TERKASIH

TERKASIH
SEASON 2 - ABIAN DAN AIRA : Kuah Setan!!


__ADS_3

"****Tak perlu risau, tak perlu galau. Karena mau dilihat dari segi manapun tetap saja tampan, kecuali dilihat dari pantat wajan****."


...----------------...


Tap... Tap...


Langkah Abian mengikuti Aira ke dapur, walau bagaimanapun ia masih punya rasa takut. Takut kalau gadis pendek itu akan meracuni makanannya nanti. Lihat saja sekarang, wajah gadis pendek itu manyun lantaran tak rela ia suruh membuat makanan untuknya. Ck ck ck, dasar gadis pendek tak tahu terima kasih, omel Abian dalam hati.


"Ingat! Jangan terlalu matang mienya, aku tidak suka." Ucap Abian lalu mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan yang sengaja ia arahkan untuk menghadap ke tubuh Aira.


"Kau dengar kan? Gadis pendek." Lanjutnya mengejek.


"Bisa diam tidak!! Berisik!!." Umpat Aira lalu menyalakan kompornya kemudian menyiapkan bahan.


"Sekedar mengingatkan, takutnya tubuh pendek mu itu akan berpengaruh pada otak seperempat mu."


"Ck!,"


"Jangan lupa tambahkan dua telur ya." Imbuh Abian dengan wajah tanpa dosanya.


(Beneran minta di geprek ini si Abian ya guys 😂.)


Tanpa menimpali ucapan manusia cagak dibelakangnya itu, Aira fokus membuat mie kuahnya sekalian mulai memotong banyak cabai.


'Rasakno tak kerjai kui.' Aira tersenyum sinis sembari terus memotong kecil-kecil cabainya.


Tak... Tak... Tak...


Terlewat kesalnya, Aira memotong cabai-cabai itu dengan suara nyaring hingga membuat Abian yang tengah bermain game menjadi tidak bisa konsentrasi.


"Kau ini sedang apa? Ribut sekali." Ucap Abian dengan kesal. "Ck!! Gara-gara kau aku jadi kalahkan." Lanjutnya kemudian mematikan game di ponselnya dan beranjak berdiri berniat menghampiri Aira. Namun sebelum berada di dekat Aira, pisau yang dipegang tangan Aira sudah menghentikan langkahnya.


"Berhenti disitu, duduk dan tunggu mie nya sebentar lagi matang. Awas jika berani masuk dalam kawasan ku," ancam Aira seraya mendelik tajam menatap ke arah manusia cagak di depannya ini.


Sontak Abian menelan ludahnya lalu berjalan mundur dengan teratur kembali ke arah tempat duduknya.


'Galak sekali dia," umpat Abian dalam hati.


Aira kembali membalikkan badannya untuk melanjutkan memasaknya.


'Selamet, untung wae durung moro. Cobak lak wes idek, kan pale ngerti.' batin Aira menghela napasnya lega.


Hampir setengah jam berlalu, mie kuah ala Aira sudah tersaji di depan Abian dengan asap yang mengepul. Mata Abian berbinar senang melihatnya, sungguh perutnya tidak sabar untuk mencicipi sekaligus menghabiskannya.


Tangan Abian mendekatkan mangkuk mie kearahnya sambil mencium aromanya, "Mantap, sedapnya..." Gumam Abian.


Sementara Aira yang duduk di depannya berusaha menahan tawanya agar tak lepas membayangkan bagaimana reaksi manusia cagak di depannya itu nanti saat memakan mie pedas buatannya itu.


Jemari Abian meraih sendok untuk mencicipi kuahnya,

__ADS_1


Slurp...


Uhukk... Uhukkk...


Sontak Abian terbatuk kala rasa pedas masuk ke dalam tenggorokannya, membakar lidahnya hingga mengkerut kepanasan.


Segera Abian menyambar air di sampingnya kemudian meneguknya hingga tandas.


"Pelan-pelan aja makannya, kagak ada yang minta juga." Ucap Aira dengan wajah polos tanpa dosanya.


Mata Abian menatap tajam ke arah gadis pendek di hadapannya itu,


'Sial*n nih cewek, balas dendamnye kagak tanggung-tanggung. Langsung pakek kuah setan, apes banget nasib gue. Lihat aje wajah sok polosnye itu, pengen banget gue garuk. Pengen ngerjain gue pan, lihat nih.' batin Abian menyeringai.


"Cuma terkejut aja, bisa-bisanya kau tahu selera makanku yang suka pedas. Ini rasanya enak dan sangat pas, sayang aku tak mau membaginya padamu." Ucap Abian kemudian mulai menyeruput mie kuahnya ke dalam mulut seperti iklan-iklan di televisi.


Tentu saja hal itu membuat Aira menelan ludahnya lantaran tergiur melihat lezatnya mie kuah pedas itu. Apalagi ia cukup suka makanan yang berbau pedas.


Dalam hati Aira mengumpat karena salah prediksi, ia mengira manusia cagak di depannya ini akan kepedasan lalu marah dan kemudian segera pergi dari rumah kontrakannya itu. Namun nasib sial menimpanya, bukan ekspresi ini yang ia inginkan.


Hanya saja, apa yang di lihat Aira tak sama dengan apa yang tengah di rasakan Abian saat ini. Di depan ia memasang muka cool-nya seolah memang suka makan pedas, padahal di belakang ia asyik mengumpat dengan banyak sumpah serapah ke arah gadis pendek di hadapannya itu.


'Wahai usus, untuk saat ini saja. Tolong... Tolong diriku agar terlihat keren dengan menjejalkan kepedihan padamu karena masakan racun gadis pendek itu. Bersabarlah, setelah sampai rumah ku bebaskan engkau melakukan apapun. Bahkan jika harus keluar masuk... WC.'


Berkali-kali Abian mendesis namun tetap dengan gaya cool dan elegan, agar tak terlihat jika ia cukup terbakar kobaran api neraka level setan dalam mie kuah yang kini sudah habis di lahapnya.


Ahhh...


"Terima kasih makanannya, aku PUAS!!"


Padahal yang sebenarnya jantung Abian menjerit karena kepedasan, bahkan perutnya kini terasa panas.


Sedangkan Aira hanya melongo menatap punggung Abian yang sudah duduk di sofa ruang tamunya dengan membelakanginya.


"Gila!! Beneran kuat??"


Lantas Aira menatap ke arah bekas mangkuk di depannya dengan mata membulat sempurna. Bahkan kuahnya juga habis tak bersisa. Aira sontak bergidik ngeri lalu membawa mangkuk itu ke arah wastafel untuk di cuci.


"Untung wae mau lombok e tak alus ke, cobak nek ora? Kan pale ngerti." Gumam Aira.


Kini Aira ikut duduk di sofa ruang tamu, sambil menatap ke arah Abian dengan intens tanpa berkelip hingga membuat Abian risih.


Jika Abian berpikir Aira tengah kagum dengan ketampanannya, berbeda dengan Aira yang tengah menelisik tajam ekspresi Abian menahan kepedasan.


'Cih ! Katanya enak suka pedas, tapi ini apa. Heh,' ejek Aira dalam hati.


"Tak perlu risau, tak perlu galau. Karena mau dilihat dari segi manapun tetap saja tampan, kecuali dilihat dari pantat wajan." Ucap Abian menyadarkan Aira yang masih menelisik wajah Abian.


Mendengar hal itu sontak Aira memasang tampang ingin muntah.

__ADS_1


"Najis !!!" Umpatnya.


Hal itu tentu saja membuat Abian tertawa terbahak-bahak dan melupakan rasa kesalnya perihal kuah setan.


Melihat ditertawakan oleh musuhnya, Aira hanya mencebikkan bibirnya saja kemudian menyalakan televisi menonton sinetron ikan terbang.


"Jadi? Kau kerja di hotel itu?" Tanya Abian setelah menyamankan duduknya di atas sofa dan ikut menonton.


"Tidak,"


"Lalu? Kenapa kau disana?"


"Menghadiri acara." Masih dengan jawaban singkatnya Aira menjawab pertanyaan dari Abian.


"Jadi kau pengangguran?"


"Ck!! Kau ini kenapa berisik sekali, tidakkah kau membiarkanku menikmati tontonan televisi ku?" Sentak Aira kesal.


"Kau pikir televisi itu lebih menarik dariku?"


"Iya."


Skakmat!! Cekit-cekit!!!


'Sial*n nih cewek' umpat Abian lalu memilih diam tanpa suara dan lanjut ikut menonton televisi.


Melihat Abian diam saja membuat Aira melirik lewat ekor matanya, dan melihat Abian tengah serius menonton televisinya.


"Kau punya info pekerjaan tidak?" Tanya Aira memecah keheningan.


"Kenapa?" Abian balik bertanya.


"Aku butuh kerjaan,"


Sesaat Abian terdiam sambil melihat penampilan Aira dari atas hingga kebawah. Kepala Abian mengangguk-angguk menilai bentuk tubuh Aira.


"Kau mau kerja di rumah makanku tidak?" Tawar Abian setelah menimbang bentuk penampilan Aira walau kekurangan hanya kurang tinggi saja. Wkwkwkkk,


"Orang menyebalkan seperti mua punya usaha?" Ejek Aira.


"Cih, sudah minta kerjaan menghina dan meragukan ku juga. Terserah, kalau mau datang ke alamat ini." Abian menyerahkan kartu nama rumah makannya.


Mata Aira memperhatikan kartu nama itu seksama, "Baiklah, terima kasih." ucapnya.


"Hm, aku balik lah. Udah hampir malam, takut hansip kontrakan galak-galak. Kan aku masih perjaka," ucap Abian seolah Aira berniat mesum padanya.


"Stress!!" Umpat Aira lalu menutup pintu rumahnya kencang setelah Abian keluar.


Tawa Abian pecah melihat muka kesal gadis pendek yang sudah di palak jatah makan olehnya itu. "Hahaha, ngambek-ngambek." Teriak Abian mengejek, lalu...

__ADS_1


Tut... Tut... Tuuuuttttt....


'Sial*n, perutku melilit.' kini giliran Abian yang mengumpat lalu berlari menuju mobilnya mencari apotik untuk membeli obat diare.


__ADS_2