
"Ya Allah, aku memang bukan hamba yang romantis karena aku lahir bukan dari darah seorang puitis. Namun aku orang yang bertanggung jawab tinggi, buktinya selain mapan. Aku berani datang lagi, bukan untuk melamar kembali. Melainkan langsung ngajak... Kawin."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kepala Abian rasanya berdenyut memikirkan cara menyampaikan ke ibunya jika lamaran anaknya yang tampan, mapan, baik hati dan juga tidak sombong ini... Di tolak.
Kini rasa gengsi tengah menggeluti jantungnya tatkala membayangkan jikalau ibunya nanti akan membully-nya habis-habisan saat tahu putra semata wayangnya itu tengah patah hati.
"Macam mane ini? Ape yang mesti aye lakuin?" Abian mengacak rambutnya frustasi.
"Menurut gue lebih baik lue sekarang... Pulang." Usir Sakti terang-terangan. Melihat tingkah sepupunya demikian membuat jiwa raganya ikut pusing saja. Bahkan tak hanya itu, kehidupan belut bawah pun jadi tak karuan ingin masuk sarang.
"Ck, setidaknye bantu kasih solusi kek." Umpat Abian kesal.
"Percume ngasih solusi ke otak separuh macam lue, bukannye nyambung malah belok stang nangkring di wedang ronde ntar." Jawab Sakti.
"Gue bingung nih, harusnye lue yang tanggung jawab tahu kagak." Hardik Abian menatap tajam Ibnu.
"Sorry, gue kan ude minte maaf tadi." Ucap Ibnu cemberut, memang ia akui jika yang sudah dilakukannya adalah salah. Namun tidakkah ada kata maaf untuknya, (dramatisir).
"Huh," dengus Abian.
"Kayaknye ini urusan mending Tante Sita aje lah yang urus, gue jamin pasti si Tante bisa cari jalan keluar." Saran Bima memberi jalan tengah.
"Nah setuju gue same si Bima, kalau gitu cepetan kalian pergi. Hush!!!" Usir Sakti sekali lagi pada ketiganya, yang dibalas umpatan masing-masing saat pergi dari kediaman rumah Sakti.
Melihat itu Sakti tersenyum puas, lalu membenarkan letak celananya kemudian berlari menuju kamar.
"Sayang, Abang coming... Yuk, bikin adonan." Seru Sakti sambil membuka pintu kamar dan kembali menguncinya begitu masuk.
Selanjutnya...
Ikan lewat... lewat... lewat... !!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa?" Pekik Sita tak percaya saat mendengar cerita dari Abian jika lamarannya di tolak oleh calon menantunya.
"Kok bisa sih?" Lanjut Sita penasaran dengan cerita keseluruhannya.
__ADS_1
"Bisa lah bu, jadi.....
Abian menceritakan segalanya tanpa ada yang di tutupi sedikitpun. Ia sudah terlampau buntu memikirkan cara meminta maaf kepada Aira. Apalagi Aira sudah pasti akan sangat menghindarinya. "Jadi begitu bu ceritanya." Sedih Abian jika mengingat hal itu kembali.
"Sudahlah, biar ibu yang urus nanti. Cuma kamu harus mau ikutin rencana ini. Punya anak kok payah!!" Cibir Sita lalu menjelaskan rencananya kepada anak payahnya itu.
"Oke bu, aku setuju." Ucap Abian penuh semangat.
"Hehehe, lagipula bukankah ibu sudah bilang sama Aira kalau dia harus menikah denganmu. Jadi bisa tak bisa Aira harus tetap jadi menantu ibu dong." Kata Sita lalu beranjak pergi menuju kamarnya.
"Iya ya bu,"
"Tenang aja, nanti ibu minta bantuan teman ibu juga yang lagi jaga disana." Ucap Sita kembali.
"Oke bu." senyum Abian merekah membayangkan rencana tersebut saat berhasil.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Krusak krusuk mulai terdengar pagi itu, banyak yang tengah membicarakan Aira. Sesuai arahan dan rencana nyonya besar, para pegawai kini memulai akting mereka saat melihat kedatangan Aira. Dengan berpura-pura tak mengenal siapa si cewek yang dimaksud, mereka mulai menggibah agar Aira terpancing.
Banyak yang menyayangkan sikap Aira yang sudah menolak lamaran si bos hingga akhirnya kini si bos harus bermain akting di rumah sakit. Padahal jika dibanding Aira, masih banyak orang lain yang menginginkan bos mereka itu.
"Huh, mentang-mentang cantik tapi nggak tahu diri. Pakai acara nolak lamaran si bos segala. Gara-gara itu cewek kini bos kritis di rumah sakit, tahu gitu mending aku aja yang dilamar pasti aku terima." Ucap Silvia salah satu pegawai centil ketika Aira melintas di depannya.
"Lihat aja, kalau sampai bos nggak ada alias koit. Huh, sumpah bakal aku kasih pelajaran itu cewek yang udah nolak lamaran si bos." Lanjut Siska, senior disana.
"Sebenarnya penasaran juga sih, siapa sih itu cewek. Sok banget gitu lho," ucap Silvia kembali yang di jawab anggukan oleh Maria dan Siska sambil melirik ke arah Aira diam-diam.
Dalam hati ketiganya mengucap istighfar berkali-kali, jika bukan atas perintah nyonya besar mana mau ketiganya julid begini.
Deg...
Darah Aira berdesir kala mendengar hal itu, jantungnya mulai gundah gulana. Hatinya berdebar tak karuan, perasaan gelisah mulai menghantui ususnya.
Bukan maksudnya menolak lamaran manusia cagak padanya, namun melihatnya dipeluk gadis lain membuat jantungnya cekit-cekit sakit tak berdarah.
Memang Aira akui jika ia telah jatuh cinta pada sosok Abian, entah bagaimana caranya rasa itu hadir begitu saja. Bahkan jika dihitung, ia dan Abian baru saja saling mengenal. Dan lebih parahnya lagi, jika keduanya bertemu pun tak ada yang namanya damai. Selalu ada saja yang di perdebatkan, namun nyatanya hal itulah yang membuat rasa itu hadir di dalam hatinya tanpa ia sadari.
"Oh ya ampun, gimana kalau si manusia cagak benar-benar sekarat. Nggak bisa, enak aja! Aku kan belom kawin sama dia. Pokoknya aku harus cegah, minimal nikahi aku dulu lah biar aku dapat warisan." Umpat Aira pelan tak lupa otak konsletnya mulai kumat.
__ADS_1
Tanpa menimpali acara gibah menggibah antara syuhu-syuhu, Aira berlari keluar tempat kerjanya menuju rumah sakit. Dalam hati ia mengumpat kesal kepada Abian, pagi-pagi bukannya tunjangan sarapan yang di dapat malah olahraga membakar lemak yang dilakukannya.
"Fix, nyampe sana gue mau makan dua porsi nasi." Umpat Aira saat berlari sekuat tenaga di sisa kekuatan napasnya yang ngos-ngosan.
Sedangkan di rumah sakit, Sita tengah mempersiapkan segalanya setelah mendengar kabar dari para pegawainya jika Aira sudah menuju TKP alias tempat kejadian pernikahan.
Ya, Sita berpikir jika mengulang lamaran akan terlalu lamban sehingga ia memutuskan untuk menikahkan keduanya saja walau harus secara paksa. Wkwkwk...
"Hey bujang lapuk, cepetan pakai jasnya. Penghulu udah datang, sana sama Babe Rojak dan Nyak Munah. Ibu sama perias mau nunggu calon mantu buat langsung make over nanti." Perintah Sita sambil menggelung rambutnya.
"Iya iya bu, ini juga baru kelar pakai." Jawab Abian gugup.
"Kenape tuh muka lecek lagi?"
"Gugup bu,"
"Heleh, sana minta ajian sama Babe biar kagak salah ucap pas ijab." Ucap Sita menggoda anaknya itu.
"Kalau itu... Pasti." Abian mencium satu pipi ibunya lalu pergi ke ruangan yang sudah di set menjadi tempat akad.
"Ya Allah, aku memang bukan hamba yang romantis karena aku lahir bukan dari darah seorang puitis. Namun aku orang yang bertanggung jawab tinggi, buktinya selain mapan. Aku berani datang lagi, bukan untuk melamar kembali. Melainkan langsung ngajak... Kawin." Gumam Abian.
Di dalam ruangan Babe Rojak sibuk menggerutu kesal, masak kawinan di rumah sakit. Idenya kurang elit sekali, ingin sekali Babe Rojak menegur adiknya itu tapi... Takut. Secara Sita kan galaknya hampir menyamahi mertua lelakinya. Bikin ginjal lepas kalau sudah ngereog, telinga sesak, dada berdengung mendengarnya.
"Busyet deh, ini kawinan jam berape sih. Lame bener," gerutu Babe Rojak.
"Sabar nape bang, tunggu aje." Jawab Nyak Munah ketus.
"Abis lame bener Mun, pan Abang mesti ke kebon ntar."
Nyak Munah mencebikkan bibirnya, "Di kebon emang ada jande... Bolong ape bang? Perasaan ke kebon muluk."
"Ade taneman baru lah, Abang lagi eksperimen nanem ketela. Hebat kan." Jawab Babe Rojak bangga.
Gubrakk !! Ngarep !!!
"Astage bang,"
"Maaf nih pak buk, harusnya kan saya yang menggerutu, ngedumel, ngomel. Kenapa jadi bapak sama ibu yang berantem?" Sela penghulu dengan polos.
__ADS_1
"Diem." Jawab Babe Rojak dan Nyak Munah kompak sontak membuat penghulu tutup mulut rapat.
'Kok diomelin sih, apes banget sama jadwal kawinan yang ini.' batin penghulu menangis.