TERKASIH

TERKASIH
Seperti ada yang terlupa.


__ADS_3

"Seperti apa indahnya dunia, bila kah ada setitik kebahagiaan yang tercipta. Walau pada akhirnya kenangan indah terlupa bersama bayang-bayang akan adanya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terlihat di sebuah kursi taman seorang gadis tengah melamun, menatap kosong ke depan bahkan ditangannya nampak buku yang terabai olehnya. Pikirannya berkelana jauh mencoba mengingat segalanya, hampir setahun ia berusaha keras mencoba mengembalikan semua kilatan-kilatan ingatan yang hadir di setiap malamnya.


Bayangan sosok laki-laki yang hadir dalam ingatan, namun nampak tak jelas dalam penglihatannya. Ia yakin jika laki-laki itu memiliki hubungan lekat dengannya. Namun siapa? Wajahnya begitu samar sehingga ia tak mampu menebak siapakah dirinya.


Sepertinya aku melupakan banyak hal, gumamnya.


Gadis itu beranjak dari tempatnya lalu masuk ke dalam mansion, suasana di dalam mansion nampak sepi hanya ada beberapa art yang berada disana. Ayah dan Mamanya selalu sibuk dengan pekerjaan hingga melupakan jika mereka memiliki seorang putri.


Terkadang dalam benaknya bertanya, apakah ia anak kandung kedua orang tuanya? karena sampai saat ini tak pernah sekalipun Ayah serta Mamanya menanyakan kabarnya. Walau ia akui kebutuhan materinya terjamin, namun ia merasa kosong dan sendiri.


Gadis itu bernama Winda Maharani, putri dari Andre Wicaksono dan Melly Maharani. Hampir dua tahun ini Winda berada di Paris, terkurung di dalam mansion yang katanya adalah rumahnya tempat pulang. Namun entah mengapa Winda ragu akan hal itu, tempatnya terasa asing baginya. Tak ada kenangan sedikitpun bahkan tak ada fotonya beserta Ayah dan Mamanya yang menempel pada setiap dinding.


Winda melamun kembali saat duduk di sofa depan televisi, banyak hal mengganjal dalam hatinya. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang mereka sembunyikan? lamunan Winda buyar saat seorang kepala maid menghampirinya.


"Non Winda, silahkan istirahat di dalam kamar. Sebelum itu, non makan siang terlebih dahulu setelah itu meminum obat yang sudah diresepkan oleh dokter." ucap seorang kepala maid yang bernama Bibi Lusi itu.


"Ah, sudah hampir waktu makan siang ya bi, maaf ya Winda kelamaan di taman belakang tadi. Baiklah, aku akan makan siang terlebih dahulu," Winda beranjak dari duduknya menuju meja makan.


"Bi, setelah makan siang tolong temani aku untuk tidur ya." pinta Winda kepada Bibi Lusi yang disetujui secara langsung olehnya. Tujuan Winda saat ini adalah mulai mencari tahu jawaban dari segala gundahnya.


"Baik nona."


 \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Berbaringlah di sampingku Bibi Lusi, temani aku istirahat." pinta Winda setelah menutup tubuhnya dengan selimut.


"Maaf nona, itu hal yang tidak pantas untuk Bibi lakukan." jawab Bibi Lusi dengan lembut.

__ADS_1


Huft,


Jujur saja, Winda selalu merasa kesepian setiap kali harus melakukan apapun sendiri bahkan ditinggal seorang diri didalam mansion. Ingin hatinya berontak dan meluapkan semua inginnya, namun ia sadar jika hal itu hanya sia-sia saja dilakukan. Mengingat begitu egois kedua orang tuanya.


"Setidaknya duduklah di sampingku Bibi," paksa Winda.


"Baiklah nona."


Tak ada pembicaraan diantara keduanya, Winda sibuk dengan pikirannya. Dalam diam Winda mencoba mencari cara untuk mengorek info dari kepala maid itu. Sungguh rasa ingin tahu menderanya, apalagi setiap malam kilatan mimpi-mimpi itu selalu membayang. Terutama sosok pemuda itu, entah mengapa dalam hatinya merasakan rindu yang teramat dalam dan ingin menemuinya.


"Bibi Lusi," panggil Winda setelah sekian lama saling terdiam.


"Iya nona." jawab Bibi Lusi dengan tenang.


"Bolehkah aku bertanya?"


"Tanyakan saja nona, selama Bibi bisa menjawabnya."


"Apa aku memiliki saudara bi?" Tanya Winda dengan sendu, dalam hatinya ia ingin memiliki saudara yang bisa di ajaknya bercerita dan berbagi keluh kesah. Namun entah mengapa ia tak dapat mengingat apapun, apa yang terjadi padanya.


"Tak perlu dijawab jika Bibi Lusi merasa ragu, aku tak ingin menyulitkan Bibi." lirih Winda.


"Anda memiliki seorang sepupu yang sangat dekat dengan nona, hanya saja sepupu nona tidak berada disini. Melainkan di Indonesia," ujar Bibi Lusi yang iba melihat putri majikannya itu alami.


"Mengapa ia tak pernah menghubungi ku? apa hubungan kami cukup baik? siapa namanya?" sontak Bibi Lusi terkekeh geli mendengar antusiasme yang ditunjukkan oleh putri majikannya itu.


"Namanya Zain nona, dan dia sangat dekat sekali dengan nona Winda."


Sungguh demi apapun, Winda tersenyum lebar begitu mendengar ucapan dari Bibi Lusi. Rupanya ia tak sendirian, namun kini dirinya harus menemukan strategi untuk menghubungi sepupunya itu. "Aku jadi ingin tahu dengannya bi, lalu apakah aku memiliki seorang pacar bi?"


"Maaf itu diluar ranah pribadi nona, Bibi tidak berani sembarang menceritakannya." jelas Bibi Lusi seraya berbisik-bisik pelan kepada Winda.

__ADS_1


Winda paham, tak mudah untuk berbicara pembahasan penting di sini. Karena tembok kuat sekalipun masih memliki telinga dimana-mana. Akhirnya Winda memilih tidur saja.


Maafkan Bibi nona, sungguh Bibi terpaksa melakukan ini semua atas permintaan Tian dan Nyonya besar. gumam Bibi Lusi lirih bersamaan dengan meluncurnya air dalam kelopak matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara di kebun terong, nampak Sakti terus menggerutu sebal karena ulah Babenya. Bagaimana tidak, jika ia harus di suruh kesana kemari oleh Babenya itu. "Dasar tukang perintah," desis Sakti sebal.


"Kagak usah ngedumel," teriak Babe Rojak dari pos sambil cekikikan melihat Sakti komat kamit. Sementara Sakti mencebikkan bibirnya saja.


Terlihat jelas jika Babe Rojak berusaha membantu anaknya untuk mengalihkan pikirannya, sebagai seorang ayah tentu ia tahu apa yang tengah dirasakan anaknya itu. Namun ia percaya jika suatu nanti kebahagiaan akan hadir dalam kehidupan putra keduanya itu, hanya tinggal menunggu waktu saja.


Berbahagialah nak, yakin aje kalo kebahagiaan lu suatu hari pasti hadir. gumamnya dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Disebuah ruang tamu, nampak Ririn sedang menemani buah hatinya bermain. Dari arah pintu nampak Zain baru pulang dari olahraga paginya. Zain menuju ke arah Ririn, lalu mengecup keningnya.


"Kau sudah bangun sayang."


"Hmm, mandilah lalu kita sarapan bersama." kata Ririn.


"Baiklah," Zain berjalan menuju arah sang putra, lalu mengusap kepalanya. "Daddy mandi dulu ya boy. Nggak boleh nakal sama Mommy," ucap Zain mencubit pipi gembul putranya itu.


Lantas Zain berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri, sebelum bergabung dengan istri serta putranya itu di meja makan. Sementara Ririn menggendong putranya untuk membawanya ke arah meja makan sembari menunggu Zain.


Usai sarapan bersama, kini keluarga kecil Zain tengah berkumpul di taman belakang. Ririn menyandarkan kepalanya di bahu Zain, sedangkan putranya Riza sedang bermain dengan babysitter-nya.


"Sayang, kenapa melamun?" tanya Zain dengan lembut ketika mendapati istrinya diam saja.


"Aku terpikir bang Sakti, Dad. Aku kasihan melihatnya, Nyak sama Babe juga sedih tiap lihat bang Sakti berpura-pura baik saja, sedangkan tiap malam akan menangis dalam diam sendirian. Dad, apa masih belum ada kabar tentang keberadaan Winda? lirih Ririn membenamkan wajahnya pada dada bidang Zain.

__ADS_1


Sungguh melihat kesedihan dan juga isakan di mata istrinya membuat hati Zain bagai diremas saat itu juga. Namun tak dipungkiri jika memang hampir 2 tahun ini masih belum ada kabar apapun tentang keluarga Om Andre. Seolah keluarga mereka sengaja menghilang bagai ditelan bumi begitu saja.


"Maaf" hanya kata itu yang dapat Zain ucapkan saat ini. Mendengar hal itu membuat tangis Ririn pecah sudah.


__ADS_2