
"Tidakkah engkau tahu, menikah selain menyatukan dua insan manusia juga tempat menyatukan dua hati yang di landa asmara. Lebih tepatnya sebagai bentuk tempat terciptanya regenerasi penerus-penerus jalan cinta kita, jadi ikhlaskan hatimu untukku termasuk jatah main cilukba ku."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
'Tunggu-tunggu,'
Aira mendorong tubuh Abian yang berada di atasnya, lalu memandang suaminya itu tajam. Dalam jiwa Aira mencoba menetralkan debaran hatinya dan juga debaran bikangnya yang mulai nyut-nyutan lantaran ciuman menggebu dari suaminya.
"Kenapa berhenti sih yank?" Protes Abian tak terima, padahal kan jemarinya baru saja menanjak naik bukit masak harus di gelinding ke bawah.
"Aku belum siap," cicit Aira dengan kepala menunduk. "Aku takut kalau sakit gimana?"
"Awalnya memang sakit, tapi setelahnya enak kok. Percaya sama aku yank, pasti ntar ketagihan nggak mau lepas. Kita pelan-pelan aja mainnya, saling menikmati saling merasakan." Bujuk Abian mencoba menenangkan istrinya itu.
"Kata mbak Winda sakit nyeri kalau pertama,"
'Asyem bener itu sepupu ipar, lucknut.' umpat Abian dalam hati lantaran kesal.
"Dengar sayank, awalnya memang sakit karena saat torpedo ku mencoba mengetuk pintu akan sedikit memaksa agar engsel yang menutupi pintunya jebol. Nah, setelah rubuh itu engsel nanti torpedo ku akan keluar masuk dengan suka-suka tanpa rasa sakit lagi." Jelas Abian dengan sabar walau tinggal seuprit.
"Tapi...
"Ssttt," Abian meletakkan jari telunjuknya di bibir Aira.
"Tidakkah engkau tahu, menikah selain menyatukan dua insan manusia juga tempat menyatukan dua hati yang di landa asmara. Lebih tepatnya sebagai bentuk tempat terciptanya regenerasi penerus-penerus jalan cinta kita, jadi ikhlaskan hatimu untukku termasuk jatah main cilukba ku." Ucap Abian mode serius membuat Aira terbengong mendengar penuturan suaminya.
"Termasuk jatah main cilukba?" Ulang Aira pada perkataan Abian di akhir tadi.
Dan dengan polosnya Abian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sumringah lantaran mengira Aira mengerti dengan maksudnya.
"Jadi kita main seperti bocah gitu? Omg, kita kan baru nikah harusnya kawin dong." Sewot Aira.
"Iya maksudnya itu yank."
"Apaan malah ngajak main petak umpet begitu."
'Lama-lama kok gue jadi emosi ya, boleh sleding ini bini kagak sih.' umpat Abian.
"Dah kelamaan yank, debatnya kita tunda ntar aja."
Abian segera memagut habis bibir Aira, dengan jemari nakalnya membelai leher milik Aira. Tak sampai disitu, satu tangan sakti nampak semedi di atas puncak bukit sambil memijat-mijat lembut.
Ugh,
__ADS_1
Suara lenguhan sexy Aira keluar begitu saja kala merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya untuk pertama kali. Aira mengalungkan tangannya ke leher Abian erat dan mulai membalas ciumannya perlahan.
Daging tak bertulang milik Abian menerobos masuk ke dalam rongga mulut Aira mencari pasangannya untuk saling duel lompat tali. Saling membelit saling menghisap dan saling mendorong satu sama lain.
Perlahan jemari lentik Aira membuka kancing baju tidur milik Abian kemudian melemparkannya ke bawah ranjang. Lalu ia mulai menyusuri setiap inci dada kekar Abian dengan sesekali membelainya membuat Abian keliyengan seketika.
"Sayank, kau membuatku tak dapat menahannya lagi." Ucap Abian setelah melepas ciumannya.
"Lakukanlah pelan-pelan... Mas." Lirih Aira malu-malu saat mengucapkannya.
Mendengar hal itu sontak Abian tersenyum lebar, lalu mulai eksekusi bagian bawah. Namun baru saja Abian meraih popok penghalang bikang, ada yang mengetuk pintunya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Bang Abian...." Pekik seseorang di depan pintu kamar, dimana Abian sangat mengenali milik siapa suara itu.
Sambil mengumpat, Abian mengacuhkan saja gedoran pintu kamarnya. Hingga kesabarannya habis kala suara gedoran pintu itu semakin brutal membuatnya berkali-kali gagal menjebol.
"Sialan," umpat Abian beranjak berdiri lalu melangkah mendekat ke nakasnya mengambil ponselnya.
Tut... Tut.... Tut...
"Woah tengoklah ini pengantin baru, bukannya main gobak sodor malah nyari pelampiasan lain." Sahut Sakti begitu sambungan terhubung padanya.
"Buahahahaha ladang banjir nih kayaknya." Timpal Bima.
"Alamat main sama Bulux nih, buahahahaha." Imbuh Ibnu.
"Sudah?" Kesal Abian. Sungguh saudara-saudaranya itu terlalu, bukannya prihatin malah ngetawain.
"Ada apa kisanak, malam-malam begini nyari kelelawar lewat." Tanya Bima memperagakan seorang pengembara.
"Matamu kelelawar, cepetan ke kamar gue. Usir itu kuntil manak dari depan pintu kamar." Umpat Abian sebal lantaran lagi-lagi main gobak sodor tertunda.
"Hah? Lue ngigo, mane ade rumah lue pelihare demit." Ucap Sakti.
"Kayaknya kang rusuh Wewe gombal deh." sahut Ibnu.
"Mana mungkin kan lagi sama gender huwo dia, pacaran." timpal Bima.
__ADS_1
Nah kan,mulai eror semua otaknya. Konslet emang ini tiga orang, wkwkwkkk. Sabar ya Abian...
'Sabar Abian sabar, ingat tujuan akhir main gobak sodor. Tahan jangan emosi, ntar pahala tipis.' batin Abian sebal.
"Dah pokoknya kalian bertiga usir itu si jelly dari kamar gue. Titik. Dan SE KA RA NG !!!" Abian memutuskan sambungan teleponnya lalu mematikan ponsel segera agar tak ada lagi yang menganggunya.
Dengan hati dongkol Abian meletakkan ponselnya ke atas nakas begitu saja, kemudian berbalik menatap istrinya yang juga menatapnya.
"Mas... Itu yang ngetuk siapa sih, brutal banget." Kata Aira.
"Demit penunggu pintu WC yank, dah kita abaikan. Yuk lanjut lagi." Abian segera menindih tubuh Aira kembali lalu mengulang adegan stempel bibirnya dengan jemari menjelajah ria di atas tubuh molek istrinya, walau badannya... Pendek.
"Tahu nggak sayank, kenapa lelaki lebih suka tubuh wanita pendek?" Tanya Abian sambil menciumi leher Aira.
"Kenapa?" Tanya Aira kembali dengan napas tertahan kala merasakan sensasi getaran aneh pada tubuhnya kembali.
"Karena... Lebih mudah di bolak balik saat main gobak sodor." Jawab Abian nglantur lalu memulai aksi utamanya.
Plakk!!
Tangan Aira memukul bahu Abian kesal, "Kau pikir ikan asin, hah!!" Sentak Aira.
"Ikan asin legit yank," Abian kembali membenamkan bibirnya pada bibir Aira.
Ehmm...
Kedua pengantin itu asyik mengarungi surga dunia demi menebar benih saham terciptanya penerus-penerus seorang Abian junior dan Aira junior.
Sementara kedua pasukan ngenes alias Ibnu dan Bima tengah menyeret si biang kerok yang mengganggu kelancaran aksi ngeronda Abian ke luar rumah.
"Ih bang Ibnu sama bang Bima ngapain sih, kan aku mau ngerjain bang Abian." ucap gadis itu kesal.
"Wah nih anak ngajak gelud Bim," Kata Ibnu.
"Hajar aja deh Nu, biar si jelly kapok nggak berani main kesini lagi." balas Bima.
"Okey deh, Gas..."
"Eh eh eh, kalian mau ngapain? Gue teriak nih." Ancam si jelly pada Ibnu dan Bima, hingga membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, ude dah, Yook balik. Kalo kagak mau bilangin ke Mamak lue ntar ye." Ancam Ibnu sambil mencopot sepatunya. kemudian melepas kaos kakinya yang baunya cukup bikin semua kediaman pingsan. Dengan sengaja Ibnu melempar kaus kaki itu ke arah si jelly, hingga....
Brukkk !!!
__ADS_1
Tubuh si jelly pingsan ditempat.