TERKASIH

TERKASIH
Takut Khilaf Sebelum Sah.


__ADS_3

"Jika kau menyuruhku mengarungi samudera pasti akan aku lakukan, apalagi menyelam ke dalamnya. Tapi maaf, jangan pernah sekalipun kau menyuruhku menerjang hujan, karena aku takut... Basah."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sungguh Winda di buat kesal lantaran Sakti dari tadi terus menempel padanya. Bahkan Winda pergi kamar mandi pun di ikuti walau Sakti tak ikut masuk hanya menunggu di depan pintu, tetap saja hal itu membuat Winda... Malu.


Memang sehabis acara lamaran, Sakti kekeh tidak mau ikut Babe Rojak dan Nyak Munah pulang dengan alasan ingin menghabiskan waktu berdua untuk bermanja-manja sebelum akhirnya di pingit sampai hari pernikahan.


Benar saja kata Abian jika sepupunya itu terlampau bucin pada calon istrinya. Namun melihat perjuangan Sakti dalam menanti kembalinya Winda tanpa kabar hampir selama dua tahun patut di acungi jempol.


Saat ini Winda tengah mengambil minum di dalam kulkas, dengan Sakti yang sudah duduk anteng di meja makan. Melihat hal itu, Andrei beserta Melly hanya menggelengkan kepala saja. Ajaib sekali calon menantunya itu, pikir keduanya.


"Yah, lihat itu kelakuan calon menantu Ayah. Mau tak bilang romantis kok keromantisan bener." Bisik Melly ke Andrei.


"Iya Ma, tapi emang pesona anak kita tiada duanya. Buktinya anak Rojak kelepek-kelepek bener begitu."


"Bener yah, besok kalo nikah suruh tinggal disini aja kenapa yah. Kan Mama ntar kesepian disini sendiri." Ucap Melly.


"Mana bisa begitu lho Ma, kan tadi sudah di bahas. Mereka bakal beli rumah sendiri, lagian tak jauh juga dari rumah kita nanti. Dan tak juga jauh dari rumah besan, jadi pas di tengah." Ujar Andrei menjelaskan.


"Tapi ntar kita di rumah cuma berdua yah." Rajuk Melly tak mau mengalah.


"Malah bagus dong, jadi kalau kita mau main teh celup bisa dimana aja. Apa perlu kita buatkan adik untuk Winda?" Goda Andrei membuat kedua pipi Melly merona karena malu.


"Ish, ayah apaan sih. Udah tua kita, lagian ayah lupa kalau Mama sudah tidak bisa hamil lagi." Melly menunduk sedih kala teringat rahimnya yang sudah diangkat karena penyakit kista yang bersarang di rahimnya.


Tanpa kata Andrei segera meraih Melly ke dalam pelukan sambil mengecup puncak kepalanya. "Maaf bukan maksud ayah begitu, lagian kita minta saja cucu yang banyak dari putri serta menantu kita nanti. Jadi kita bisa merawat cucu kita nanti." Kata Andrei membuat Melly menganggukkan kepalanya antusias.


"Bener ya yah, kita bisa minta Sakti dan Winda bikin anak yang banyak aja nanti. Kalau bisa sepuluh anak juga tak apa."


"Ya jangan banyak-banyak Ma, kasihan nanti..."


"Kasihan Windanya ya yah?"


"Bukan,"


"Lalu?" Melly mengerutkan keningnya bingung.


"Kasihan kita ntar encok pinggangnya karena kebanyakan cucu." Andrei mencebikkan bibirnya, sontak Melly tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

__ADS_1


Sementara di dapur, Sakti asyik duduk mepet ke Winda sambil memulai aksi modusnya dengan meletakkan kepalanya di lengan Winda. Tak lupa satu tangannya menggenggam jemari mungil milik Winda.


"Yank, nanti Abang pasti bakal kangen berat." Ucap Sakti sambil memainkan cincin tunangan yang tersemat di jari Winda.


"Kan bisa kirim pesan atau telepon bang." Ujar Winda.


"Tapi kita nggak boleh video call lho yank. Gimana mau salurkan kangen kalo nggak bisa lihat wajah cantik sayang." Lagi-lagi modus gombal ala bang Sakti muncul.


"Ish, seminggu lagi kita menikah terus habis itu kita sah lho bang. Dan Abang bisa lihatin muka Winda setiap hari nanti."


"Tapi kan kita mesti pingit dan nggak boleh ketemu selama seminggu yank. Masak ketemunya pas hari pernikahan, mana bisa Abang nahan rindu. Celengan rindu aja nggak muat nampung rindu Abang." Rajuk Sakti sok imut. Winda hanya memutar bola matanya malas.


"Kalo celengan nggak muat, Abang masukin aja ke bank. Biar lipat ganda ntar," sebal Winda lalu beranjak menuju ruang keluarga meninggalkan Sakti yang melongo mendengar jawaban calon istrinya itu.


Tak ingin sendiri di meja makan, Sakti mengejar langkah Winda ke arah ruang tamu. Bisa gawat kalo calon istrinya itu nanti di culik penunggu ruang tamu, mau kawin sama siapa ia nanti.


"Sayang, kok Abang di tinggal sih." Rengek Sakti kembali duduk mepet ke arah Winda.


"Aduh, geseran napa bang. Itu sofa masih kosong loh," Winda menunjuk dengan kesal ke arah sofa sampingnya yang masih kosong.


"Nggak mau, dingin yank. Enakan gini, anget." Bisik Sakti sensual ke telinga Winda. Tentu saja hal itu membuat sang empu merinding disko lantaran terkena sengatan ajip-ajip tanda bahaya.


"Mana bisa jauh sih yank," ucap Sakti cemberut.


"Balik pulang gih bang, mendung... Bentar lagi hujan kayaknya." Kata Winda saat mendengar gemuruh petir dari kejauhan.


"Kalau hujan Abang nginep sini ntar." Ucap Sakti enteng.


"Mana boleh Abang, biar kata kita udah tunangan. Etika sopan santun harus tetap di jaga, sebelum kita sah nanti." Nasihat Winda.


Duar....


Baru saja Winda mengatakan sebentar lagi akan hujan, eh sekarang tengah turun hujan sangat deras dan juga suara petir menggelegar menggema di langit malam.


"Tuh kan hujan, pulang ya bang." kata Winda lalu menatap Sakti.


Sakti menghela napasnya, kemudian menatap calon istrinya dengan lekat.


"Jika kau menyuruhku mengarungi samudera pasti akan aku lakukan, apalagi menyelam ke dalamnya. Tapi maaf, jangan pernah sekalipun kau menyuruhku menerjang hujan, karena aku takut... Basah." Ucap Sakti serius, namun sayang bukannya terharu justru Winda terbahak mendengarnya.

__ADS_1


Garis bawahi pemirsa, menyelami samudera berani tapi menerjang hujan tak mau hanya karena takut... BASAH!! 😂.


"Kok ketawa sih yank, Abang ngambek ah."


Nah kan nah kan, merajuk lagi dia. Macam bocah emang, dikit-dikit merajuk.


"Winda hanya takut bang, sekarang suasana lagi hujan bang. Bukankah suasana begini cukup mendukung bila kita tanpa sengaja terbawa nafsu? Winda takut khilaf sebelum sah bang." Ucap Winda pelan mencoba memberikan pengertian kepada Sakti.


Awalnya Sakti terdiam memikirkan kebenaran ucapan Winda, hanya saja...


"Kalau kita khilaf bukannya bagus yank, jadi cucu buat Babe, Nyak, Ayah serta Mama bakalan cepet otw-nya."


Krik... Krik...


Kini giliran Winda yang terdiam sambil mulutnya menganga lebar lantaran mendengar jawaban super hebat dari calon suaminya itu.


'Astaga,' batin Winda sambil memijat pelipisnya.


Baru saja Winda akan mengeluarkan suaranya, terdengar sentakan ayahnya di sertai geplakan maha dahsyat mendarat di bahu Sakti.


Bugh...


"BALIK PULANG!! KAGAK LIHAT MATAHARI UDAH MOLOR." Sentak Andrei tak lupa matanya melotot tajam ke arah calon menantunya itu.


"Hehehe... ayah mertua, dari tadi juga udah mau pulang kok. Cuma putri ayah yang cantik ini tak rela jika ditinggal pulang." ucap Sakti berkilah membuat Winda membulatkan matanya tak percaya. Bagaimana mungkin ia melarang, justru dari tadi ia mencoba menyuruhnya pulang namun di tolaknya.


"What? dari tadi juga Winda suruh balik lho Abang. Malah Abang mau nginap disini."


Skakmat!!


"Peace ayah mertua, aye balik nih sekarang. Assalamualaikum," Sakti menyalami tangan Andrei lalu beralih menatap ke arah Winda.


"Abang pulang ya Win," Sakti menyodorkan tangannya agar Winda Salim juga padanya.


Winda meraih tangan Sakti lalu menyalaminya, kemudian...


Cup...


"KABOR!!!"

__ADS_1


Sakti segera beranjak pergi dan lari terbirit-birit keluar rumah karena melihat ayah mertuanya siap mengeluarkan taring tajam ke arahnya lantaran ia telah berani mencuri ciuman di pipi putrinya. Biarlah ia mandi hujan malam ini, biarlah ia basah malam ini. Sebelum nanti basah-basahan habis malam pertama. Wkwkwkk...


__ADS_2