamar.
"Yank tunggu... Ada yang ketinggalan,"
Aira kembali membalikkan badannya menghadap Abian dengan alis terangkat sebelah. "Apa?" Tanyanya galak.
"Itu... Belek mata masih nempel."
Blush...
'Haduh isin-isini wae iki belek.' umpat Aira lalu segera berjalan menuju kamar mandi dengan muka memerah menahan malu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Usai makan malam, Abian dan Aira kini duduk di atas ranjang dengan guling sebagai pembatas. Jujur saja, dalam hati Aira masih belum percaya jika kini ia sudah menjadi seorang istri. Selain itu, ia juga masih belum siap untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri terhadap suaminya.
Sebenarnya Abian tahu bagaimana kegelisahan yang dirasakan oleh Aira, namun mau bagaimana lagi. Pokoknya malam ini ia harus bisa duel gobak sodor dan menjebol gawang lawan. Abian ingin mulai menanam saham kecebongnya agar segera berkembang, siapa tahu nanti istrinya bisa meledak barengan sama istri sepupunya, Sakti. Sungguh pasti sangat menggemaskan jika keduanya hamil secara bersamaan nanti.
"Yank," panggil Abian tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Apa sih geli ah panggil gitu," jawab Aira sinis.
"Jangan galak gitu, mulai sekarang panggil aku mas. Karena aku suami kamu bukan temen kamu. Jadi sopan sedikit jika menghadapi suami." Ucap Abian langsung membuat Aira terdiam mencerna ucapan suaminya itu.
"Maaf... Mas."
"Hm, karena kau sudah bersalah maka aku akan menghukum mu segera." kata Abian meletakkan ponselnya ke atas nakas samping ranjangnya. Kemudian mendekat ke arah Aira tanpa suara, Aira yang terlalu fokus pada ponselnya tak menyadari jika Abian sudah ada disampingnya.
Lantaran kesal di abaikan sang istri, Abian menarik ponsel Aira hingga membuatnya protes tak terima. Namun belum sempat Aira ngereog, Abian terlebih dulu mendaratkan ciumannya pada bibir mungil gadis itu.
Awalnya Aira memberontak karena menolak Abian yang mencium bibirnya , namun karena tenaga Abian lebih kuat akhirnya Aira berhenti.
'Kena kau, uhh gobak sodor nih. GAS !!!!' batin Abian.
__ADS_1