
"Besar kecil ukuran wadahnya tidak mempengaruhi kualitas dari isinya. Karena pada dasarnya tetap sama, sama berisi sumber kehidupan untuk penerus bangsa. Yang terpenting, punya apem melembung bermahkota almond bukan datar bertahta toping kuaci. Kan nggak lucu !"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam warung soto milik Ahong, terlihat Nyak Munah menyantap dengan nikmat semangkuk soto pesanannya. Tak perduli pelanggan kanan dan kiri, depan serta belakang yang menatapnya. Entah ekspresi jijik atau merendahkan, heran hingga terkagum. Yang jelas, perut kenyang sudah cukup bagi Nyak Munah. Selebihnya urusan mereka sendiri bukan urusannya.
Sedangkan Sakti hanya melihat sekeliling tanpa niat memesan makanan karena perutnya masih kenyang. Tepatnya lagi masa diet lantaran perutnya sedikit membuncit ke depan kebanyakan ngemil. Membuat baju batik untuk lamarannya sedikit tidak muat. Hingga mau tak mau Sakti harus menurunkan berat badannya.
Sebenarnya Winda tak keberatan malah mengajak Sakti untuk membeli baju batik lagi. Namun Sakti menolak, menurutnya baju batik satu itu sudah pas. Pas di hati, pas di selera, pas untuk pandangan mata, dan tentu saja harganya pas di kantongnya. Wkwkwk...
Hampir satu jam, ia dan Nyak Munah berada di dalam warung soto. Menunggu Jamilah menyelesaikan tugas yang diberikan Nyak Munah untuk mencari barang seserahan. Hingga dua jam berlalu, tak nampak tanda-tanda kedatangan Jamilah untuk menghadapnya. Membuat Nyak Munah penasaran, kenapa belum beres juga tugas darinya.
"Sak, yok kite samperin si Milah. Kenape lame bener cari barang begituan doang." Nyak Munah bangkit dan berlalu keluar dari warung di susul oleh Sakti.
"Iye Nyak, lame bener. Aye juge penasaran," jawab Sakti.
"Makanye ntuh."
Setelah masuk ke dalam toko, Nyak Munah melihat Jamilah tengah mengomel pada karyawannya. Entah apa yang di ributkannya, hingga suara cemprengnya terdengar seperti kaleng rombeng membuat Nyak Munah mengorek telinganya seketika.
"Ade ape sih ini?" Tanya Nyak Munah menghentikan aksi Jamilah yang tengah latihan vokal.
"Aduh Nyak, kok nggak bilang kalo udah selesai acara makannya. Cepet banget sih Nyak," ucap Jamilah dengan sejuta senyum manis mahduhnya.
'Cepet apanye, nangkring hampir dua jam dibilang cepet. Soang ini orang,' gerutu Sakti dalam hati.
"Apanye yang cepet? Kagak liyat ude tepos ntuh kursi gue dudukin hampir due jam. Gimane? Ude selesai belon?"
"Hehehe, kurang satu barangnya Nyak." Jawab Jamilah sambil nyengir.
"Astage, kurang ape sih?"
Jamilah mendekat lalu membisikkan di telinga Nyak Munah, "Kurang wadah apem kembar Nyak, Milah nggak tahu ukurannya Nyak. Di daftar tak tertulis juga."
"Kenape kagak nanyak dari tadi?" Gemas Nyak Munah.
__ADS_1
"Nggak kepikiran Nyak." Cengir Jamilah.
Sakti yang penasaran bertanya kepada Nyak Munah barang apa yang kurang, mungkin ia bisa bantu mencarikan. "Kurang ape Nyak? Biar Sakti yang nyari." Tawar Sakti.
"Kurang wadah apem." Jawab Nyak Munah.
"Wadah apem?" Beo Sakti. "Emang ada dalam daftar Nyak?" Lanjutnya.
"Iye wadah apem, ukuran berape punye si Winda?" Tanya Nyak Munah karena ia tak tahu ukuran apem milik menantunya itu.
"Sejak kapan Winda punye apem Nyak?" Tanya Sakti balik lantaran tak mengerti dengan apa yang maksud Nyak Munah.
"Hadeh, punye anak masih polos begini nih." Nyak Munah menarik telinga Sakti lalu berbisik pelan. "Be Ha maksud Nyak,"
Glek!
Sontak Sakti menelan ludahnya mendengar ucapan Nyak Munah, astaga membuat Sakti membayangkan bentuk dan milik calon istrinya itu seketika.
"Itu, itu... Aye kagak tahu Nyak." Ucap Sakti terbata sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Heleh, ude Nyak duga." Cibir Nyak Munah lalu melengos menatap Jamilah.
"Okeh Nyak." Jamilah segera melesat menuju tangga lantai dua mengambil beberapa model wadah apem terbaru dan terbaik di tokonya.
Melihat wadah apem berjajar dan berbagai jenis ukuran membuat Sakti membulatkan matanya seketika. Otaknya kini bertraveling membayangkan bentuk apem milik calon istrinya mulai dari yang wadah terkecil hingga besar. Pasti sangat menggoda pikir Sakti yang sudah berkelana jauh dalam bayangannya.
"Kalo gede pasti enak banget tuh," gumam Sakti pelan namun masih terdengar di telinga Nyak Munah. Membuat mata tajam Nyak Munah melotot menatap putra bulaknya itu.
"Dasar bulak, bujang lapuk. Bersihin ntuh otak, omes bener." omel Nyak Munah tak lupa capitan mautnya mendarat di lengan Sakti.
"Aduh, sakit Nyak." Ringis Sakti merasakan lengannya panas akibat cubitan Nyak Munah.
"Salah sendiri, sape suruh bayangin yang kagak-kagak." Ucap Nyak Munah menatap tajam Sakti, membuat sang empu sontak menyengir saja.
"Lagian,
__ADS_1
Besar kecil ukuran wadahnya tidak mempengaruhi kualitas dari isinya. Karena pada dasarnya tetap sama, sama berisi sumber kehidupan untuk penerus bangsa. Yang terpenting, punya apem melembung bermahkota almond bukan datar bertahta toping kuaci. Kan nggak lucu !" Celetuk Jamilah menyahuti.
"Bener tuh, bersyukur aje. Kagak useh protes!"
Skakmat !!, Sakti terdiam seketika membenarkan ucapan teman dari Nyak-nya itu.
'Bener juge, mau gede atau kecil pan kagak ngaruh. Yang penting bise di pegang ntar.' batin Sakti lalu terkekeh menertawakan pikiran mesumnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara Winda kini tengah berada di salon kecantikan bersama dengan sang Mama. Winda akan menjalankan serangakaian perawatan kecantikan sebelum acara lamarannya nanti.
Melly, sang Mama memaksa Winda agar mau mengikuti sarannya untuk mempercantik diri walau sebenarnya Winda sudah cantik tanpa perawatan sekalipun. Namun bagi Melly ini adalah tradisi wajib yang harus di lakukan.
"Sayang, kamu pasti nanti terlihat cantik sekali. Mama jamin itu," ucap Melly antusias.
"Seharusnya kita tak perlu seperti ini mah, buang-buang waktu menurut Winda." Ucap Winda malas.
"Haduh, kamu mana ngerti beginian sih. Pokoknya kamu nurut aja sama Mama, okey."
"Hmm," Winda menurut saja, ia terlalu malas berdebat dengan sang Mama.
Keduanya kini terlihat menikmati kegiatan pijat muka sebelum akhirnya di oleskan masker wajah.
"Win, kamu sudah mengirimkan daftar seserahan ke Sakti?" Tanya Melly di sela-sela pijatan dagunya.
"Sudah ma, tadi pagi Winda kirimkan."
"Bagus."
"Tapi ma, apa tadi tidak kebanyakan ma? Sebenarnya Winda tak memerlukan barang-barang yang Mama sebutkan semalam." Kata Winda merasa tak enak hati kepada Sakti lantaran permintaan seserahan yang cukup banyak karena ulah Mamanya.
"Kamu itu nurut aja sama Mama, mungkin saat ini kamu belum memerlukannya. Tapi menjelang pernikahan nanti pasti berguna." Ujar Melly memberitahu.
"Tetap aja Winda tak enak hati ma."
__ADS_1
"Halah, udahlah lagian itu tanggung jawab Sakti. Kamu nggak usah protes, titik." Melly tak ingin membahas lagi, menurutnya bicara dengan anak muda itu membuat keriput di wajah bertambah saja. Tak pernah mau mengerti dan memahami maksudnya.
"Terserah Mama." Pasrah Winda, mungkin nanti ia akan menghubungi Sakti untuk menjelaskan semuanya.