
"Carilah nama yang baik menurut ajaran islam. Karena nama adalah identitas diri, yang kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Jadi carilah nama yang sederhana namun bijak dalam artinya, selain itu yang mudah di baca dan juga yang pasti mudah... Di ingat."
...----------------...
Sembilan bulan berlalu...
Kehamilan Winda sudah dekat dengan HPL, dimana perkiraan dokter Novie bahwa bayi akan lahir seminggu lagi. Namun tetap saja, itu hanyalah perkiraan sementara. Sedangkan kita hanya bisa berserah dan berusaha tak mendahului takdir.
Jika takdir berbicara, lahirkan sekarang... Kita bisa apa?. Semua sudah ada garisnya, yang penting kita tetap berdoa bagi keselamatan ibu dan anak.
Berulang kali Winda merasakan perutnya sedikit mulas, namun tak di hiraukan olehnya karena datangnya yang hilang timbul.
Namun semakin lama, rasa sakit itu kian menguat hingga tangan Winda berusaha meraih apa saja yang ada di dekatnya sebagai pelampiasan rasa sakit.
Seperti saat ini, jemari Winda dengan kencang menarik rambut Sakti yang tengah memejamkan mata di sampingnya.
Sontak hal itu membuat sang empu berteriak lantaran terkejut, karena merasakan perih kala rambutnya di tarik oleh Winda begitu saja.
Aaarrghhhhh...
Mulut Sakti berteriak kencang saat jemari Winda semakin keras menariknya sambil meringis menahan perutnya yang mulas.
"Aduh, aduh, aduh... Bang perut Winda mules," ucap Winda dengan tangan masih tetap di atas kepala Sakti.
"Sshhh, lepas dulu yank. Sakit," ringis Sakti.
"Kami mau buang air besar?" Lanjut Sakti bertanya saat rambutnya sudah dilepaskan oleh Winda.
Kepala Winda menggeleng, lalu meminta Sakti untuk memanggil mamanya, Melly.
Yups, Winda ingin pulang ke rumah sang mama sampai proses melahirkan, katanya di saat melahirkan nanti ia tak mau jauh dari sang mama membuat Sakti terbakar cemburu karena mengira Winda tak mau bersamanya.
Padahal Winda hanya ingin ditemani sang mama saja, emang dasar suaminya saja itu yang baperan.
Dengan langkah seribu, Sakti menggedor pintu kamar mertuanya yang berada di samping kamarnya namun masih terpisah satu kamar di antara keduanya.
Mendengar suara berisik di depan pintu, membuat Melly melepas balonnya dari mulut suami kemudian membenahi pakaiannya terlebih dahulu dan membuka pintu.
Kening Melly hampir menyatu berniat mengomeli sang menantu, tapi melihat wajah panik dan tak biasa dari muka leceknya. Akhirnya Melly mengurungkan niatnya untuk mendamprat,
"Ada apa sih ribut banget malem-malem, Sak?" Tanya Melly sedikit ketus.
__ADS_1
"Anuh ma, itu... Anuh...
"Yang jelas kalau ngomong, tarik napas lalu tahan... Udah."
"Mati dong ma," sungut Sakti.
"Malah ngelawak, cepetan kenapa?" Tanya Melly sekali lagi.
"Itu ma, Winda perutnya katanya mules dari tadi. Rambut aku sampai di jambak lho mah." Jawab Sakti tak lupa menunjukkan rambutnya.
"Syokor, cepetan siapin tas perlengkapan melahirkan. Mama mau ganti baju dulu, sekalian bangunkan ayah. Kamu bawa Winda ke mobil," perintah Melly.
Mendadak Sakti menjadi o'on lalu menggaruk kepalanya tidak gatal, "Emang udah mau lahiran ya ma?" Tanya Sakti dengan wajah begonya.
Astaga, Melly menepuk keningnya kesal melihat menantunya yang lelet ini.
"Laksanakan saja, bocah."
Brak!!
Dengan kesal Melly menutup pintu kamarnya keras meninggalkan Sakti yang hatinya sempat terkejut. Tanpa ba-bi-bu, dengan cekatan Sakti masuk kembali ke dalam kamar dan menyiapkan semua keperluan bayinya nanti.
Di atas ranjang, Winda menatap suaminya bingung namun enggan bertanya saat rasa mulas itu datang lagi.
"Sabar sayank, bentar lagi kelar."
Usai memasukkan semua keperluan, Sakti menggendong Winda keluar kamar dan segera menuju mobil. Baru saja membuka pintu mobil, di dalam sudah ada Melly dan Andrei di bangku depan dan di balik kemudi.
"Cepat masukkan, kita ke rumah sakit sekarang."
Dengan cepat namun perlahan Winda masuk ke dalam mobil, baru saja sakti duduk. Mulutnya harus berteriak kembali saat gigi runcing Winda menancap di lengannya.
Aaarrghhhhh!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di ruang bersalin, dokter Novie tengah memeriksa jalan pembukaan pada Winda. Dan mengatakan jika masih dalam tahap pembukaan ke tujuh, dokter Novie menyarankan agar Winda berjalan-jalan di sekitar untuk mempercepat proses pembukaannya.
Dengan penuh kesabaran, Sakti menuntun Winda turun dan mulai mengajaknya berjalan di sekitar. Hampir setengah jam, Winda terus berjalan hingga tiba-tiba rasa mulas tak tertahankan datang menyerang membuatnya meraih rambut Sakti dan berteriak kesakitan.
"Aduh,, aaarrghhhhh, bang kayaknya mau brojol." Pekik Winda.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Sakti segera menggendong Winda kembali ke kamar dan mengabaikan sakit pada kepala yang rambutnya tengah di tarik kencang.
Setelah memastikan pembukaan telah lengkap, dokter Novie segera memberikan instruksi kepada Winda untuk menarik napasnya terlebih dahulu dan membuang.
"Baik, ikuti instruksi saya ya Bu. Tarik napas dan dorong.."
"Aaarrghhhhh," Winda berusaha mendorong bayinya dengan napas terengah-engah menahan sakit, seolah seluruh tubuhnya terkoyak habis.
Melihat istrinya tak berdaya membuat Sakti tak tahan, ia ikut menangis dengan perjuangan sang istri untuk melahirkan buah hati mereka.
"Kamu pasti bisa sayank, hayo semangat. Abang selalu ada di sampingmu." Bisiknya di telinga Winda.
Tak perduli seperti apa penampilan Sakti kali ini, biar acak-acakan yang penting istri dan anaknya selamat. Lagipula biar tampangnya seperti habis kena angin topan, hal itu tak membuat nilai ketampanannya merosot sedikit pun. Jadi wajar, pede aja lah.
Sementara dokter Novie yang sudah melihat sedikit kepala bayi sontak menyuruh Winda kembali menarik napas dan mendorongnya dengan kuat.
"Ayo Bu sekali lagi, tarik napas... Dorong."
"Aduh bisa di bikin cepet nggak sih dok, sakit nih rambut." gerutu Sakti tak tahan saat merasakan perih pada kepalanya yang di jambak rambutnya oleh Winda.
"Sabar ya pak, tahan sebentar." ujar dokter Novie.
"Tahan... Tahan... sayank, jangan di jambak dong." ucap Sakti meringis namun di abaikan oleh Winda yang kini fokus mengejan.
Dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Winda berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan tampan.
Oek... Oek... Oek...
Air mata Winda luruh, hatinya menjadi lega seketika mendengar tangisan buah hatinya yang sudah berhasil ia lahir kan. Bahkan Sakti ikut menangis dengan menciumi seluruh wajah sang istri seraya mengucap terima kasih tiada henti.
"Terima kasih sayank, terima kasih."
Setelah mendapat jahitan di area bikang, serta sang bayi sudah di bersihkan. Hal pertama adalah menyuruh Sakti untuk mengadzani sang bayi terlebih dahulu. Baru setelah itu, ia akan mendapatkan asi eksklusif dari sang ibu untuk pertama kalinya.
Semua keluarga menyambut dengan sukacita kehadiran cucu mereka. Terutama Andrei yang tak melepas cucunya dari gendongannya sama sekali.
"Cucu kakek, tampannya. Siapa namanya Sak?" Tanya Andrei sambil melihat wajah bulat cucu laki-lakinya itu.
"Masih rahasia yah, nunggu semua kumpul baru nanti Sakti umumkan." Jawab Sakti.
"Kelamaan Sak," sahut Melly yang tengah membantu Winda makan.
__ADS_1
"Carilah nama yang baik menurut ajaran islam. Karena nama adalah identitas diri, yang kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Jadi carilah nama yang sederhana namun bijak dalam artinya, selain itu yang mudah di baca dan juga yang pasti mudah... Di ingat." Ujar Andrei menasehati menantunya itu.
"Iya yah, insyaallah namanya sudah Sakti dan Winda persiapkan sesuai ajaran Islam." Ucap Sakti tersenyum ke arah mertuanya itu.