TERKASIH

TERKASIH
Gagal NGAP-NGAP.


__ADS_3

"Tiada kebahagiaan terindah selain kita bersama pasangan yang sudah halal bagi kita. Karena sesungguhnya yang halal itulah bisa menjauhkan kita dari dosa zina dan juga fitnah."


...----------------...


Malam semakin larut, diatas pelaminan Sakti asyik ngedumel sendiri dalam hati sambil menyalami para tamu undangan. Tak pernah Sakti sangka jika tamu yang hadir akan sangat banyak melebihi perkiraannya.


Awalnya Sakti mengira jika para tamu yang hadir hanya sebatas jumlah kartu undangan saja. Namun siapa sangka jika prediksinya salah. Memang benar Sakti masih manusia rupanya 😂.


Hampir pukul sebelas malam sebagian tamu sudah pergi meninggalkan acara untuk kembali pulang. Kini hanya tersisa beberapa kerabat dan juga beberapa rekan bisnis Ayah Andrei yang masih berada di aula.


"Yank, ngamar yuk !!" Ajak Sakti sambil menoel-noel lengan Winda dengan jari telunjuknya.


"Kita Keylon," bisik Sakti perlahan agar tak ada yang mendengar, karena bisa gawat jika ada yang mengganggunya nanti. Bisa-bisa panen ladang gagal, tak dapat jatah pupuk pula nanti ladang yang akan di garapnya.


Muka Winda sontak memerah karena malu mendengar ucapan suaminya itu. Kok ya blak-blakan sekali gitu lho ngajak nya. Mending langsung gendong saja kan beres, ia pasti mau tanpa nolak lho. Eh,


"Kerabat lainnya gimana bang?" Tanya Winda ikut berbisik-bisik.


"Biarin aja lah, urusan para lansia. Sekarang ada hal yang lebih penting, yank." Kata Sakti mode serius.


"Apa bang? Keylon kata Abang tadi?"


"Nah itu tahu, waktunya nyetak Sakti dan Winda junior yank."


" Tapi bang, kita perginya gimana bang? Masak langsung turun pelaminan bang?" Tanya Winda menatap sekeliling.


"Bentar Abang mikir dulu," Sakti memegang dagunya memikirkan cara agar bisa kabur. Dan...


"Nah, Abang dapet idenya. Sini Abang bisikin," Sakti menjelaskan semua idenya pada Winda. Nampak Winda mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Gimana?" Tanya Sakti.


"Boleh bang. Winda setuju," jawab Winda karena sejujurnya ia juga cukup penasaran akan rasanya mengarungi surga dunia, apalagi sekrang ada pasangan halal untuknya. Tak perlu risau tak perlu gundah, sudah sah tinggal gimana nantinya saja.


"Okey let's go, kita mulai tahapan persiapan kabur." Ucap Sakti penuh semangat, Winda hanya terkekeh saja melihatnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hahaha." Kedua pasangan pengantin baru itu nampak tertawa bersama setelah masuk ke dalam lift menuju lantai kamar mereka.


Rupanya mereka berdua telah berhasil mengelabui para orang tua, hingga acara pencetakan Sakti dan Winda junior segera terlaksana.


'Asyik kawin, kawin... Kawin, kawin...' batin Sakti bersorak senang hingga ia tak henti-hentinya menebar senyum selama menuju kamar pengantinnya.


Flashback on


Tangan Winda menyentuh tenggorokannya, suasana ramai di tambah ia belum makan dan juga minum merasa lapar dan haus. Ia ingat, terakhir dia makan itu tadi pagi karena siang harinya ia lebih memilih tidur lantaran merasa lelah.

__ADS_1


Kini perutnya kosong tanpa ada makanan sedikitpun yang masuk. Bagaimana mau kemasukan makanan jika ia sedari tadi tak berhentinya menyalami para tamu.


Sakti yang memiliki daya kepekaan tinggi, lantas menatap Winda. "Yank, haus sama laper ya?"


"Iya bang."


"Tunggu Abang ambilkan dulu, mumpung para tamu mulai agak sepi." Sakti mendekat ke arah Winda lantas berbisik, "Ntar setelah sepuluh menit Abang pergi, susulin ya. Jalankan sesuai strategi." Lalu Sakti beranjak menuju stand makanan.


Benar saja, sepuluh menit berlalu Sakti belum kembali. Akhirnya Winda turun mencari Sakti karena takut jika suaminya itu nanti kecantol Wewe gimbil.


"Mau kemane Win?" Tanya Nyak Munah yang melihat Winda turun dari pelaminan sambil menjinjing gaun belakangnya yang panjang.


"Nyari si Abang, Nyak. Tadi katanya mau ambilin Winda minum kok nggak balik-balik." Jawab Winda.


"Iye ude, jangan balik kamar dulu ntar." Winda hanya tersenyum canggung lalu mengangguk.


Sedangkan Babe Rojak yang kebetulan duduk di sebelah Nyak Munah sontak menegur istrinya karena terlalu tidak... PEKA.


"Biarin aje nape, kayak kagak tahu anak mude aje. Kalo pun mereka ke kamar juge pasti bakal bikinin kite cucu. Semakin cepet pan makin bagus." Ucap Babe Rojak membuat Nyak Munah terdiam.


"Iye ye bang, tapi... Kalo pengantinnya ngandang duluan terus siape yang bakal beresin semuanye?" kata Nyak Munah sedikit gusar.


"Pan ade petugas yang ngurusin, kite tinggal duduk manis lah."


"Kalo besan tanye begimane bang?" tanya kembali Nyak Munah.


"Pan tinggal bilang aje, lagi ekspedisi keylon alias mau buat cucu kite." jawab Babe Rojak dengan entengnya.


"Adoh, adoh, adoh... Sakit Mun, pinggang Abang astaga. Bener-bener ntuh cubitan bikin emosi aje." gerutu Babe Rojak sambil mengusap bekas Capitan Nyak Munah di pinggangnya.


"Salah sendiri tuh mulut omes banget. Huh!!"


"Apanye yang omes sih, pan Abang bilang kenyataannye. Lagian dosa pan kalo bo'ong, jadi... jujurlah padanya, kalo manten lagi keylon. Jangan ganggu saja, biar cepet jadi kecebong." kata Babe Rojak sambil menyanyikan nada lagu milik band Radja dengan sedikit mengganti liriknya.


Nyak Munah yang mendengar hanya memutar bola matanya malas, lalu beranjak menuju besannya meninggalkan Babe Rojak yang sedang makan.


Ketika Winda berjalan melewati sebuah pilar samping stand minuman, ada yang menarik tangannya lalu membekap mulutnya.


Kyakkk...


"Emm..." Winda meronta-ronta mencoba melepaskan bekapan tangan di mulutnya, hingga suara yang familiar berbisik lembut di telinganya.


"Sstt, ini Abang." Otak Winda lega seketika lantaran suaminya sendiri yang menariknya tadi.


"Gimana? Aman nggak yank?" Tanya Sakti, kemudian Winda melirik kanan kiri dan mengangguk.


"Aman bang."

__ADS_1


Sontak Sakti menarik Winda pergi lewat pintu samping lalu menuju ke lift dan meninggalkan pesta resepsi begitu saja tanpa pamit kepada yang lainnya.


Flashback off


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ceklek...


Pintu kamar terbuka, Sakti dan Winda masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan sebagai kamar pengantin keduanya. Nampak di atas ranjang terdapat taburan bunga mawar merah membentuk hati.


Aroma mint yang menenangkan membuat siapa saja yang menghirup akan terbuai. Perlahan Sakti mendekati Winda, mengikuti insting kelelakiannya.


Tangan Sakti membelai lembut pipi Winda saat berdiri tepat di depannya. Dengan sedikit merapatkan tubuhnya ke arah Winda, hidung Sakti dapat mencium aroma parfum memabukkan milik istrinya itu.


"Kamu cantik, bahkan sangat cantik yank." Ucap Sakti dengan suara agak memberat.


Tubuh Winda mendadak kaku tak mampu di gerakkan, bahkan untuk menjawab ucapan Sakti saja ia tak kuasa.


Kini tangan Sakti beralih ke belakang tengkuk kepala Winda, wajah Sakti maju perlahan hingga hidung keduanya saling menempel. Kepala Sakti berpindah posisi menjadi miring seiring dengan wajahnya yang semakin mendekat ke Winda.


"Tiada kebahagiaan terindah selain kita bersama pasangan yang sudah halal bagi kita. Karena sesungguhnya yang halal itulah bisa menjauhkan kita dari dosa zina dan juga fitnah." Ucap Sakti lirih.


Benda kenyal itu akhirnya saling menempel lembut, saling merasakan kehangatan dan sentuhan walau tanpa bergerak hanya saling menempel. Lama-lama Sakti mulai menggerakkan bibirnya untuk memagut bibir Winda atas bawah secara bergantian.


Keduanya saling menikmati dan saling memberi kepuasan masing-masing dalam sebuah ciuman. Daging tak bertulang itu perlahan menyerobot masuk ke dalam mulut Winda dan menarik lawannya hingga saling tari balet.


'Uh,'


Winda melenguh dalam ciuman yang berlangsung, ia yang awalnya cukup terkejut dan kaku kini menikmati setiap pagutan yang diberikan oleh suaminya. Bahkan perlahan Winda mulai membalas pagutan itu sesuai naluri tubuhnya.


Langkah Sakti perlahan membimbing Winda mundur ke arah ranjang tanpa melepas pagutannya. Tangan Winda yang melingkar di leher Sakti kian mengerat kala sang suami merebahkannya diatas ranjang.


Setelah puas bermain dengan bibir Winda, kini gerakan wajah Sakti turun ke arah leher dengan memberikan stempel-stempel lembut dari bibirnya.


Dengan model gaun Winda yang terbuka di bahu, membuat Sakti semakin leluasa menyusuri setiap jengkal yang di inginkannya. Bahkan kini tangan nakal Sakti sudah berada di atas apem kembar nan legit milik istrinya itu. Walau masih tertutup gaun, namun Sakti bisa merasakan jika ukurannya sangat PAS di genggamannya.


Mulut Winda hanya mampu meracau kala merasakan getaran-getaran aneh di dalam tubuhnya, ini pertama kalinya ia merasakan hal tersebut. Semua gerakan suaminya membuatnya mabuk kepayang hingga tak ingin menghentikan barang sedetikpun.


Jemari Sakti kini perlahan berpindah kembali ke belakang tubuh Winda guna membuka resleting gaun tersebut dengan sesekali memagut bibir manis itu kembali. Setelah berhasil menurunkan resleting gaun Winda, kini jemari Sakti berpindah ke depan untuk menurunkan gaun itu tanpa melepas pagutannya.


Mata Sakti berbinar lantaran sebentar lagi akan melihat apem kembar milik istrinya, dimana apem itu yang sudah membuatnya penasaran hingga terbayang-bayang saat mengetahui ukurannya.


Baru saja tangan Sakti meraih ujung atas gaun istrinya, suara gedoran pintu membuat semua hal indah yang sudah Sakti lakukan dan bayangkan ambyar seketika.


Dor... Dor...


Suara gedoran pintu yang semakin keras membuat Sakti mau tak mau akhirnya menghentikan aktivitasnya. "Asyem, pengganggu si*lan" umpat Sakti dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Winda segera mendorong Sakti bangkit saat mendengar ketukan pintunya semakin kencang lalu berlari ke dalam kamar mandi karena merasa malu. Entah bagaimana ia akan menghadapi suaminya nanti.


Hahaha 😂 awas trapeling ya guys 😂😂.


__ADS_2