
Kondisi Cintya sudah membaik, dan pria itu tersenyum senang akan hal baik ini.
Rencana demi rencana sudah ia lakukan untuk mendapatkan Kanaya, namun selalu gagal dan ia sangat yakin akan rencana satu ini akan berhasil.
Ceklek.
Cintya menoleh ke arah sumber suara, ia melihat pria yang selalu menekan dan memberikannya uang datang kembali dengan senyum mengembang.
"Aku ingin kau memulai rencana kita sekarang juga. Hari ini adalah hari dimana pertemuan antar bisnis dan aku menerima kabar bahwa Kanaya ikut serta dengan Axel ke acara ini"
"Tugasmu hanya 1, culik dan bawa dia kemari dengan keadaan yang sehat dan tanpa lecet" jelas pria itu dengan tegas.
Hemmm.
"Baik, lalu siapa yang akan membantu ku?" tanya Cintya.
"Mereka berdua akan membantu mu" jawab nya sambil menunjuk ke arah dua pria yang datang bersama dirinya.
Cintya menganggukan kepala nya, dia lalu bersiap untuk pergi ke Hotel dimana acara sedang berlangsung.
Setelah bersiap, Cintya dan kedua pria tadi segera pergi dari sana dengan wajah tenang dan santai nya.
🐺
Sedangkan di kediaman Vano,
__ADS_1
Saat ini ia sedang duduk di kursi roda, dia sudah pulang setelah 4 hari di rawat di Rumah sakit di Kota.
Termenung,
Hanya itulah yang Vano lakukan saat ini.
Balas dendam? Pada siapa ia akan balas dendam, karena kecelakaan ini murni kesalahannya dan keteledorannya sendiri.
Kesal, emosi dan juga marah ia luapkan semua nya di kamar seorang diri. Karena penolakan dari sang mantan Istri ia sampai hilang kendali dan berakhir dengan kecelakaan.
"Apa aku salah jika mengharapkan Kanaya kembali lagi padaku?" ucap Vano dengan menerawang jauh.
"Salah" timpal Ibu Vano yang baru saja duduk di samping sang Putra.
Vano menatap sang Ibu,
"Kenapa?" tanya Vano dengan tatapan jauh ke depan.
Huh.
Ibu membuang nafas kasar, dia mengusap bahu sang Putra dengan lembut.
"Karena dia sudah kecewa pada kita, dengan tak tau malu nya kita menikmati harta dia, belanja dan liburan pakai uang dia bahkan kita menguasai perusahaan dia. Lalu apa balasan kita? Kita malah mengkhianati nya dengan sangat keji" jelas Ayah dengan tegas.
"Jadi, kamu jangan mengejar kembali Kanaya dan hormati keputusannya! Perbaiki diri dan bahagiakan Andreas, jangan selalu mengejar apa yang bukan untukmu" tegas nya lagi.
__ADS_1
Hah.
"Baiklah Ayah, Ibu, aku ikhlas dengan semua ini. Aku akan berhenti berharap dan semoga saja Kanaya bisa jauh lebih bahagia dengan Axel" ucap Vano dengan sungguh-sungguh.
Ayah dan Ibu mengangguk dengan senyuman kecil, keduanya merasa lega karena Putra mereka akhir nya sadar.
"Aku sadar bahwa Kanaya bukan untukku lagi, dia sudah bahagia dengan hidup dan pilihannya sendiri" jelas Vano kembali.
"Semoga kelak kau juga akan menemukan wanita yang lebih baik lagi, Nak" ucap Ibu dengan tulus.
"Amin" jawab Ayah dan Vano bersamaan.
Ibu membawa Vano masuk ke dalam, karena hari sudah menjelang sore dan ia juga harus minum obat.
Untuk sementara Resto tanggung jawab penuh John dan Adik nya Vano yang akan membantu dirinya.
Bram?
Dia masih saja dengan kesibukannya yang entah apa itu, bahkan John dan Vano pun tak tau apa kesibukan sahabat nya itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.