Ternyata Hanya Pajangan.

Ternyata Hanya Pajangan.
Bab 24


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Vano, John dan Cintya akan berangkat ke kampung halaman sang Ayah.


Mereka di antarkan oleh Bram sampai sana, bahkan Bram juga membawa banyak oleh-oleh untuk keluarga Vano.


Perjalanan kali ini di temani dengan di tekuk nya wajah Cintya, ya sejak pagi tadi Cintya sudah murung bahkan mendebat Vano untuk mengurungkan niat nya ke kampung.


*


Perjalanan yang cukup panjang dan Bram memilih berhenti sejenak di rest area.


Mereka akan makan serta mengganti sopir oleh John, karena Bram sudah cukup lelah.


"Mau makan gak?" tawar Vano pada Istri nya.


"Mau" jawab Cintya ketus.


Vano melenggang pergi dan memesan makanan untuk dirinya dan Cintya, sedangkan Bram dan John sudah kembali lagi dengan membawa pesanan.


Bram duduk tepat di hadapan Cintya, dia menggelengkan kepala melihat istri sahabat nya itu.


"Harus nya lu bersyukur Cin, sampai saat ini Vano tidak menceraikanmu. Kan awal mula kehancuran perusahaan Vano itu ulah elu, karena ke egoisan elu yang tinggi itu" jelas Bram sinis.


"Apa maksud mu Bram, emang kalau Vano mau cerai ya cerai aja" timpal Cintya dengan kesal.


Heh.


"Semalam yang nolak siapa? Bukannya lu" ucap John santai.


Uhuk.

__ADS_1


Cintya tersedak ludah nya sendiri, dia lalu menatap John dengan tajam.


"Apa benar? Wow" ledek Bram dengan terkekeh kecil.


Tak berselang lama Vano pun tiba, dia meletakan makanan di hadapan Cintya.


Hening.


Mereka fokus pada makanan yang mereka pesan, tak ada yang bersuara karena Vano sedang dalam mood kurang stabil.


Setelah selesai makan, mereka berangkat kembali karena perjalanan yang masih jauh.


Cintya dengan malas masuk ke dalam mobil dan menghempaskan tubuh nya dengan kasar.


"Jika memang tidak mau kau bisa keluar dan pergi kembali ke Jakarta" ucap Vano sinis pada Cintya.


Sedangkan Vano hanya mengabaikannya, dia sudah lelah dengan berdebat akan dimana mereka tinggal.


"Jika memang terpaksa dan tidak mau maka kau boleh bilang, jangan nanti setelah sampai kau merengek" ucap Vano kembali setelah mobil berlalu meninggalkan rest area.


"Tidak akan, namun aku ingin 2 bulan sekali ke rumah Ibu ku" jelas Cintya.


"Terserah" putus Vano.


John dan Bram diam, keduanya tak ingin ikut campur urusan mereka yang terkesan privacy.


Hampir 2 jam mereka melakukan perjalanan dan akhir nya sampai juga di kampung halaman Ayah Vano.


Mereka keluar dari dalam mobil dan terlihat Ayah, Ibu, Adik Vano dan Andreas yang sedang menunggu mereka.

__ADS_1


"Ayah Ayah" teriak Andreas bahagia.


Vano langsung mendekat dan memeluk sang Putra, dia begitu merindukan Andreas yang sudah lama berpisah dengan nya.


"Bagaimana kabar mu, sayang?" tanya Vano lembut.


"Baik, aku enggak ketakutan sendirian di rumah lagi karena ada Nenek dan Kakek" jawab Andreas dengan binar bahagia.


Andreas langsung terdiam dan memeluk Vano kembali, dia terlihat sangat gelisah dan ketakutan saat melihat siapa yang mendekati nya.


"Halo sayang" sapa Cintya dengan ramah.


Andreas diam saja, dia lalu melepaskan pelukan tersebut dan berlari ke arah sang Nenek.


"Nenek ayo masuk, aku takut"


"Huaaaa"


Tangis Andreas akhir nya pecah juga, dia sangat ketakutan saat melihat kedatangan Cintya.


Tubuh mungil nya cukup bergetar dan hal itu membuat mereka yang ada disana kaget.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2