
"Bahkan untuk jatuh cinta, tak perlu seribu satu alasan mengapa memilihnya. Karena... Untuk bersama, hanya diperlukan dua insan yang menerima kekurangan serta kelebihan di antara keduanya."
...----------------...
"Buahahahaha...
Gelak tawa terdengar dari bibir kedua joker ngenes yang tengah menertawakan nasib si sulung. Keduanya tak berhenti terbahak mendengar curhatan kegalauan lantaran lamarannya di tolak mentah-mentah oleh si gadis pendek, yang tak lain adalah Aira.
"Beneran di tolak gitu?" Ucap Ibnu sekali lagi untuk meyakinkan pendengarannya.
"Iye, Puas! Puas!! Ledek terus, ketawa terus." Sewot Abian menatap sebal keduanya.
Sungguh malang nasibnya, baru juga kedua kali jatuh cinta. Dua kali juga hatinya harus di buat patah, jika yang pertama ditinggalkan dari dunia fana. Ini yang kedua mau dinikahi malah menolak mentah-mentah. Nasib, nasib...
"Begimane ceritanye?" Tanya Bima.
Flashback on
Abian mengeluarkan kotak beludru dalam kantong celananya kemudian berlutut di depan Aira.
"Ra,
Mungkin aku memang bukan cinta pertama dalam hidupmu. Namun percayalah, rumahku akan menjadi tempat terakhir mu kembali pulang. Seperti... Hatiku.
Will you marry me?"
"Aku....
"Bang Bian..." Pekik seorang wanita sexy berjalan ke arah keduanya dengan cepat.
Kedua mata Abian membulat sempurna, melihat ke arah gadis itu. Begitupun dengan Aira yang menatap bingung ke arah keduanya.
Gadis itu memeluk erat tubuh Abian begitu sampai di depannya, tak lupa ia sempat mengecup pipi Abian terlebih dahulu.
"Kangen banget sama kamu sayang," ucapnya masih dengan memeluk erat tubuh Abian.
Sementara tubuh Abian membeku, berdiri kaku di tempat. Bukan karena mendapat pelukan erat melainkan menatap kedua mata Aira yang sudah setajam silet, siap untuk mengulitinya.
"Sayang kok diam aja sih," gadis itu mendongakkan kepalanya menatap Abian yang tengah menatap ke arah lain. Mata gadis itu mengikuti arah pandangan Abian hingga keningnya berkerut saat menyadari ada seorang gadis yang tengah berdiri di belakangnya.
"Lue, siapa?" Tanya gadis itu.
"Dia...
"Aku pegawainya." Sela Aira sebelum Abian menjawabnya.
"Oh... Gue Celia, calon....
"Stop !! Aku tahu apa yang akan kamu katakan. Selamat, semoga hubungan kalian berdua lancar. Saya permisi," Aira meninggalkan keduanya dengan hati sakit bak tertusuk duri. Entah mengapa ia merasakan rasa sakit ketika tahu jika Abian sudah memiliki gadis lain. Lalu untuk apa dia melamarnya tadi?
"Tunggu Ra, kamu salah paham. Jawabannya gimana?" pekik Abian.
"O G A H, ogah!!" teriak Aira lalu berlari pergi.
" Weh, ditolak gitu?" gumam Celia lirih namun terdengar oleh Abian.
__ADS_1
Ctak!!
Dengan emosi tingkat tinggi Abian menjitak kepala adik sepupunya itu.
"Asyem, gagalkan jadinya." Umpat Abian kesal.
"Ck, kejar lah bang. Malah diem bae, jelasin kek. Tadi aku juga udah mau bilang kalo aku calon adik ipar sepupunya. Eh malah,"
"Ssttt, berisik... Awas." Abian menggeser tubuh Celia lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Abian berniat mengejar Aira namun sayang ia sudah kehilangan jejaknya, karena Aira sudah naik taksi terlebih dahulu.
Flashback off
Abian mengacak rambutnya kasar, sungguh sial nasibnya. Tatapan Abian mengarah kepada kedua joker ngenes dihadapannya itu.
"Gue harus gimana?" Tanyanya lesu.
"Suhu." Jawab keduanya kompak.
"Ck, kalo gue bilang ke dia yang ada gue diledekin muluk. Tahu sendiri itu karung kayak gimana, bisa abis harga diri gue ntar." Omel Abian tanpa tahu jika yang dibicarakannya sudah berkacak pinggang dibelakang.
"Oh gitu, harga diri lue yang mane yang abis? Udah diskon belum?" Sewotnya sambil mendelik tajam menatap Abian, sepupunya yang gagal melamar anak orang. Hahaha...
Sontak Abian menoleh kebelakang lalu menyengir tanpa dosa, "Hehehe, elu."
"Haha hehe haha hehe," Sakti mendudukkan tubuhnya di kursi samping Abian.
"Gimane bisa ntuh si jelly bisa di pasar malam?" Lanjut Sakti bertanya.
"Apalagi gue, kenal kagak." imbuh Bima.
Kini tinggal Ibnu yang mendapat tatapan tajam dari ketiganya sebagai tersangka terakhir.
Berulang kali Ibnu menyeka keringat di keningnya, sungguh ia merasa tengah di interogasi oleh tiga petugas kebenaran dan perjuangan.
"Gu... Gu...
"Apaan guguk? Yang jelas." Ucap Sakti sambil mata menyipit curiga.
"Gue belom selesai ngomong," sebal Ibnu.
"Makanya jangan gagap." Sahut Abian.
"Kan gue nervous, mata kalian bertiga udah kayak mau lompat begitu."
"Kan biar lue cepetan ngakunya pe'ak." Sungut Abian.
"Iya gue ngaku, pasti ngaku. Upss," sontak Ibnu menutup mulutnya lantaran keceplosan, emang mulut lebih mulia suka kejujuran tanpa dirasa.
"Wah beneran, ngajak duel." Abian bangkit dari kursinya hendak meninju ke arah Ibnu, sepupunya itu. Namun dengan sigap Sakti menghentikannya, bak pahlawan kesiangan. Bukan karena peduli, tapi lebih memikirkan kerugian itu cafe. Kan sayang kalau mesti ganti rugi, keluar duit. Wkwkwk....
"Sabar, sabar, sabar... Kita selesaikan dirumah gue sekarang." Ajak Sakti kepada ketiganya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Aaarrghhhhh...
Tubuh Aira berbalik ke kanan dan ke kiri, rasanya kesal sekali dalam hatinya. Kenapa ia tadi pergi tanpa bertanya siapa wanita itu kepada Abian, dan kenapa ia pergi saat wanita itu akan mengenalkan dirinya sendiri.
Tapi kalau tidak pergi, hatinya akan sakit menerima kenyataan yang ada jika wanita itu adalah calon istri dari Abian. Selain itu, ia terlalu gengsi untuk berdiam diri di tempat menyaksikan adegan topeng ondel-ondel di depan matanya.
"Ih Aira, bodoh banget sih loe. Harusnya loe tanya dulu sama itu cewek, siapa tahu kan itu cuma masa lalunya. Dan harusnya elo juga jangan asal pergi aja, kan loe lagi dilamar. Nyesel kan loe sekarang udah nolak itu manusia cagak. Aaarrghhhhh.... Au ahh.... Gelap." Omel Aira pada dirinya sendiri.
Berulang kali Aira mengubah posisi tidurnya, namun tetap saja matanya enggan terpejam. Malah yang ada bayang-bayang wajah Abian menari di kepalanya.
'Sial*n, gue nyesel nolak manusia cagak tadi.' umpat Aira dalam hati.
"Bahkan untuk jatuh cinta, tak perlu seribu satu alasan mengapa memilihnya. Karena... Untuk bersama, hanya diperlukan dua insan yang menerima kekurangan serta kelebihan di antara keduanya." gumam Aira lirih kemudian menutup wajahnya dengan bantal.
Sedangkan di rumah Sakti, keempatnya sudah berkumpul duduk bersila dilantai membentuk lingkaran. Tatapan ketiganya masih tajam mengarah kepada tersangka yang di ternyata biang kerok dari segala permasalahan yakni Ibnu.
"jadi? Lue mau cerite atau palu punye Babe gue pindah ke kepale lue?" Ancam Sakti.
"Iye gue ngaku, awalnya gue kagak mau kasih tahu itu si jelly dimana si Abian. Tapi....
"Tapi apa? Buruan." sentak Bima penasaran.
"Tapi... Gue di ancem kalo gue kagak mau kasih tahu, ntar dia bakal bilang ke Nyak Munah kalo gue yang ude abisin jambu bijinye." jelas Ibnu sambil menunduk.
"Astaghfirullah, cume gara-gara jambu biji?" pekik Abian tak percaya.
Bugh....
Tangan Sakti mendarat mulus di bahu Abian lantaran terkejut mendengar pekikan Abian yang membuat hatinya berdetak kencang seketika.
"Bise kagak ngomongnye pelan, kaget tahu gue." umpat Sakti.
"Sorry, kelepasan dan juga biar akting lebih bagus kan harus menjiwai." jawab Abian.
"Akting mata lue," Sakti menoyor kepala Abian, namun sang empu hanya nyengir saja.
"Sorry Ian, gue kagak maksud kasih tahu si jelly keberadaan elu. Kalo tahu lue bakal ngelamar itu si pendek, pasti gue bakal mati-matian halangin si jelly biar kagak ngerusak acara elu." Ibnu sungguh menyesali perbuatannya.
"Lagian itu si jelly tengil ada-ada aja tingkahnya," ucap Bima.
"Terus gue mesti gimane?" keluh Abian memelas.
"Elu mesti mikirin caranye buat....
"Gue tahu, gue mesti mikir care buat minta maaf sama si pendek pan?" sela Abian memotong ucapan Sakti.
"Asyem gue belum kelar ngomong pe'ak," Umpat Sakti.
"Lue mesti mikir cara buat sampein ke... Mak lue kalo lamaran lue gagal toak." lanjutnya.
"Astaghfirullah.... Gue lupa sama emak gue."
Abian menepuk keningnya seketika hingga membuat yang lainnya tergelak melihat penderitaan Abian tiada habisnya. Wkwkwkk.....
'Mati gue.....
__ADS_1