TERKASIH

TERKASIH
Kilatan Memori dan Kerinduan.


__ADS_3

"Aku bahagia memilikimu, walau perbedaan kita jauh namun rindu melekat di hatiku. Bahkan bulan dan bintang bukan tandingan untuk menyaingi keindahan mu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kur... Kur...


Nampak Babe Rojak menggoda perkututnya di teras rumah ditemani segelas kopi tak lupa singkong gorengnya. Bahkan karena terlalu fokus pada perkututnya, Babe tak menyadari jika Nyak Munah kini tengah berkacak pinggang disebelahnya. Nyak Munah sungguh tidak rela kalah saing dengan seekor burung. Apa kata para tetangga nanti, tidakkah Babe Rojak mengerti sedikit saja jikalau ia rindu di manja-manja mesra. Membuat hati jiwa raga dongkol saja Babe satu ini memang.


Dengan hati kesal Nyak Munah berdehem agar Babe Rojak sadar akan kehadirannya, namun sayang harapan Nyak Munah salah. Justru Babe Rojak kini menyanyikan lagu burung kakak tua untuk peliharaannya itu.


Melihat hal itu sontak tumbuh tanduk di kepala Nyak Munah, sungguh kali ini rasanya mengesalkan. Lantaran diliputi marah, Nyak Munah meraih kandang burung perkutut milik Babe Rojak lalu melepaskannya begitu saja. Tentu saja hal itu membuat mata Babe Rojak melotot sempurna. Oh tidak, burung kesayangannya lepas, bukan-bukan tapi terlepas. Salah lagi, tapi dilepaskan dengan sengaja oleh istri tercinta.


"Ape yang ude lue lakuin Munah?" bentak Babe Rojak tajam.


"Ape bang? Abang kagak lihat aye lepasin ntuh burung kesayangan Abang." jawab Nyak Munah tak kalah tajam.


"Iye, kenape lue lepasin ntuh burung." masih dengan marah Babe Rojak menuntut alasan Nyak Munah melepaskan burung kesayangannya. Padahal selama ini, itu burung tak pernah mengganggu ataupun menjahati Nyak Munah. Lalu mengapa dilepas begitu saja?.


Sebelum menjawab Nyak Munah menarik napasnya dalam-dalam, dirasa sudah pas Nyak Munah segera melantunkan sholawat nya kepada Babe Rojak. Siap-siap denger plus telinga panas ye beh. 😂


"Abang mau tau kenape Munah begini? karena Munah cemburu bang. Istri Abang ini cemburu berat tahu bang. Aye juge mau Abang manje-manje, aye juge mau Abang elus-elus, aye kangen bang. Tiap ari liyat Abang maen same ntuh burung muluk bikin aye sebel tahu bang. Aye berase kayak bukan bini Abang, tapi ntuh burung yang jadi bini Abang tahu nggak." pekik Nyak Munah yang merasa kesal karena diabaikan oleh suaminya selama ini. Istri mana yang tahan jika memiliki suami namun malah sibuk main bersama burung peliharaannya saja.


"Bukan kayak begitu Mun, dengerin Abang dulu." bujuk Babe Rojak mulai meredakan suaranya.


"Kagak, aye marah same Abang. Jatah libur buat Abang," dengan memanyunkan bibirnya, Nyak Munah masuk kedalam rumah lalu menuju kamarnya. Tak lupa mengunci pintunya agar Babe Rojak tak dapat masuk ke dalam.

__ADS_1


Sakti yang baru saja akan keluar kamar sontak menggelengkan kepalanya melihat drama kolosal pagi-pagi antara Babe dan Nyak-nya. Jika di ikan melayang penuh drama menguras emosi jiwa raga, maka disini drama menguras sabar serta kepekaan telinga (Suara semrawut orang lagi perang Baratayudha diatas ranjang).


"Ck! pasangan tuwir membahana ini kagak inget same umur kali ye, ude tue juge kelakuan masih kayak bocah aje." dengus Sakti lalu beranjak keluar rumah untuk berangkat kerja.


Baru saja Sakti menaiki motornya, didepan gerbang nampak sebuah mobil berhenti. Lalu keluarlah si bungsu bersama buntutnya, siapa lagi jika bukan si Ririn beserta anaknya. Tak lupa Zain mengikutinya dari belakang sembari membawa keperluan si kecil.


"Woy oncom, kagak kerje lue?" tanya Sakti ketika memperhatikan pakaian santai yang dipakai adik iparnya itu.


"Q_time with family bang." jawab Zain dengan menurunkan stroller dari dalam bagasi mobilnya.


"Gaye bener lue" cibir Sakti.


"Ntaran juga Abang paham kalo udah berkeluarga." Jawab Zain santai.


"Iye ntar ye," Sakti menjawab pelan tak lupa senyum tipisnya.


"Gue berusaha percaye takdir, dan gue yakin dia bakal kembali ke tempat dimana hati gue lah yang disebut rumah dia buat balik." jawab Sakti mantap.


"Tetap optimis bang, semangat dalam menjalani." Zain menepuk pundak Sakti untuk menguatkan.


"Iye ude, abang berangkat dulu ye oncom!" seru Sakti lalu segeta menancap gasnya menuju kantor tempatnya menguras keringat dan otak selama ini.


"Iye bang, aty-aty." lalu Zain masuk ke dalam rumah mertuanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tangis Winda pecah begitu membaca isi dalam diary nya itu, ia yang tengah hilang ingatan tak dapat mengingat apapun. Bahkan sosok lelaki yang paling di cintainya pun tak dapat ia ingat sama sekali. Entah bagaimana ceritanya ia bisa mengalami kecelakaan hingga membuatnya kehilangan segala ingatannya.


Lalu kedua orang tuanya juga mengapa tega menyembunyikan semuanya, apa sebegitu tak sukanya mereka terhadap kekasihnya itu? Apa hanya karena kasta berbeda mereka tega memisahkan begitu saja?.


Dalam benak Winda yakin, jika kekasih hatinya itu tidak tahu bahwa ia telah mengalami kecelakaan saat itu. Mungkin saja, kekasihnya itu berpikir jika ia tega meninggalkannya tanpa pesan apapun.


Hiks... Hiks...


Tak dapat Winda bendung segala kesakitan dalam hatinya, dadanya begitu sesak sesaat. Pikirannya berkecamuk memikirkan segala hal yang telah terjadi. Waktu dua tahun bukan waktu singkat, apa kekasihnya itu masih mengingatnya? Atau justru telah melupakannya beserta rasa benci teramat dalam padanya.


'Apakah kau masih mengingatku? Apakah kau membenciku yang pergi tanpa pamit padamu? Bila kah kita dapat bertemu dan kembali bersama, Sayang.' gumamnya pilu.


Pikiran Winda kacau, tiba-tiba saja kepalanya berputar hebat. Kilatan-kilatan gambar silih berganti datang seperti kaset menghantam daya pikirnya agar mengingat segalanya. Ia mengerang kesakitan menahan rasa di kepalanya, seolah ribuan jarum tengah menancap di dasar otaknya. Semakin lama semakin sakit dan berat kepala yang ia rasakan.


"Aku bahagia memilikimu, walau perbedaan kita jauh namun rindu melekat di hatiku. Bahkan bulan dan bintang bukan tandingan untuk menyaingi keindahan mu." Ucapnya lirih sebelum ia kehilangan kesadaran disaat itu juga.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ditempat lain...


Entah mengapa jantung Sakti berdetak begitu kencang, seolah ada rasa rindu membuncah yang siap meledak kapan saja. Semakin lama debaran itu semakin cepat, membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata di ujung matanya.


"Ada apa denganku?" Gumamnya. "Kenapa aku tiba-tiba menangis?" Ucapnya sembari mengusap ujung matanya.


Terlihat guratan rindu tiada terkira dalam kilatan mata Sakti, kerinduan yang telah lama ia bendung menunggu sang pujaan hati datang kembali menyirami gersang dalam sepinya.

__ADS_1


'Winda....' lirihnya tanpa sadar ketika menyentuh dadanya yang berdebar.


__ADS_2