
"Mau bilang iya tapi... GENGSI !! Yang ada malah di KECENGIN !!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Banyaknya tumpukan pekerjaan tak membuat Sakti tenggelam dalam kesibukannya, terbukti saat ini ia tengah melamun dengan sesekali menyentuh dadanya. Entah mengapa debaran itu tak mau menghilang bahkan semakin kencang setiap waktu. Jujur saja dalam pikiran Sakti sempat terbesit jika terdapat kelainan pada jantungnya, namun ia kembali berpikir jernih. Selama ini ia sehat-sehat saja, justru semakin rajin olahraga hampir setiap hari. Dari segi makanan pun bisa dibilang teratur dan tidak sembarang, walau harus berujung sambel bajak teri itu bukan masalah.
Jika masalah lambung yang tinggi, itu lebih tidak mungkin lagi. Karena Sakti tak pernah sedikitpun yang namanya telat makan. Jika hal itu terjadi maka bisa dipastikan kalau ia tengah khilaps tak berkecukupan alias kantong kerinting. Maklum, hidup tak semulus aspal apalagi skincare mahal tukang cekik leher.
Huft,
Berulang kali Sakti menghela napasnya, hingga membuat Cakra yang duduk didepan mejanya sebal sendiri. Ada apa dengan temannya satu itu, kenapa pikirannya nampak gusar sekali.
"Sak!" Panggil Cakra sembari membereskan pekerjaannya yang tinggal sebagian itu.
Sakti tak menyahut, hanya mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya ada apa. Tentu saja hal itu semakin membuat jiwa sabar Cakra meronta ingin menabok wajah menyebalkan itu.
"Ck! Jawab ngapa kalo orang manggil, nyebelin banget. Ngapa loe kok gelisah gitu, cerita sama gue. Biar gue nggak kepo!" Ujar Cakra.
"Nggak, gue bukan kang gosip kayak loe. Lagian ini masalah pribadi gue, cukup gue yang rasain."
"Patah hati loe? Apa ditinggalin?" Tohok Cakra tepat sasaran membuat Sakti terdiam seketika.
Melihat temannya diam saja, berarti tebakannya benar adanya. Huh, dasar !!
'Mau bilang iya tapi... GENGSI !! Yang ada malah di KECENGIN !!' batin Sakti.
"Kalo emang itu cewek serius sama loe, dia nggak bakalan ninggalin loe gitu aja. Lagian pasti ada alasan kenapa itu cewek pergi, dan kalau loe emang masih suka sama tuh cewek ya kejarlah. Cari tahu alasan dia kenapa pergi dari loe," nasihat Cakra.
"Sok tahu loe!" Kilah Sakti sembari memulai pekerjaannya.
"Dikasih tahu ngeyel, dikasih tempe protes. Sekarepmu wes!!" Rajuk Cakra dengan gaya lebay nya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sebenarnya kemana aja loe selama ini Win?" Tanya Zain mengawali pembicaraan. Sebagai sepupu, ia sangat senang akhirnya sepupunya telah kembali. Namun disatu sisi ia menyayangkan karena sepupunya pergi tanpa berita bahkan hampir dua tahun lamanya. Dan kini kembali bahkan duduk dihadapannya.
Saat mengantar istrinya ke rumah mertuanya, anak buah Zain menelpon dan mengabarkan keberadaan sepupunya itu. Tanpa menunggu lebih lama, Zain memerintahkan anak buahnya untuk membawa Winda bertemu dengannya saat ini juga.
Menurut Zain sudah saatnya memperjelas ini semua, dan sudah saatnya bagi kakak iparnya itu berbahagia.
"Ceritanya panjang," desah Winda penuh gelisah.
"Ceritakan.... Aku siap mendengarkan." Ucap Zain tenang.
Dengan menghela napas berat, Winda akhirnya menceritakan semuanya tanpa terkecuali dan ditutup-tutupi.
Flashback on
Malam itu pertengkaran hebat terjadi antara Winda dan Andrei, sang ayah. Andrei menentang keras hubungan antara Winda dan Sakti, menurut Andrei jika Sakti seorang laki-laki yang tidak pantas bersanding dengan putrinya.
"Ayah tidak bisa memaksaku, ini hatiku. Harusnya ayah memikirkan kebahagiaanku!" Pekik Winda tak terima.
"Ayah lupa, harta bisa dicari yah. Tapi ketulusan dan keseriusan tak akan pernah bisa di temui. Kita dulu juga orang miskin ayah, lalu mengapa ayah tak melihat kebelakang. Aku bahagia bersamanya, dengan atau tanpa harta." Tegas Winda.
"Bodoh, jika kamu masih keras kepala seperti ini dan tak mau mendengarkan perintah ayah. Mulai besok kamu dilarang keluar mansion dan lusa kita pergi keluar negeri."
"TAK ADA BANTAHAN !" Titah Andrei ketika melihat Winda akan protes kembali. Dengan penuh amarah, Andrei pergi meninggalkan Winda yang tengah menangis tersedu-sedu.
'Ayah keterlaluan!' lirih Winda.
"Tidak! Aku tak mau berpisah dari Sakti. Aku tak mau kehilangannya, aku nggak rela. Lebih baik aku pergi saja, mungkin Zain bisa membantuku." Gumam Winda lalu beranjak menuju kamarnya menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya nanti.
Tepat pukul dua belas malam, Winda mulai mengaitkan beberapa sprei lalu di ikatkan pada pagar pembatas balkon kamarnya. Dengan susah payah Winda akhirnya berhasil sampai di bawah, perlahan Winda mengendap-endap menuju gerbang samping. Melihat sekitar sepi, Winda segera berlari pergi meninggalkan mansion.
__ADS_1
Winda terus berlari kencang dengan sesekali melihat kebelakang, takut ada anak buah ayahnya tengah mengejar. Winda tak perduli dengan lelah tubuhnya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bisa pergi menjauh.
Tiba di sebuah jalan raya, Winda yang mengira jalanan sepi segera berlari menyeberang jalan tanpa menoleh kanan dan kiri. Hingga sebuah mobil yang melaju kencang mengarah padanya tanpa bisa dihindari lagi.
Brak !!
Tubuh Winda terpental jauh, bahkan kepalanya terluka parah. Dar*h menggenang banyak keluar dari kepalanya, sebelum kehilangan kesadaran sempat Winda menggumamkan lirih nama kekasihnya.
'Sakti, aku mencintaimu. Maaf!',
Sejak kejadian itu, Winda dinyatakan koma hingga membuat kedua orangtuanya sepakat membawanya pergi melanjutkan pengobatan ke luar negeri. Satu tahun Winda koma, hingga saat bangun ia tak mengingat apapun. Dan yang ia tahu, sudah berada di Paris saat itu.
Flashback off
"Aku kehilangan ingatanku, aku lupa segalanya. Bahkan aku tak mengingat siapa diriku," terang Winda usai menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Lalu? Kau sekarang sudah ingat semuanya?" Tanya Zain setelah mendengar cerita pilu sepupunya itu. Sungguh Zain tak menyangka jika Om yang dikenalnya tak sebaik yang ia kira. Rupanya sang Om begitu egois,
"Aku sudah mengingat segalanya Zain, dan aku sangat merindukannya." Jawab Winda sendu.
"Maka temuilah, aku yakin bang Sakti juga sangat merindukanmu. Kau tak tahu apa saja yang sudah di alami bang sakti hampir dua tahunan ini. Dia seperti kehilangan semangat hidupnya, Win." Terang sakti.
"Maaf," hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut Winda saat ini. "Bang Sakti pasti sangat membenciku Zain, aku tak siap." Lanjutnya.
"Pikirkan baik-baik, tidakkah kau kasihan melihat bang Sakti terpuruk Win? Mungkin di depan kami bang Sakti bersikap seolah baik-baik saja. Namun ketahuilah, hatinya begitu hampa dan hancur Win. Sudah cukup kalian berpisah, temui bang Sakti dan jelaskan segalanya."
"Beri aku waktu Zain," pinta Winda dengan suara tercekat.
"Sampai kapan?"
"Aku tak tahu,"
__ADS_1
"Terserah padamu, semoga kau tak terlambat dan menyesal nantinya. Aku pamit," pamit Zain lalu pergi meninggalkan Winda begitu saja. Karena istrinya sudah merajuk untuk minta di jemput pulang.
Winda terpaku mendengar kalimat Zain, lalu meneteskan air matanya kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tengah bingung dengan apa yang harus ia lakukan....