
Kini di ruangan itu hanya ada Kanaya dan Axel saja, karena Mommy dan Daddy sudah pulang untuk istirahat.
Penjagaan di luar cukup ketat namun tidak mencolok,
Axel tak ingin kecolongan dengan resiko yang cukup sangat membahayakan, apalagi saat ini Kanaya sedang hamil.
*
Malam ini Kanaya terlelap cukup nyenyak, berbeda dengan Axel yang masih enggan memejamkan mata nya sama sekali.
Drrrt
"Halo" sapa Axel dengan cepat.
"........"
"Awasi terus tapi jangan mencurigakan, kalau dia berani masuk ringkus saja" jelas Axel tegas.
"......"
Tut.
Panggilan terputus, Axel mengunci pintu dan melangkah mendekati ranjang Kanaya.
Axel ikut merebahkan diri di samping Kanaya, ia memeluk tubuh sang Istri dengan sayang.
"Kenapa Cintya semakin nekad, aku yakin ada sokongan di belakangnya yang cukup kuat" gumam Axel.
🐰
Ke esokan pagi nya, Kanaya sudah bangun dan kembali muntah-muntah dengan cukup membuat Axel khawatir.
__ADS_1
Pasalnya ia muntah sampai terlihat pucat dan tak bertenaga,
"Aku panggil Dokter ya" ucap Axel setelah Kanaya kembali ke atas ranjang nya.
"Tidak usah Mas, sebentar lagi juga ada Dokter yang buat meriksa aku" jelas Kanaya tersenyum.
Cup.
"Baby, jangan nakal dong dan jangan buat Bunda kesakitan ya sayang" ucap Axel di depan perut Kanaya.
Kanaya merasa sangat nyaman saat Axel mengusap-ngusap perut nya, dia tersenyum saat melihat pandangan pria itu menatap lekat dirinya.
"Nyaman Mas" lirih Kanaya dengan malu-malu.
"Kau menggemaskan sekali sih sayang"
Cup
Cup
Cup
Pagi itu mereka awali dengan saling menggoda dan bermanja, hingga tak lama kemudian pintu ada yang mengetuk dan ternyata Dokter yang akan memeriksa Kanaya.
*
Sedangkan di luar ruangan, Cintya menatap pada ruangan dimana Kanaya berada.
Namun, dari semalam ia akan mendekati nya seolah ada yang menjaga dan ia tidak bisa melakukan apapun selain memandang nya.
Dari mana ia tau?
__ADS_1
Karena kemarin ia tak sengaja melihat Axel mendorong kursi roda Kanaya untuk pindah ke ruang perawatan.
Namun, sampai pagi ini dia sama sekali tidak bisa masuk ataupun mendekat ke arah kamar rawat itu.
"Padahal tak ada penjagaan ataupun orang mencurigakan, namun kenapa sulit sekali ya" gerutu Cintya sambil memilih pergi dari sana.
Ya, Cintya akan pulang lebih dulu untuk membersihkan diri dan setelah nya akan kembali lagi kesini dengan tekad yang bulat.
*
Cintya melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang,
Sudah 2 bulan dia disana namun sama sekali tak pernah bertanya kabar Putra nya ataupun menengok ke kampung.
Dia sudah merasa cuek dan seakan melupakan bahwa dia seorang Ibu dari anak laki-laki yang tampan.
"Heh, aku akan bisa menyentuhmu Kanaya lihat saja. Jangan kau kira penjagaan ketat itu tak ada lengah nya, aku yakin suatu saat ada kesempatan untukku" gumam Cintya.
Cintya sudah di butakan oleh dendam, ambisi dan sekarang lebih parah lagi karena ada yang terus memprovokasi nya.
Kegilaan Cintya kali ini sudah di lampau batas, namun baik Axel dan Daddy nya tak pernah mempermasalahkannya karena tak sampai menyelakai Kanaya.
"Ahh aku harus segera menyegarkan tubuhku dan kembali ke Rumah sakit" gumam Cintya melangkah ke arah kamar mandi.
.
.
.
.
__ADS_1
.