
"Hadirnya adalah anugerah, pertanda bahwa yang kuasa mempercayakan kita sebuah tanggung jawab untuk menuntunnya kelak menjadi manusia sholeh dan sholehah."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebulan berlalu...
Perlahan Sakti mengerjapkan matanya lalu menatap ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi. Mata Sakti menoleh kesamping dan melihat istrinya tak ada di sampingnya.
Hoekk... Hoekk...
Sakti mendengar suara istrinya di dalam kamar mandi yang tengah mengalami morning sickness. Sontak Sakti bangkit dari ranjang lalu berlari ke arah kamar mandi dan mendapati Winda tengah duduk di lantai sambil bersandar di closet.
"Sayank," panggil Sakti khawatir, kemudian menggendong Winda yang sudah lemas ke atas ranjang dan membaringkannya.
Kemudian Sakti mengusap keringat di kening Winda dan beralih ke perutnya sambil berbisik, "Sanju jangan nakal, kasihan bunda nak. Jadi anak patuh okey," bibir Sakti mengecup perut Winda agar calon anaknya yang di beri nama Sanju alias Sakti Winda junior itu mengerti.
Yups, Winda tengah dinyatakan hamil seminggu yang lalu kala ia tiba-tiba pingsan di dalam kamar mandi setelah melakukan ritual beliung bersama Sakti.
Sakti menatap ke arah Winda iba, andai saja ia yang merasakan morning sickness pasti istrinya tak akan tersiksa begini.
Melihat istrinya tertidur, Sakti beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu segera menuju dapur membuat teh hangat.
Usai membuat teh hangat, Sakti juga membuat sarapan sederhana yakni nasi goreng untuk mereka sarapan.
Selesai menyiapkan sepiring nasi goreng dan teh hangat, Sakti membawanya ke dalam kamar dan melihat Winda tengah duduk bersandar di headboard sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Hey, kau bangun sayank." Sakti meletakkan nampannya di atas meja, setelah itu berjalan mendekati Winda.
"Kepala Winda pusing, bang." Keluhnya.
"Sarapan dulu ya, setelah itu minum obat lalu istirahatlah kembali. Tadi abang bikin nasi goreng, sekalian abang buatkan juga teh hangat. Sebentar abang ambilkan," Sakti beranjak mengambil nampan dan meletakkannya di samping Winda.
Diraihnya teh hangat lalu menyodorkannya ke arah bibir mungil Winda, "Minumlah agar mualnya berkurang,"
Tanpa kata Winda menyesap sedikit demi sedikit teh hangat buatan suaminya itu hingga tinggal setengah.
"Hangat bang," lirihnya.
__ADS_1
Bibir Sakti tersenyum dan beralih mengambil sepiring nasi goreng setelah meletakkan kembali gelas teh hangat ke atas nampan.
"Buka mulutnya sayank," pinta Sakti namun Winda menggelengkan kepalanya.
"Mual bang,"
"Tidak akan, percaya sama abang. Nasi goreng ini dibikin dengan cinta, jadi Sanju pasti suka. Ya kan nak?" Sakti mengusap perut Winda mencoba bernegosiasi. Sedangkan Winda yang melihat itu menarik sedikit bibirnya ke atas dengan menahan pusing di kepalanya.
Lalu Sakti meraih sendok kembali dan menyuapi nasi goreng ke dalam mulut Winda.
Lidah dan perut Winda bisa berkompromi rupanya, seperti bisikan cinta dari ayahnya yang membuat Sanju tidak rewel. Pasti kelak anaknya itu akan sangat sayang sekali pada ayahnya. Karena sudah hampir setengah piring habis dimakannya, setengahnya lagi Winda enggan menghabiskan, perutnya sudah terasa kenyang.
"Sudah bang," kepala Winda menggeleng menolak suapan Sakti yang kesekian kalinya.
"Satu sendok lagi ya, yank." Bujuk Sakti, namun tetap saja Winda menggeleng.
Tak ingin memaksa, akhirnya Sakti menaruh kembali piringnya di atas nampan kemudian membuka laci untuk mengambil obat Winda.
"Di minum dulu sayank, habis itu istirahat biar pusingnya hilang.,"
Telapak tangan Sakti menyodorkan obat penghilang pusing serta beberapa vitamin kandungan dari sang dokter.
"Tak perlu berterima kasih sayang, sudah kewajiban abang. Justru abang yang minta maaf, karena mengandung anak abang sekarang kamu jadi merasakan sakit seperti ini." Ucap Sakti sendu.
"Astaghfirullah tidak bang, sungguh."
"Hadirnya adalah anugerah, pertanda bahwa yang kuasa mempercayakan kita sebuah tanggung jawab untuk menuntunnya kelak menjadi manusia sholeh dan sholehah." Ujar Winda menggenggam tangan Sakti lembut.
"Terlepas dia laki-laki ataupun perempuan kelak, kita wajib bersyukur karena itulah hadiah terindah dan juga buah dari pernikahan kita bang. Winda senang bisa mengandung benih abang. Winda merasa hidup kita akan sempurna dengan kehadiran buah cinta kita nanti." Lanjutnya.
Mata Sakti berkaca-kaca mendengar penuturan Winda yang sangat menyentuh hatinya dan juga cukup dewasa dalam pemikiran.
Dalam hati Sakti sangat bersyukur karena memiliki istri seperti Winda, selain cantik fisik, ia juga cantik hatinya. Inilah yang membuat Sakti tetap mencintainya walau dulu hampir gila lantaran kehilangannya.
Kini Sakti berjanji akan selalu menjaga Winda segenap jiwa dan raganya, termasuk calon anaknya yang ada dalam kandungan.
"Terima kasih sayang, abang bersyukur sekaligus bangga memilikimu." Sakti mengecup kening Winda.
__ADS_1
"I love you my wife and my future son." Lanjutnya kemudian beralih memeluk Winda.
"I love you too my hubby." Winda membalas pelukan Sakti kembali.
Sementara di kediaman Abian, terlihat Aira terus menempel padanya dan tak mengijinkannya untuk pergi bekerja. Rasanya Aira tak mau jauh dari Abian barang sedetik saja, jika jauh sebentar maka Aira akan menangis. Entah Abian sendiri tak mengerti mengapa istrinya kini menjadi cengeng begini.
"Sayangku, cintaku, honey bunny ku, lope lope ku, mas tampan ini harus pergi bekerja sayank. Kalau kau terus menempel begini, gimana mas mau berangkat. Hmm?" gemas Abian melihat tingkah istrinya itu.
"Mas nggak mau aku peluk ya, mas udah nggak sayang lagi sama Aira ternyata. Hiks, hiks, hiks..." tangis Aira.
Nah kan nah kan, baru juga di bilang udah banjir duluan,🙄.
"Bukan begitu sayank, tapi mas harus pergi ke rumah makan untuk memantau sayank, kalau nggak warisan mas bakal di cabut ibu lagi." ujar Abian.
Masih sempat mikir warisan ya Bian, 😂.
"Nggak mau, mas nggak boleh pergi pokoknya." keukeh Aira membuat Abian mengacak rambutnya frustasi.
Sudah hampir tiga hari ini Abian tak ke rumah makan untuk sekedar memantau pekerjaan pegawainya dikarenakan Aira yang terus menempel padanya dan tak mau terlepas. Bahkan Abian pergi ke kamar mandi saja, Aira tetap mengekor.
Huft,
Abian menghela napasnya menahan kesal, "Sayank, kau ini kenapa sih?" tanya Abian sebal.
"Aku hanya mau memelukmu, mas. Kenapa sekarang mas tidak mau aku peluk, apa mas punya yang lain di luar sana. Huhuhu, aku mau pulang ke rumah kontrakan ku saja, suamiku tak sayang padaku lagi." tangis Aira semakin pecah.
Mata Abian terbelalak melihat istrinya semakin menangis, "Hey Sayank, bukan begitu maksudnya. Justru mas sangat suka tiap kali sayank-nya mas memeluk mas, artinya Sayank mau bermanja-manja sama mas." ucap Abian lembut.
Tapi nggak setiap saat juga meluknya sayank, masa mas mau boker kamu ngikut juga. Umpat Abian dalam hati.
"Makanya mas di rumah aja ya, kemarin aku melihat sinetron ikan gelepar sama ibu. Terus ceritanya suaminya itu pemilik sebuah restoran dan dia selingkuh sama pegawainya hanya karena badan pegawainya montok dan sexy. Aku nggak mau mas pergi, nanti kalau ada yang godain mas disana gimana? Hiks, hiks, hiks..."
Ya salam, gara-gara sinetron. Ibu, kau racuni apa pikiran istriku ini. umpat Abian kembali dalam hati sambil menahan kesal.
"Sayank itu hanya sinetron okey, mas mana mungkin mengkhianati cinta kita apalagi dirimu. Bukankah mas pernah bilang, tak akan ada wanita manapun yang bisa membangkitkan selera mas untuk bercinta selain dirimu. Jadi percaya sama mas ya," bujuk Abian perlahan hingga membuat tangisan Aira berhenti. Namun...
Bruk,
__ADS_1
"Aira....
Tubuh Aira tergeletak lemas di lantai begitu saja.