TERKASIH

TERKASIH
Skenario Tuhan.


__ADS_3

"Tuhan itu maha adil, kita pernah di pisahkan. Namun pada akhirnya kita juga akan disatukan. Walau harus di awali drama antara... Orang tua."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mobil Andrei segera terparkir di halaman depan rumah makan tempat ia janjian bersama Rojak. Ketiganya turun lalu menatap pamflet rumah makan yang tertera di depan mereka. Seperti Sakti sebelumnya yang tertawa saat membaca nama dari rumah makan itu. Kini Melly dan Winda pun juga terbahak ketika membacanya.


"Hahaha, astaga. Jangan bilang di dunia ini udah kehabisan stok nama gaol." Ucap Melly sambil tertawa membuat beberapa orang yang melintas melihat ke arahnya. Tentu hal itu membuat Andrei menutup wajahnya merasa malu.


Berbeda dengan Winda yang sudah bisa menguasai dirinya agar tidak kembali tertawa.


"Udah deh mah, ayo masuk. Yang lain pasti udah pada nungguin." Ajak Andrei lalu menyeret istrinya masuk di ikuti Winda dari arah belakang.


"Bentar," seru Melly menghentikan langkah kakinya tiba-tiba membuat Andrei dan Winda mau tak mau ikut berhenti seketika.


"Ada apa lagi mah?" Kesal Andrei melihat tingkah istrinya itu.


"Tas Mama mana ya?" tanya Melly yang merasa tangannya menjadi ringan lantaran tak membawa apapun.


"Masih di mobil kali mah." Sahut Winda. Karena seingat Winda tadi Mamanya itu turun tanpa membawa apapun.


"Oh iya mobil, ayah tolong ambilkan dong." Pinta Melly dengan memasang wajah sok imut tak lupa matanya yang berkedip-kedip manjah.


Bukan jadi imut malah jadi amit-amit bagi siapa saja yang melihat." Mata Mama kenapa kayak cacing kepanasan begitu? Udah ambil saja sendiri, ayah tunggu di sini." tolak Andrei, ia terlalu malas jika harus kembali ke mobilnya lagi.


"Tapi...


"Udah ayo Winda anterin mah" Winda segera menggandeng lengan Melly menuju mobil setelah menerima kunci mobil dari Andrei.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bang..." Panggil Nyak Munah.


"Ape?"


"Temen Abang masih lame? Aye ude kelaperan nih bang." Ucap Nyak Munah tak lupa satu tangan di topangkan ke dagunya.


"Kagak tahu," jawab Babe Rojak.


"Telepon nape bang, tanya lagi dimane." Kesal Nyak Munah kepada suaminya itu, tidakkah mengerti jika cacing dalam perutnya sudah menggeliat ganas karena lapar.

__ADS_1


"Iye iye... Bawel ah." Babe Rojak lantas meraih telepon genggamnya dari dalam saku bajunya. Kemudian Babe Rojak menekan nomor Andrei.


Tut... Tut....


Panggilan masih terhubung, hingga pada bunyi kelima. Suara nyanyian merdu pihak operator menggema dalam gendang telinganya.


'Maaf sisa pulsa anda kali ini diluar nalar, silahkan tunggu. Number is...


Babe Rojak segera mematikan teleponnya lalu menaruh ke atas meja.


"Kenape di taruh lagi bang?" Tanya Nyak Munah keheranan.


"Gimane kagak di taruh, orang sumber kehidupannye udah ludes." Jawab Babe Rojak membuat otak mungil Nyak Munah berpikir keras. Sejak kapan telepon punya sumber kehidupan, bukannya itu benda mati.


"Sejak kapan ntuh telepon jadi manusie bang?"


"Kenape jadi manusie? Ngomong ape sih lue Mun?" Babe Rojak menggaruk kepalanya tidak gatal, ini yang tidak nyambung dirinya atau bininya.


"Tadi pan...


"Stop Nyak, Babe. Kalian same salahnye, Babe ngomong kagak pakai saringan. Nyak jawabnye lupa baca buku pengetahuan.


Maksud Babe Surojak ini, teleponnya kehabisan pulsahhhh Nyak. Paham?" Jelas Sakti membuat Nyak Munah menganggukkan kepalanya patuh.


"Dan untuk Babehhhh, jelas Nyak tanya kapan itu telepon jadi manusie. Babehhh ngomongnye sumber kehidupan ntuh telepon, Nyak salah tanggep jadinye." Ujar Sakti lalu meminum segelas air putih yang disediakan rumah makan itu.


Sakti baru tahu, jika kita menjelaskan sesuatu bisa menguras tenaganya. Tenaga berpikir serta tenaga urat emosinya yang ikut kejang.


Tak berselang lama, orang yang ditunggu pun tiba. Dengan sigap Babe Rojak berdiri menyambut kedatangan temannya itu. Begitupun Nyak Munah ikut berdiri mengikuti Babe Rojak. Namun saat Sakti berdiri lalu membalikkan badannya, ia dibuat terkejut lantaran melihat sang pujaan hati berada disana.


Begitupun Winda yang ikut terkejut melihat keberadaan tambatan hatinya berdiri di depannya. Apa hubungan Ayah Andrei serta Babe Rojak sebenarnya? Apa ini sudah saatnya Sakti bertemu dengan ayahnya? Apa ini sebuah takdir? Winda mencoba menebak dalam hati.


"Abang,"


"Winda,"


Ucap Sakti dan Winda hampir bersamaan membuat Andrei melepaskan pelukannya segera lalu menatap tajam ke arah putrinya itu. Beraninya menyebut nama yang paling tak disukainya.


"Winda," Lirih Andrei penuh penekanan.

__ADS_1


"Maaf ayah." Cicit Winda menundukkan kepalanya.


Babe Rojak kebingungan melihat sikap temannya itu, memang kenapa jika Winda menyebut nama anaknya. Eh tunggu, Winda ada disini dan apa tadi ayah? What?


"Si win win anak lue?" Tanya Babe Rojak tak percaya.


"Iya, lue udah kenal? ini anak gue Winda, dia ini yang mau gue jodohin sama anak lue." Jawab Andrei sambil tersenyum puas, namun berbeda dengan ekspresi Babe Rojak yang sudah memberengut kesal.


"Jadi elu bapaknya si win win? Jadi elu yang ngehina anak gue kere? Elu juga yang kagak mau kasih restu hubungan mereka? Lue juga yang ude hine anak gue kismin? Wah kagak bener nih, minta gue piting elu emang." Cerocos Babe Rojak seraya menggulung lengan batiknya ke siku.


"Tunggu? Maksudnya Sakti itu anak lue? Dia ini yang bernama Sakti? Jadi elu bapaknya dia? Wah kagak bisa dibiarin ini? Bisa-bisanya dunia sempit sekali." Ucap Andrei ikut menggulung lengan kemejanya berpura-pura terlihat cool namun aslinya nahan MALU !!


Melihat reaksi para suaminya, membuat pusing kepala Melly serta Nyak Munah. Apaan mau ribut di rumah makan orang? Emang minta di tendang satu-satu ini dua lakik tuwir.


Tidak bisa, keduanya jangan sampai berantem, baru saja akan maju melerai. Malah kini mulut mereka berdua yang dibuat melongo melihat reaksi Andrei dan Babe Rojak.


Kedua lansia itu justru saling berjabat tangan rapat, lalu berkata.


"Jadi kapan acara lamarannya?"


Ucap keduanya kompak, kemudian tertawa terbahak-bahak bersama.


"Kalau tahu si Sakti anak lue, pasti udah gue nikahkan mereka berdua dari dulu." Ujar Andrei.


"Ho'oh kalo tahu elu cabes gue, udah gue tolak kemauan anak gue buat kawinin anak lue. Secara kan anak gue kismin." Jawab Babe Rojak menyindir Andrei.


"Ahh bisa aja, maaf lah kawan. Andai gue tahu dari awal kalo Sakti anak lue, gue nggak bakalan begitu. Gue cuma pengen yang terbaik buat anak gue, dia satu-satunya putri gue. Tahu sendiri kan? lagian masak anak juragan kebon kismin?" ucap Andrei tergelak.


"Cih! cabes mata duitan lue." cibir Babe Rojak namun di tanggapi kekehan oleh Andrei. Karena ia tahu jika itu hanya candaan saja, bahkan kekayaan yang dimilikinya jauh lebih melimpah. Sombong dikit yee....


Sementara dikubu Melly ada Nyak Munah dan Winda, ketiganya asyik memperhatikan kelakuan kedua lelaki paruh baya itu.


"Ayah salah minum obat ya mah tadi sebelum berangkat?" Tanya Winda.


"Kayaknya gitu deh." Jawab Melly masih tetap memperhatikan suaminya itu.


"Kalo bang Rojak kayaknya ketempelan tadi pas mau berangkat deh. Gaya nye enggak banget soalnye." Sahut Nyak Munah menbuat ibu dan anak disampingnya itu menganggukkan kepalanya setuju.


Sedangkan Sakti tengah terdiam memperhatikan interaksi Andrei serta Babe Rojak. Dalam hati ia berkata,

__ADS_1


"Tuhan itu maha adil, kita pernah di pisahkan. Namun pada akhirnya kita juga akan disatukan. Walau harus di awali drama antara... Orang tua." Batin Sakti.


__ADS_2