
"Kata orang, jodoh itu cerminan diri. Jadi terima saja, siapa tahu dia tercipta sebagai pelengkap tulang rusukmu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di rumah makan tempat kerjanya, Aira tengah dibuat pusing dengan ucapan wanita paruh baya yang mengatakan jika ia adalah calon menantunya. Bahkan wanita paruh baya yang bernama Sita itu terus saja mendesak agar ia memanggilnya dengan sebutan ibu.
Tangan Aira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung dengan kejadian mengejutkan hatinya yang secara tiba-tiba ini.
"Emm, Tante...
"No, panggil ibu sayang. Mulai hari ini Aira panggil ibu no Tante, karena kamu calon menantu ibu." Ucap Sita lalu menggenggam tangan Aira sambil tersenyum.
"Sepertinya Tante, eh maksud saya ibu, mungkin ibu salah paham, saya tidak mengenal anak ibu." Jelas Aira lembut.
"Ah masak sih, tak perlu malu-malu sama ibu. Apalagi kalian sudah nganuh-nganuh kan." Ucap Sita cekikikan membayangkan sebentar lagi ia akan menjadi nenek. Uh, rasanya ia sudah tak sabar menggendong cucunya nanti.
"Hah? Nganuh-nganuh apa ya bu, maaf Aira tidak mengerti."
"Aduh sayang, kalian sudah gini kan?" Sita menautkan dua jari telunjuknya kanan dan kiri saling bertabrakan.
Sontak Aira membulatkan matanya, ia mengerti sekarang maksud dari nganuh-nganuh yang dibicarakan. OMG!! bagaimana ia melakukan itu, sementara berpegangan tangan dengan laki-laki saja ia tak pernah. Apalagi main buka-bukaan lalu main gulat di atas ranjang. Astaga,
Selain itu, ia juga tak mengenal anak dari wanita di sampingnya ini. Jangan-jangan ini salah satu bentuk penipuan berkedok mencari menantu untuk anaknya yang cacat seperti di sinetron-sinetron ikan melayang.
Kini Aira nampak menelisik penampilan Sita dari atas sampai bawah, elegan sih, kelihatan kaya, tapi mukanya kelihatan... JUDES banget. Ih, membayangkan memiliki mertua jahat saja membuat Aira bergidik ngeri.
"Belum bu, lagipula saya tidak mengenal anak ibu lho. Gimana mau itu-ituan." Jawab Aira malu-malu dengan muka memerah karena membahas hal sensitif meskipun itu dengan sesama perempuan tetap saja ia merasa malu.
"Lho kok tidak kenal sih, kata keponakan ibu kamu itu calon istri Abian. Gimana sih!" Ucap Sita kesal karena merasa di tipu si karung Sakti. Calon menantu apanya, yang ada ini malah tidak kenal anaknya. Dasar si karung biang gosip emang, baru aja jantungnya berbunga-bunga lantaran berharap agar segera memiliki cucu. Ini malah calon mantunya tidak kenal calon suaminya sendiri. Huh, sebel deh.
__ADS_1
"Hah? Tunggu-tunggu, Abian? Maksud ibu bos disini?" Tanya Aira tergagap, karena yang dihadapinya ternyata ibu dari sang bos.
"Iya, dia pemilik rumah makan ini. Eh , bukan-bukan tapi pewaris karena rumah makan ini masih atas nama ibu dan rencananya mau ibu wariskan saat Abian sudah menikah nanti. Makanya pas ibu denger si Abian udah punya calon, ibu seneng banget dengernya terus ibu juga bela-belain kesini lho buat lihat calon menantu ibu ini. Ternyata mata itu anak pinter juga milih calon istri, cantik sekali." Jawab Sita antusias menjelaskan pada calon menantunya ini sekaligus memujinya biar luluh untuk jadi calon istri anaknya. Lagi modus calon mertua on, wkwkwk.
'Malah curhat!' batin Aira.
"Tapi saya dan bos nggak ada hubungan apa-apa bu, kami murni pegawai dan atasan." Ujar Aira.
"Sekarang aja pegawai atasan, ntar juga bakalan jadi istri. Jadi rangkap aja, jadi pegawai sekaligus istri pemilik rumah makan ini." Celetuk Sakti menyahut sambil berjalan mendekat bersama Abian yang sudah memberengut lantaran sang ibu sudah duduk bersama calon istrinya. Eh, calon istri katanya. 😂
"Nah setuju itu Tante sama kamu karung," Sita mengangkat jempolnya ke arah keponakannya itu.
"Tante ih, kebiasaan. Manggil karung lagi, aye balik pulang nih."
Nah loh, si sakti merajuk hayoo. Siapkan balon kotak hayo buat bujuk 😂.
"Heh, udah kawin kagak usah sok imut. Pakek merajuk segala, kagak malu sama bocah lima tahunan." Omel Sita menatap keponakan sengkleknya itu, yang sayangnya teman gosipnya juga. Tentu saja menggosipkan anaknya, memang mau siapa lagi.
Walau mulut Sakti makan nantinya, tetap saja telinganya waspada karena mode gosip sudah dinyalakannya. Hal itu terbukti dari Sakti yang mencari tempat duduk terdekat untuk menguping.
"Ibu salah paham, ini nggak seperti yang ibu kira. Kita nggak pernah nganuh-nganuh, mulut si karung aja minta di semen. Kalo ngomong nglantur," kesal Abian pada sepupunya itu, karena mulut cepunya itu semua jadi salah kaprah begini.
"Eh, malah nyalahin gue. Kan lue tadi yang bilang tiap ketemu sama si pendek suka gelut muluk. Jadi bukan salah gue dong," bela Sakti pada dirinya sendiri sambil mulut mengunyah makanan pesanannya.
Makan muluk emang ini orang, 🙄.
"Habis lue pakek acara penasaran segala, udah tahu punya bini sendiri malah penasaran sama calon bini orang lain." Ejek Abian kemudian terkejut lantaran terdengar suara gebrakan meja dari arah ibunya.
Brak!
__ADS_1
"Kalian berdua harus menikah, mau tak mau kalian menikah. Jika kalian tidak mau...
Kamu!" Tunjuk Sita ke arah anaknya sendiri.
"Keluar dari kartu keluarga tanpa jatah warisan juga. Dan kamu," giliran Sita menunjuk ke arah Aira.
"Kalau menolak pernikahan ini, siap-siap saja. Saya buat kamu hamil cucu saya, hahaha." Sita tertawa sendiri mendengar ide ancaman yang ia tujukan kepada calon menantunya itu.
Mendengar hal itu, sontak ketiga makhluk yang waras itu menepuk keningnya masing-masing.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam kontrakannya Aira mengacak rambutnya frustasi, sejak pertemuannya dengan orang yang bernama Abian hidupnya menjadi apes. Ada aja godaannya,
Aira menatap pantulan dirinya dari cermin kamar, menilai fisiknya dari atas sampai bawah kemudian menggelengkan kepalanya.
'Kau memang terlalu sempurna Aira, hingga akhirnya kau dilamar paksa dan disuruh menikah paksa oleh calon mertuamu sendiri.' batinnya kepedean lalu memukul kepalanya tiba-tiba kala hatinya mengakui jika ibu Abian adalah calon mertuanya.
"Uh dasar menyebalkan, haruskah aku menikah sama makhluk nyebelin seperti Abian?" Gumam Aira.
"Seperti apa sifatnya? Sikapnya? Kebiasaannya? Bahkan tak ada satupun aku tahu." Lanjutnya.
Tiba-tiba bayangan dirinya di dalam kaca berbicara,
'Kata orang, jodoh itu cerminan diri. Jadi terima saja, siapa tahu dia tercipta sebagai pelengkap tulang rusukmu.'
"Cih, sok tahu banget!" Umpat Aira kemudian berjalan keluar kamar karena bel rumahnya tak berhenti berbunyi.
"Siapa sih, malem-malem gini bertamu. Kagak tahu etika ya," gerutu Aira yang berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
Ceklek.....
Surprise!!