TERKASIH

TERKASIH
POKOK'E COBLOS, HA'E-HA'E !!


__ADS_3

"Biarkan dunia menjadi saksi cinta kita, biarkan seluruh udara membawa kabar bahagia atas penyatuan kita. Dan biarkan di luar kamar heboh yang terpenting, jatah coblos... Jalan."


...----------------...


Setelah berhasil mengusir trio perusuh keluar dari dalam kamarnya, Sakti beranjak ke depan kamar mandi lalu mengetuk pintunya.


"Yank, kamu masih mandi? Keluar yuk, trio joker ngenes udah Abang usir tuh." Ucap Sakti dari depan pintu.


Sedangkan di dalam kamar mandi Winda tengah menggigit kuku jarinya, saat melihat tampilannya di depan cermin yang sedang menggunakan baju dinas hadiah dari Tante Eve padanya.


Sungguh Winda merasa geli melihat penampilannya, dimana baju dinas itu hanya menutupi sedikit titik sensitifnya.


'Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Keluar nggak ya? Kalo keluar malu banget.' batin Winda kemudian meraih kimono mandinya.


"Yank?" Panggil Sakti sedikit menaikkan intonasi suaranya.


"Sebentar," sahut Winda dari dalam yang tengah memakai kimononya.


Ceklek...


"Lama banget sih yank? Yuk lanjutin!" Sakti menarik tubuh Winda mendekat kemudian mencium ceruk leher yang wangi.


"Aku suka aromamu yank," bisik Sakti sambil menggigit telinga Winda hingga membuat sang empu merinding geli namun terasa nikmat. Sepertinya Sakti harus memulainya dari awal agar istrinya kembali bergairah.


Perlahan wajah Sakti berpindah ke depan, jemarinya membelai mulai dari kedua alis, mata, hidung dan terakhir adalah bibir imut yang mampu membuatnya ketagihan.


Kepala Sakti terus mendekat hingga kedua benda kenyal itu menempel sempurna. Dengan gerakan lembut Sakti mulai memagut bibir Winda atas dan bawah bergantian. Mencecap manis dari bibir itu hingga terdengar suara kecepak ciuman keduanya.


Winda sendiri yang sudah terlarut dalam buaian suaminya kini tak lagi malu-malu untuk membalas pagutan suaminya tercinta.


Kedua daging tak bertulang saling menari balet di dalam mulut masing-masing. Saling menarik, saling membelit, dan saling terbakar gairah.


Tangan Sakti meraih pinggang Winda kemudian sedikit mengangkatnya sambil berjalan mundur membawa ke ranjang tanpa melepas pagutan masing-masing. Jemari Sakti mulai meraba-raba lekukan tubuh Winda hingga kini berada di atas tali kimono miliknya.


Sakti menghentikan pagutannya sekejap begitu berhasil menarik tali kimono istrinya hingga terbuka indah. Lalu kedua mata Sakti menatap ke arah tubuh istrinya yang sudah terbalut pakaian dinas cukup sexy hingga membuatnya semakin bersemangat lantaran gairahnya tengah memuncak. Bibir sakti kembali menyesap bibir mungil istrinya sembari tangan nakalnya memberikan sentuhan-sentuhan kenikmatan kembali.


Tanpa keduanya sadari jika kini tiada sehelai benang pun di tubuh mereka, bahkan tangan Sakti sudah berada di atas apem kembar milik istrinya.

__ADS_1


Jemari Sakti memijat lembut apem kembar itu hingga membuat tubuh sang empu belingsatan karena tak kuasa menerima segala sengatan gairah yang kini bersarang dalam benaknya.


Bibir Sakti turun ke arah leher menciptakan banyak stempel-stempel keganasannya hingga berbekas lalu beralih menuju apem kembar milik Winda kemudian mulai memainkan toping di atasnya dengan daging tak bertulang dalam mulutnya sambil sesekali menyesap.


'Uh,'


Jari-jari Winda meremas rambut kepala Sakti kala tubuhnya bergetar hebat merasakan geli dan nikmat secara bersamaan.


Tak mampu lagi menahan hasratnya, Sakti perlahan mulai memasukkan miliknya ke dalam inti milik Winda.


"Sayank, di awal mungkin akan terasa sakit. Percayalah, setelah itu akan terasa nikmatnya yang luar biasa." Bisik Sakti lalu mencium kening Winda. Kemudian bibir Sakti kembali memagut bibir manis Winda untuk mengalihkan rasa sakitnya.


Awalnya Sakti kesusahan untuk memasuki inti Winda, apalagi melihat wajah Winda kesakitan sambil menahan tangisnya. Membuat Sakti tak tega untuk melanjutkannya, namun untuk menyudahi kepalang tanggung juga. (Pas lagi pengen-pengennya ya kan, masak melipir ditengah jalan. Kan ngiluhhh, 😂)


'Bismillahirrahmanirrahim, POKOK'E COBLOS , HA'E-HA'E!!' yel yel Sakti dalam hati.


Hingga...


Kyakkkk...


Winda menjerit kala miliknya terasa terkoyak saat milik suaminya itu memaksa masuk hingga terbenam seluruhnya.


"Maaf sayank, tapi sakitnya cuma sebentar kok. Abang bergerak pelan ya." Winda menganggukkan kepalanya setelah Sakti kembali mencium keningnya.


Tubuh Sakti terus bergerak di atas tubuh Winda, yang awalnya bergerak perlahan kini menjadi tempo cepat. Apalagi Winda sudah tak merasa kesakitan, justru malah meracau kenikmatan.


Hingga tak berselang lama, keduanya mencapai puncak yang di inginkan. Dengan Sakti menyemburkan cairan menteganya ke dalam rahim Winda seluruhnya.


"Muach, cepat jadi kecebong ya. Mentega premium milik Papa harus lolos uji coba, okey." Ucap Sakti di depan perut Winda sambil menciumnya berulang kali.


"Geli ih bang," Winda menyingkirkan kepala Sakti yang terus-menerus mencium perutnya. Namun, Sakti tak menghiraukannya dan terus melakukan kegiatannya.


"Bang, anterin ke kamar mandi. Winda mau bersihkan badan," kata Winda kembali setelah berhasil mendudukkan tubuhnya.


"Mandi bareng ya yank?" Tanpa menunggu jawaban Winda, kedua tangan Sakti sudah menggendongnya terlebih dahulu ala bridal style ke dalam kamar mandi.


Hampir satu jam, Sakti dan Winda baru menyelesaikan mandinya. Bahkan kini muka Winda tengah memberengut lantaran suaminya itu tak ada capeknya, terus saja menggempurnya. Lantas Winda merebahkan tubuhnya di ranjang yang sudah berganti dengan sprei baru, kemudian tertidur lelap di susul Sakti yang ikut merebahkan tubuh disampingnya.

__ADS_1


"Biarkan dunia menjadi saksi cinta kita, biarkan seluruh udara membawa kabar bahagia atas penyatuan kita. Dan biarkan di luar kamar heboh yang terpenting, jatah coblos... Jalan." Gumam Sakti lalu menutup kedua matanya ikut terlelap bersama sang istri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mata Abian menelisik setiap sudut rumah kontrakan milik Aira, sebenarnya Aira tak ada menawarkan Abian untuk mampir namun karena manusia cagak songong satu ini yang tak tahu malu malah ikut nyelonong masuk ke dalam kontrakannya.


Tak !


Dengan memberengut Aira menaruh segelas air putih di atas meja. "Silahkan diminum dan dihabiskan, setelah itu... Cepat pergi dari sini." Usir Aira terang-terangan membuat jantung Abian yang mendengar tersungging seketika.


'Dasar kutu kupret!! Ude di tolongin malah ngusir. Kagak tahu terima kasih amat.' dumel Abian dalam hati.


"Setidaknya kasih makan dulu nape, pan tadi habis berantem nolongin gadis pendek." Sindir Abian kemudian meminum air putihnya. Sementara Aira hanya memutar bola matanya malas mendengar sindiran manusia cagak di depannya itu.


"Ora onok bahan masak!" Ketus Aira.


"Hah? Masak orek? Apaan tuh?"


Aira menepuk keningnya seketika, ia lupa jika manusia cagak di depannya ini tak bisa bahasa Jawa.


"Tidak ada bahan masakan." Kata Aira mengulang.


"Oh, kalo mie?"


"Ada, tinggal satu mau ku rebus." Sewot Aira.


"Nah, berhubung aku adalah..." Tanya Abian.


"Tamu,"


"Pinter, dan tamu adalah..."


"Raja."


"Jadi... Utamakan kebutuhan tamu terlebih dahulu sebelum orang rumah. Karena tamu adalah R A J A." ucap Abian enteng sambil mengeja tak lupa dengan muka tengilnya yang mengesalkan.


Cekit-cekit, cekit-cekit...

__ADS_1


Otak Aira dongkol seketika, ada ya tamu tidak tahu diri begini. Memaksa yang punya rumah buat ngasih makan, andai ini orang kambing pasti sudah Aira ikat di pohon depan buat makan rumput gajah yang tumbuh di depan rumahnya.


Huh, menyebalkan emang !!


__ADS_2