
Tiba di Rumah sakit, Vano langsung berlari ke ruang Ugd dengan salah satu suster.
Hingga tibalah di depan ruangan tersebut dan tubuh Andreas sudah berpindah ke tangan suster dan di bawa masuk.
Vano mengambil ponsel nya, dia mencoba menelpon Cintya namun selalu gagal karena di tolak dan sekarang malah tidak aktif.
"Sebenarnya kau sedang ada dimana sih, kenapa susah sekali di hubungi"
"Awas saja kalau terjadi sesuatu pada Andreas akan ku hajar kau"
Vano terus saja menggerutu dan sesekali menatap ke arah ruangan yang ada di hadapannya, dia begitu cemas dengan keadaan Andreas.
Bahkan orangtua nya pun sudah ia beritahu lewat pesan, dia tak sanggup berbicara pada sang Ibu yang pasti nya akan terpukul karena Andreas adalah cucu kesayangannya.
Hampir setengah jam menunggu dan akhir nya Dokter pun keluar ruangan, dengan gerak cepat Vano pun bangun dari duduk nya dan menghampiri sang Dokter.
"Bagaimana keadaan Putra saya, Dok?" tanya Andreas dengan panik.
"Putra bapak punya penyakit kelainan jantung yang sudah cukup parah, dan ia juga terkena demam berdarah" jelas Dokter.
Hah.
Vano mematung mendengar semua penjelasan sang Dokter, ia tak menyangka bahwa Putra nya akan mengalami hal seperti itu.
*
Disinilah Vano berada, di ruang rawat inap sang Putra dengan tatapan yang cukup sendu.
"Bukankah dulu penyakitnya jarang kambuh, apa Cintya sering membentak Andreas ya" gumam Vano.
Ya, mereka memang tau penyakit Andreas sejak bayi. Namun penyakitnya sudah tak kambuh lagi sejak makanan dan minuman nya tidak sembarangan, bahkan tak ada yang pernah menaikan suara nya di hadapan Andreas.
Ceklek.
"Vano, bagaimana Andreas?" tanya seseorang yang baru masuk.
Vano mengalihkan pandangannya pada suara tersebut, dia lalu melangkah dan langsung memeluk sang Ibu.
Ya, Ayah dan Ibu datang serta langsung ke Rumah sakit dengan wajah cemas.
"Penyakit nya kambuh kembali, Bu" lirih Vano dengan parau.
Deg.
Ibu melepaskan pelukan Putra nya, dia lalu mendekati ranjang sang Cucu dengan air mata yang menetes.
"Bagaimana bisa kambuh, Vano? Apa kamu membentak atau membuat nya takut?" tanya Ayah dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"Aku tak tau Ayah, namun saat aku pulang Cintya tak ada dan rumah dalam keadaan gelap. Saat aku menyalakan lampu, aku mendengar isak tangis Andreas memanggil kalian" jawab Vano menundukan kepala nya.
Ayah dan Ibu Vano menggelengkan kepala nya, mereka tak habis pikir dengan sikap menantu mereka yang selama ini banggakan dan manja kan.
"Setelah sehat, Ayah akan membawa Andreas ke kampung. Kamu urus saja perusahaan dan beri pelajaran agar Istri kamu sadar" putus Ayah dengan tegas dan tak menerima penolakan apapun.
Vano menghela nafas kasar, ia hanya bisa menganggukan kepala dengan pasrah. Karena semua ini juga demi keselamatan dan kesehatan sang Putra.
*
Tepat jam 11 malam Vano memutuskan pulang dulu ke Rumah, ia akan membawa beberapa baju dan charger ponsel nya yang bahkan saat ini sudah mati.
Mobil melaju dengan cukup tenang, karena di jalanan yang cukup lenggang dan damai karena memang sudah larut malam.
"Awas saja jika saat aku pulang kau belum juga pulang, Cin" gumam Vano mengcengkram erat stir mobil nya.
Hingga perjalanan malam itu sampai juga di halaman rumah milik nya, ia langsung saja masuk saat tak ada mobil milik istri nya.
Ceklek.
Dan benar saja, pintu masih belum terkunci dan pasti belum ada sang Istri pulang.
Vano duduk dan menghela nafas, ia memejamkan mata sejenak dan tak lama terdengar deru mesin mobil sang Istri.
Cintya masuk dengan menenteng banyak belanjaan, ia lalu terkejut saat melihat Vano yang ternyata belum tidur dan sedang menatap nya dengan tajam.
"A ada di kamar nya" jawab Cintya terbata karena cukup kaget dengan apa yang terjadi.
Heh.
"Ada kamu bilang, lihat dan bawa kesini jika memang ada" bentak Vano kembali.
Bruk.
Belanjaan Cintya di biarkan tergeletak di lantai begitu saja, sedangkan dia sendiri segera berlalu ke arah kamar Putra nya.
Namun, apa yang Cintya dapatkan? Tidak ada seorang pun disana.
Cintya kembali ke ruang keluarga, ia lalu duduk di samping Vano.
"Tidak ada kan? Ibu macam apa yang tak tau kemana Putra nya sendiri" cibir Vano dengan tatapan tajam.
"Apa kamu membentak Andreas hari ini?"
Deg.
Pertanyaan yang di lontarkan oleh Vano membuat jantung Cintya berdetak kencang, dia lalu memalingkan wajah nya ke arah lain.
__ADS_1
"Enggak lah" elak Cintya dengan yakin.
Vano mengepalkan tangannya, dia lalu menatap sang Istri dengan penuh kilatan amarah.
"Kau yakin? Lalu kenapa Putra ku bisa kambuh penyakitnya dan sekarang dia ada di Rumah sakit, jawab" bentak Vano sambil berdiri di hadapan aang Istri.
"Kau hanya tau foya-foya dan tak memikirkan Putra mu sendiri, bagaimana kalau aku tak cepat pulang? Mungkin Andreas saat ini sudah meninggal" sentak Vano kembali dan pergi dari hadapan Istri nya
Langkah Vano terhenti tepat di hadapan belanjaan sang Istri, ia menginjak-nginjak nya dan menendang semua itu penuh dengan amarah.
Cintya langsung bangkit dan melangkah dengan cepat, ia mengambil beberapa belanjaannya dan menatap Vano marah.
"Mas, ini belanjaanku kenapa kau rusak" teriak Cintya.
Vano hanya berdecih dan masuk ke dalam kamar, ia mengambil beberapa keperluannya dan setelah nya pergi dari rumah.
Cintya memanggil nya dengan teriakan, namun Vano menulikan pendengarannya dan pergi dengan mobil yang melesat kencang.
"Aarrggghh" teriak frustasi dari Cintya.
Ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras, bukannya mengikuti Vano tetapi Cintya memilih masuk ke kamar dan merebahkan tubuh nya.
"Ck, besok juga akan pulang dan menjemputku untuk menjaga Andreas" gumam Cintya dengan percaya diri nya.
🐰
Ke esokan pagi nya, Cintya sudah duduk manis di depan televisi dan menunggu Vano datang.
Ia masih meyakini bahwa Vano akan datang dan menjemput dirinya, karena Cintya berpikir bahwa tak akan ada yang menjaga Andreas karena mertua nya sudah pulang entah kemana.
Jam menunjukan sudah pukul 9 pagi, namun Vano tak kunjung datang dan ponsel nya juga belum aktif.
Hal tersebut membuat Cintya murka, dia memutuskan menghubungi John.
Dan, Vano cuti selama 3 hari. Saat Cintya menanyakan dimana keberadaan Vano dan sudah pasti John akan tutup mulut.
"Harus kemana aku mencari nya, ah aku akan ke rumah sakit biasa yang sering di kunjungi oleh keluarga" gumam Cintya dengan tersenyum cerah.
.
.
.
.
.
__ADS_1