
Kanaya duduk bersama sang Mommy mertua di ruang keluarga, namun tak lama kemudian keduanya di hampiri oleh Pria tercinta nya.
"Kenapa sayang?" tanya Axel lembut.
"Aku ke inget orang yang nolong aku, Mas" jawab Kanaya lirih.
Axel tersenyum, dia lalu mendekat ke arah sang Istri dan mengusap lembut pipi nya.
"Dia sudah tidak kenapa-napa, Dokter merawat nya dengan baik" jelas Axel.
Huh.
Kanaya menghela nafas kasar, dia lalu menyenderkan kepala nya pada pundak Axel.
"Siapa ya Mas dia itu, kenapa dia mau nabrak aku?" tanya Kanaya sendu.
Mommy Elsa mendekati nya, dia lalu memeluk menantu nya dengan sayang.
"Dia hanya segelintir orang jahat sayang, kamu mulai saat ini di Rumah saja ya. Di perusahaan sudah ada Asisten Alex dan Fani, sedangkan Axel nanti nya akan di bantu Daddy" jelas Mommy.
"Iya Mom, aku juga takut keluar Rumah. Kalau mereka hanya menghina, judge ataupun aku tak apa, tapi ini masalah nya nyawa"
"Terimakasih ya Mom, Dadd" ucap Kanaya kembali dengan penuh haru.
Mommy tersenyum, dia sangat menyayangi Kanaya seperti ia menyayangi Putri kandung nya sendiri.
"Kenapa menantu ku hari ini seperti melow terus, gak kayak biasanya" celetuk Daddy dengan heran.
"Entahlah Dadd, Naya juga merasa hari ini sangat sedih terus ingin rebahan aja" balas Kanaya yang masih berada di pelukan Mommy.
__ADS_1
Axel, Mommy dan Daddy melihat Kanaya, memang mereka akui hari ini Kanaya tidak semangat seperti biasanya.
Bahkan Axel merasa Kanaya seperti sedang sakit, namun Kanaya tidak menyadari nya.
"Kamu sakit, sayang?" tanya Axel khawatir.
"Tidak Mas, aku hanya kurang semangat saja" jawab Kanaya mengulas senyum tipis.
"Yasudah kamu istirahat saja, sayang" jelas Mommy pada menantu nya
Kanaya mengangguk, dia lalu menggandeng lengan Axel agar mau menemani nya untuk istirahat.
🐰
Berbeda dengan Cintya, saat ini ia sedang dalam perjalanan kembali ke Kota.
"Awas saja kau Kanaya, jangan berharap bisa lolos dari ku" gumam Cintya.
Cintya masih saja dengan perasaan yang sama, dendam pada Kanaya.
Dia tidak berkaca pada diri, padahal semua kehancuran nya diri nya lah yang membuat.
"Semua nya hancur karena kamu Nay, bahkan saat ini Vano meninggalkan aku karena kamu juga. Awas saja kau" gumam nya kembali dengan mengepalkan tangan.
Memejamkan mata dan bersandar pada jok mobil, itulah yang Cintya lakukan sekarang untuk meredakan emosi nya.
Cintya benar-benar marah karena Vano menalak nya dengan lantang dan tanpa ragu,
*
__ADS_1
Setelah perjalanan yang cukup jauh, kini mobil yang membawa Cintya sudah sampai di Kota Jakarta kembali.
Cintya masuk ke dalam rumah kontrakan milik dirinya dulu sebelum pindah ke rumah besar Vano.
Ceklek.
"Awas saja kau Mas Vano" gerutu nya kembali.
Cintya langsung saja masuk ke dalam kamar nya dengan perasaan yang dongkol,
Dia merebahkan diri disana dengan helaan nafas kasar, masih teringat kala Vano membawa nya keluar dari sini dengan perasaan bangga dan juga bahagia.
"Heh, aku akan membuatmu bertekuk lutut kembali padaku Vano" gumam nya.
Tidur.
Ya, Cintya memilih tidur dan istirahat cukup.
Karena ada seseorang yang akan di temui nya nanti, bahkan Cintya sudah menantikan pertemuan ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1