TERKASIH

TERKASIH
Bisakah ku peluk bayang mu ?


__ADS_3

"Mungkin ragaku jauh, bahkan tak mampu menyentuh mu. Namun percayalah, hatiku tetap mengingat mu dalam setiap tarikan napas ku..."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lantunan merdu suara kicau burung di pagi hari tak mengurangi segala keresahan di hati. Setiap tarikan napas tiada arti tatkala rindu menyeruak merangkai diri. Wahai hati, tidak kah kau lelah akan penantian sia-sia ini? Sampai kapan kau akan terbelenggu dalam nasib rindu tak pasti?. Memang sudah NASIB !


'Mengapa kau pergi


Mengapa kau pergi,


Disaat aku mulai mencintaimu...


Berharap engkau jadi kekasih hatiku...


Malah kau pergi jauh dari hidupku....'


Bahkan iringan lagu mellow kali ini menambah kadar kegalauan kala hati sepi menyendiri.


"Mungkin ragaku jauh, bahkan tak mampu menyentuh mu. Namun percayalah, hatiku tetap mengingat mu dalam setiap tarikan napas ku..." lirih Sakti di depan cermin. Hadeh! sungguh abang satu ini nggak pernah kapok ya, udah tahu cermin nggak bisa ngomong. Malah di ajakin curhat, 🙄


"Semangat lah wahai anakku Sakti Surojak, ingatlah satu hal bahwa kau tak sendiri. Dan juga kau harus mengerti, diusia bangkotan mu kini sudah seharusnya... KAWIN!" seru Babe Rojak di depan pintu kamar Sakti ketika tak sengaja mendengar gumaman nya.


Mendengar ucapan Babe Rojak membuat Sakti mendengus kesal, selalu saja Babenya satu itu. Suka sekali menghina anaknya dan membuat jiwa gemas anaknya meronta karena di sebut bangkotan. Tak tahukah jika dirinya seorang... Bocah Badung, tengil, dan jangan lupa sikap manja dan jahilnya. Dan tentu saja MASIH berjiwa muda.


"Kagak saleh beh, yang bangkotan siape malah nyalahin siape. Sadar diri beh, sebelum sadar kehilangan jiwa kewarasannye." ejek Sakti menatap Babe Rojak dengan muka sebalnya.


"Heleh, hobi lue ntuh kalo kagak angrem ya galon begitu. Babe jadi heran, boleh di tukar tambah kagak sih lue." sarkas Babe Rojak yang tak tahan melihat jiwa melas anaknya satu itu.


"Tega emang Babe jual aye?"

__ADS_1


"Terpakse lah,"


"Babe durjane emang, anak sendiri mau di buang." decak Sakti menatap Babenya.


"Lebay!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ditempat lain....


Kini Winda nampak bersiap pergi menuju toko buku disalah satu mall terkenal di daerah jakarta. Sejak kehilangan ingatannya dan berada di Paris, waktu yang dimilikinya hanya dihabiskan dengan membaca buku saja. Sampai saat ini, ia masih mencoba mengalihkan pikirannya dari bayangan sosok tampan dalam mimpinya yang hadir di setiap malam tidurnya.


Jika ditanya pernahkah Winda berusaha untuk mengingatnya? Jawabannya adalah iya. Bahkan tanpa sepengetahuan ayah dan mamanya, ia pergi ke psikiater untuk berkonsultasi saat berada di Paris. Namun hasilnya nihil, tak ada yang berhasil di ingatnya satupun.


"Baiklah Winda, kita berangkat." ucap Winda kepada dirinya sendiri penuh semangat.


Dengan langkah riang, Winda masuk ke dalam mobil yang siap mengantarnya kemanapun yang ia mau. Meskipun harus bersama supir tak masalah baginya, asal ia bisa berkeliling dan pergi keluar mansion.


DEG...


'Mata itu...' lirihnya.


Baru saja Winda berniat membuka kaca jendela, lampu lalulintas sudah berubah warna. Tanpa menunggu lama, sang pengendara segera melesat pergi meninggalkan Winda yang masih menatap ke arahnya hingga menghilang.


Diusap jantungnya yang berdetak kencang, lalu air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipi. Satu hal yang dirasakan hatinya saat ini, yakni "Rindu".


"Apakah aku mengenalnya? siapa dia? mengapa aku merasakan jantungku berdegup kencang ketika melihat matanya." tanya Winda pada dirinya sendiri lalu menyuruh sang sopir kembali ke mansion dan mengurungkan niatnya untuk mencari buku. Saat ini yang dipikirkan Winda hanya satu, GUDANG!.


Dirinya sangat yakin, jika dalam gudang itu pasti menyimpan sejuta bahkan berjuta jawaban dari segala pertanyaan di hatinya saat ini. Karena segala barang yang menghubungkan dengan masa lalu Winda sudah disingkirkan oleh ayah Andrei tanpa sisa.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dengan napas ngos-ngosan, kini Winda berada di depan ruangan terbengkalai yang ia duga adalah sebuah gudang.


"Aku yakin jika jawabannya ada disini." Ucap Winda dengan napas memburu, lalu mencoba membuka kunci gembok tersebut.


"Ck! keras sekali sih." gerutu Winda yang kesal lantaran sudah tidak sabaran untuk melihat isi gudang itu. "Dobrak aja kali ya? tapi badan gue kan gepeng. Mana bisa ke buka itu pintu," pikirnya.


Ditatapnya sekeliling dengan seksama, mungkin saja ada benda yang bisa berguna untuknya. Winda memindai setiap sudut, hingga matanya terpaku sebuah linggis yang tajam di samping lemari usang dalam sekat dinding.


"Terima kasih Tuhan, kau permudah jalanku." lirihnya lalu mengambil senjata tajam itu untuk membuka paksa gembok di pintu gudang.


Sekuat tenaga Winda menghujamkan sisi runcing pada linggis itu ke arah gembok, percobaan sekali dua kali gagal. Hingga percobaan ke lima barulah gembok itu terbuka dan jatuh ke bawah.


Perlahan Winda masuk ke dalam, suasana pengap tercium oleh indra penciumannya. Mungkin karena terlalu lama gudang ini tak di bersihkan, terlihat dari banyaknya debu yang menempel pada setiap barang. Jemari Winda menyentuh setiap barang satu persatu, namun tak membuat ia mengingat apapun. Langkahnya terus mengelilingi isi gudang hingga tatapannya tertuju pada sebuah kardus berwarna pink di atas lemari yang tinggi.


Penasaran dengan isi kardus tersebut, Winda mengambil sebuah kursi lalu ditaruhnya di samping lemari sebagai pijakan kakinya. Ia menaiki kursi tersebut dan meraih kardus pink itu.


Kini kardus tersebut telah berpindah ke tangan Winda setelah beberapa menit berjuang untuk meraihnya. Dengan tergesa Winda turun dari kursi lalu meletakkan kardus itu di atas lantai. Tak sabar untuk mengetahui isinya, disobek keras kardus itu hingga isinya berceceran di lantai.


'Ini...


Tangan Winda yang gemetar menyentuh sebuah bingkai foto lalu mengusapnya lembut untuk menghilangkan debu yang menempel. Didalam bingkai foto itu terdapat potret dirinya dengan seorang pria. Hati Winda bergetar saat menatap wajah pria dalam potret itu, tanpa sadar air matanya menetes.


"Aku menangis? Apa pria yang ku lihat tadi adalah kamu? Namun siapa kamu? Apa hubungan kita?" berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Winda.


Kembali Winda merapikan barang-barang yang sudah berserakan di lantai lalu memasukkannya ke dalam sebuah kardus baru dan dibawa menuju kamarnya. Didalam kamar, ia membongkar lagi isi dalam kardus tanpa tersisa.


"Aku familiar dengan semua barang-barang ini," lirihnya.

__ADS_1


Tatapan Winda tertuju pada sebuah diari berwarna biru, dimana warnanya sudah usang bahkan hampir pudar. Ia meraih buku itu, lalu membawanya ke atas ranjang dan mulai membacanya perlahan.


"It's me....


__ADS_2