TERKASIH

TERKASIH
Kepulangan Andrei


__ADS_3

"Walau akhirnya bunga akan mekar sekali, aku rela jika harus menjadi kumbang kelaparan tanpa sari. Asal senyum di wajahmu tak akan pudar dan tetap menyejukkan hati."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Senyum indah untuk sang mentari, langit cerah menggambarkan hari yang penuh dengan warna. Angin berhembus dikala kedinginan menusuk kulit, namun itu tak membuat jiwa yang diliputi kehangatan cinta akan membeku.


Pagi ini suasana di depan rumah Sakti nampak ramai, banyak para ibu-ibu berkumpul untuk berbelanja sayur mayur. Dimana tangan sibuk memilah belanjaan, mulut asyik gibah.


"Eh ibu-ibu, ude denger belon gosip terbaru hari ini?" Ucap seorang ibu berdaster besar tak lupa sanggulnya sebesar buah kelapa. Tak lain dan tak bukan adalah jeng Marni, si biang gosip kampung.


"Gosip apa atuh?" Tanya Bu Tini yang berhijab orange dengan kepo.


"Itu si Sabeni, masak hamilin anaknya lurah sebelah." Jawab jeng Marni dengan mulut monyong-monyong sinis.


"Ah yang bener jeng?" Sahut si Rina alias jamud (janda mudahh).


"Iya bener, asal teh Rina tahu ya. Itu gosip udah jadi viral dikampung sebelah." Imbuh Sarti ikut menimpali.


"Ya kan, emang si Sabeni badung pisan. Untung anak pak RT kita nggak jadi kawin sama dia." Kata Bu Tini.


"Tapi bukannya si Sabeni udah nikah ya, ibu-ibu?" Ucap Rina.


"Dia emang udah nikah sama mantannya yang di hamili itu, tapi nasibnya kasihan wanita itu. Karena si Sabeni nggak peduli sama dia." Ucap jeng Marni semakin menjadi.


"Masak sih, ya ampun... Kebangetan itu si Sabeni." Ucap Sarti yang disetujui ibu-ibu lainnya.


Di dalam rumah Nyak Munah nampak menggosok telinganya kala mendengar emak-emak rempong sibuk menggibah di depan rumahnya. Apakah para emak-emak itu tidak tahu jika dirinya hari ini sedang mode senggol bacok.


Sambil menjinjing bajunya Nyak Munah, melangkah ke depan menuju para emak-emak yang tengah asyik menggibah di kang sayur langganannya.


"Bagus ye..." Ucap Nyak Munah sambil berkacak pinggang menatap wajah para emak gosip satu persatu.


"Ada apa Nyak?" Tanya jeng Marni pada Nyak Munah.


"Ngapain kalian pade gosip didepan rumah gue. Berisik tahu kagak!" Jawab Nyak Munah.


"Kita ngomongnya pelan kok Nyak," cicit Bu Tini.


"Pelan apenye? Telinga gue ampe gatel dengernya. Mana kagak ngajak gue lagi gibahnye." Dumel Nyak Munah membuat para emak gosip melongo seketika.


'Astaga Nyak...'

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Andrei memasuki rumahnya, namun keadaan nampak sepi. Ia berjalan menuju ruang makan dimana istri serta putrinya tengah sarapan bersama. Inilah yang ia rindukan selama beberapa hari di Paris tanpa kehadiran istri dan putrinya itu.


Memang Andrei akui jika pertengkaran saat itu salahnya, gak seharusnya ia bersikap egois karena melarang putrinya kembali ke Indonesia. Kini ia mencoba menekan ego dan menerima segalanya.


"Selamat pagi semua, surprise!" Ucap Andrei sumringah berharap istri dan putrinya akan terkejut dan senang akan kepulangannya. Namun nyatanya ia salah, justru melihat ekspresi keduanya yang seolah tak peduli akan kedatangannya.


Dengan lesu Andrei menurunkan kedua tangannya seraya menunduk. Baru saja kepalanya tertunduk, sebuah tangan hangat mendekap erat tubuhnya.


"I Miss you, ayah." Ucap Melly berbisik pada telinga Andrei.


"I Miss you too," balas Andrei dengan memeluk erat kembali Melly.


Setelah beberapa menit saling menikmati pelukan masing-masing, kini tatapan mata Andrei mengarah pada putrinya.


"Kau tak merindukan ayah, hm?" Tanya Andrei tak lupa dengan kedua tangannya yang sudah membentang, seolah mengisyaratkan untuk segera masuk ke dalam rengkuhan ayahnya itu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Winda masuk kedalam pelukan Andrei. "I Miss you so much, ayah." Lirih Winda.


Ketiganya sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan mereka. Tiada kata, tiada suara saat makan itulah peraturan dalam rumah Andrei.


Usai menyelesaikan kegiatan sarapan, ketiganya sudah duduk di ruang tamu untuk sekedar bercerita.


"Ayah, pasti acara membosankan. Winda tak ikut ya yah?" Pinta Winda namun di tolak secara langsung Andrei.


"Tidak, kau tetap ikut. Ayah tidak menerima penolakan Winda." Putus Andrei lalu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya.


Winda menatap ke arah sang Melly, mencoba mencari bantuan darinya. Namun sayang, Melly juga tak bisa berbuat apa-apa.


"Kita ikuti saja kemauan ayah kamu, bukankah ayah baru kembali dari Paris. Lagipula kan cuma menemani untuk bertemu teman ayah saja kan." Bujuk Melly.


Nampak Winda menganggukkan kepalanya, "Iya ma,"


Tring!!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Winda, membuat samg empu mengulas senyumnya sedikit saat tahu siapa nama pengirimnya.


Abang sayang:


"Walau akhirnya bunga akan mekar sekali, aku rela jika harus menjadi kumbang kelaparan tanpa sari. Asal senyum di wajahmu tak akan pudar dan tetap menyejukkan hati."

__ADS_1


Begitu membaca isi pesan yang dikirim Sakti, sontak kedua pipi Winda memerah karena malu mendapat gombalan dari calon suaminya itu.


'Gemesin banget sih bang' lirih Winda.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Abang darimane?" Cecar Nyak Munah saat melihat suaminya baru turun dari motornya.


"Urusan bentar Mun, oh iye mane Sakti?" Babe Rojak celingukan mencari keberadaan putranya itu.


"Lagi ke kebon terong bang, kan Abang yang nyuruh buat ngecek tadi pagi." Jelas Munah.


Mengingat hal tersebut membuat Babe Rojak menepuk keningnya, ia lupa jika tadi pagi menyuruh Sakti untuk mengontrol kebonnya itu


"Ye ude, ntar kalo dah balik suruh nemuin Abang ye. Ame ntuh, ntar malam kita bertiga pergi ketemu temen Abang. Dah lame Abang tak jumpa dia." Kata Babe Rojak kemudian berlalu menuju kamarnya.


'Temen? Siape ye?' batin Nyak Munah.


Tak berselang lama Sakti sampai di rumah, baru sampai teras nampak Babe Rojak sudah berdiri sambil berkacak pinggang ketika menyambutnya. Kedua alis Sakti nampak mengernyit melihat muka asyem Babenya itu.


"Assalamualaikum, Babe ngapain di luar? nunggu aye? dah kangen berat ye beh." ucap Sakti sambil mencium tangan Babe Rojak.


"Waalaikum salam, lame bener elu ke kebonnye. Ngapain sih lame-lame di sane?" tanya Babe Rojak dengan mode galak.


"Ngecek kebon lah beh, tadi sengaje aye lihat kebon jengkol sekalian beh. Makanye aye lama dah," jelas Sakti.


"Heleh, dah mandi sono. Ntaran kita makan di luar sekalian Babe mau nostalgia ketemu temen."


"Siape beh? selingkuhan Babe ye?"


plakkk!!


Sontak Babe Rojak menabok lengan anaknya itu, enak saja bilang kalo itu selingkuhan Babenya. Orang temannya laki-laki, masa iya dia demen sesama golok. Ngawur ini bocah!


"Ntuh mulut, minta Babe sumpel ye. Lagian temen Babe lakik, bukan nancy." sewot Babe Rojak yang hatinya tersungging sedikit mendengar penuturan anaknya itu.


"Pan aye kagak tahu kalo temen Babe lakik, aye pan antisipasi aje beh." bela Sakti pada dirinya sendiri yang merasa ucapannya benar.


"Ndasmu ngono!! Kagak usah banyak cingcong, buruan mandi. Guyur juge nih lame-lame pakai air kobokan." jengkel Babe Rojak dalam menghadapi putranya satu itu.


"Mandi doang pan beh?"

__ADS_1


"Sekali lagi ngemeng, gue lempar pake pot nih." ancam Babe Rojak tak tanggung-tanggung, hingga membuat Sakti lari tunggang langgang sebelum pot bersarang ke tubuhnya.


'Anak lakik satu bikin spot hati aje dari kemaren.' gerutu Babe Rojak dalam hati.


__ADS_2