TERKASIH

TERKASIH
Akhirnya Sah Juga.


__ADS_3

"Saat bibirku mengumandangkan ikrar suci atas namamu, maka saat itu juga segala atas dirimu beralih menjadi tanggung jawabku. Dan yakinkan hatimu bila akan selalu bahagia berjalan di sisiku."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Berulang kali Sakti mematut penampilannya di depan cermin, dan berulang kali juga telinga Abian, Ibnu, dan Bima mendengar pertanyaan yang sama.


'Penampilan aye ude sempurna belon?'


Entah sudah berapa ratus kali pertanyaan itu terlontar dari mulut Sakti hingga membuat ke tiga pria yang tengah menunggunya kesal sendiri.


"Ude ganteng, ude mak joss. Lengkap kagak kekurangan sesuatu apapun." Jawab Abian random.


"Cakep." Sahut Bima.


"Iye lah, Mane ade yang bisa nyamain kegantengan aye. Kalau pun ade juge masih lebih gue." Ujar Sakti jumawa tak lupa senyum menyebalkannya.


"Ho'oh, lebih plus-plus." Kata Ibnu.


"Pikir kang pijet plus-plus segale." Cibir Abian.


"Ude deh, kalian ntuh ngiri karena gue bakal ganti status di KTP. Kagak kayak kalian masih menyandang predikat Joker." Ejek Sakti yang tak di tanggapi ketiganya lantaran lebih memilih bermain ponsel dari pada mendengar tausiah seorang Sakti Surojak. Sungguh, bukan membuat jantung tentram malah yang ada usus panas karena terbakar semosi mendengarnya.


"Orang joker ya begitu, pdkt same ponsel muluk." Lanjut Sakti meledek ketiganya.


"Mending kite bertiga pdkt same ponsel, ketimbang kemaren-kemaren ade orang gagal idup gara-gara chating dan telepon kagak diangkat. Hahaha..." Tohok Abian lalu tertawa terbahak-bahak mengingat cerita Nyak Munah kala menceritakan kegalauan anaknya pada emak-emak di halaman belakang lantaran diabaikan calon istrinya.


Mendengar hal itu, Sakti sontak terdiam dengan muka bersemu merah menahan malu. Uh, dasar si Nyak ini masak aib anak sendiri di omongin sih. Dumel Sakti dalam hati.


"Beneran begitu?" Tanya Bima penasaran jika sepupu iparnya itu bisa galau seperti itu.


"Bener lah, mana uring-uringan kata si Nyak." Imbuh Ibnu semakin membuat Sakti ingin sekali lari keliling lapangan.


"Hahahaha, kalau si Winda denger pasti seru nih." Goda Bima hingga Sakti membulatkan matanya saat mendengar.


"Awas aje kalo ntuh mulut ember ntar, kreettzzz !!" Sakti mengkode dengan meletakkan jari telunjuknya di leher sambil di tarik ke samping.

__ADS_1


"Syetz, serem amet lue." Umpat Bima mengundang gelak tawa Abian dan Ibnu.


"Yaaa, minimal bisa paham lah yah." Ucap Sakti kembali mematut tampilannya di depan cermin. Sementara ketiganya hanya saling pandang lalu terkekeh melihat tingkah Sakti.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Usai ijab kabul di lantunkan dengan lantang, kini status kedua makhluk bumi itu sah menjadi pasangan suami istri. Dengan khusyuk bertopeng tipu daya bermodal modus, Sakti mengecup kening Winda penuh kelembutan dan... Lama.


Mumpung udah sah ya kan 😂.


Para tetua memberikan banyak wejangan untuk bekal rumah tangga keduanya nanti. Banyak hal yang dapat Sakti ambil dan pahami apa pentingnya dari berumah tangga. Sungguh Sakti tak akan pernah menyia-nyiakan apa yang sudah di gariskan sebagai takdir jodohnya.


'Saat bibirku mengumandangkan ikrar suci atas namamu, maka saat itu juga segala atas dirimu beralih menjadi tanggung jawabku. Dan yakinkan hatimu bila akan selalu bahagia berjalan di sisiku.' Tutur Sakti dalam hati sembari menatap Winda lekat usai menandatangani buku nikah mereka berdua.


Kemudian telapak tangan Sakti mengulur ke arah Winda untuk di ciumnya. Bibir Sakti terangkat ke atas kala merasakan hangat di telapak tangannya karena ciuman lembut dari istrinya.


"Selamat datang dalam hidupku, istriku." Bisik Sakti ke telinga Winda membuat sang empu malu seketika.


"Selamat datang juga dalam hari-hari Winda, Abang." Bisik Winda balik lantas keduanya tersenyum bersamaan dan saling pandang.


Kedua pasangan pengantin baru itu tengah beristirahat di dalam kamar hotel yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Zain dan Ririn.


"Yank, kita rehat dulu ya sekarang. Abang capek, kalau sayang mau minta jatah nanti malam aja ya. Biar bisa lama tanpa ada gangguan." Ucap Sakti blak-blakan langsung pada intinya. Hahaha 😂,


Kedua pipi Winda sontak memerah seperti kepiting rebus, ayolah ini masih siang, masak iya mau cocok tanam.


"Iya bang," jawab Winda gugup lalu merebahkan tubuhnya di samping Sakti.


Malam harinya, kedua pengantin yang sudah memakai gaun dan juga setelan tuxedo hitam kini berjalan beriringan menuju aula. Winda tampil cantik dengan gaun putihnya, terlihat anggun dan elegan namun tak berlebihan.


Dengan merangkul lengan Sakti, keduanya memasuki aula lalu berjalan menuju pelaminan. Nampak semua tamu terpanah melihat keduanya yang dinilai cukup serasi.


"Sayang, lihatlah suamimu ini. Sudah tampan tidak?" Tanya Sakti pada Winda dengan berbisik.


Alis Winda mengerut mendengar pertanyaan dari suaminya itu, "Memang kenapa bang?" Bisik Winda balik.

__ADS_1


"Abang tak mau kalah saing sama tawon-tawon yang tengah melihat sayang dengan mata melotot itu." Sakti mengarahkan matanya ke arah jajaran para tamu yang tengah memperhatikan istrinya dengan mata terpesona.


Lantas Winda mengarahkan tatapan matanya ke arah tamu-tamu yang hadir, memang benar hampir semua tamu laki-laki menatap ke arahnya. Bukannya senang justru Winda dongkol karena tak hanya tamu laki-laki yang memperhatikan, melainkan tamu wanita juga menatap lapar ke arah suaminya itu.


"Bang, aku cantik kan?" Kesal Winda.


Giliran Sakti yang mengangkat sebelah alisnya, "Cantik dan selalu cantik di mataku sayang. Kenapa?"


"Boleh colok mata itu para perempuan nggak bang? Sebel Winda lihatnya." Mengerucut lah bibir Winda akhirnya.


"Abang juga sebel lihat para tawon-tawon itu, tapi tak apa sayang. Obat paling manjur buat usir tawon cuma satu."


"Apa bang?"


Muachhh...


Dikecup oleh Sakti bibir mungil Winda, tak perduli jika mereka tengah di atas pelaminan dan masih banyak tamu. Toh udah sah ya kan, ya kan 😂.


Mata Sakti menatap ke arah para tawon dengan pandangan mengejek dan juga menyebalkan. Enak saja liyatin bini gue, rasain, makan tuh lahar lemon. Batin sakti dalam hati.


Sementara Winda sontak malu-malu dibuat Sakti karena menciumnya di depan para tamu. Malunya itu lho, bikin nagih. Wkwkwkk...


Berbeda dengan para orang tua yang tengah melotot melihat aksi pasangan pengantin baru di atas pelaminan itu.


"Wah kagak sangke anak gue, udah kebelet juge. Main nyosor kagak tahu tempat lagi." Ucap Babe Rojak.


"Ho'oh, mana anak gue mau-mau aja lagi Jak." Jawab Andrei.


"Heleh bang, biarin ngapa dah. Ude sah juge, lagian kelakuan ntuh bocah nurun dari sape coba?" Cibir Nyak Munah.


"Bener banget jeng, lagian ayah kagak ingat dulunya kayak gimana." Imbuh Melly.


Skakmat !!


(Dah lah, kalau yang ngomong bininya masing-masing mending auto silent aja mulutnya. Bisa-bisa rahasia tanggul keluar ntar ya Babe dan ayah 😂.)

__ADS_1


__ADS_2