
Kanaya duduk dengan tenang, dia mengeluarkan ponsel nya dan berselancar di medsos milik nya.
Dia cukup kaget saat melihat berita yang ternyata benar bahwa perusahaan Vano sudah gulung tikar serta di jual.
"Hemm, keduanya egois dan meruntuhkan penghasilan" gumam Kanaya menggelengkan kepala nya.
Tak berselang lama, Axel sudah kembali dengan berbagai berlanjaan yang ada di tangannya.
"Mas, perasaan aku hanya memasukan beberapa stel baju saja" ucap Kanaya.
"Sudah tidak apa, aku tak akan marah juga kok. Ayo kemana lagi?" tanya Axel dengan tangan yang memberikan belanjaan pada pengawal nya.
Kanaya melihat-lihat kembali, dia merasa cukup dan hanya ingin duduk bersantai dengan memakan eskrim saja.
Namun, Axel malah membawa nya ke toko perhiasan karena ia melihat kalung yang sangat indah dan menarik untuk sang Istri.
"Saya mau kalung ini" ucap Axel setelah berada di dalam toko.
Kanaya hanya diam saja, dia membiarkan apa yang akan Axel lakukan ataupun beli.
"Ini Tuan, kalung ini edisi terbatas dan hanya ada satu dengan desain khusus dan tanda khusus untuk membuktikan ke asliannya, jadi jika ada yang sama kita tinggal perlihatkan tanda ini karena ini adalah tanda ke aslian" jelas pelayan toko.
"Sayang" panggil Axel pada Kanaya.
Kanaya mendekat, dia lalu tersenyum kala melihat Axel memasangkan kalung tersebut pada leher jenjang nya.
"Saya ambil yang ini" ucap Axel sambil memberikan kartu nya pada pelayan tersebut.
Axel kembali menatap Kanaya, kalung itu sangat indah melingkar di leher nya yang putih dan jenjang.
*
Setelah dari toko perhiasan, Kanaya membawa Axel ke foodcourt untuk menikmati eskrim dan jenis makanan lainnya.
Semua belanjaan nya sudah di bawa dan di simpan di mobil oleh pengawal Axel, jadi mereka tidak membawa apapun dan repot.
__ADS_1
"Mau pesan apa, Mas?" setelah keduanya duduk.
"Samakan saja, namun minum nya aku jus strawberry ya" jelas Axel.
Kanaya mengangguk paham, dia lalu menulis pesanannya dan setelah selesai baru ia berikan pada pelayan.
Pelayan tersebut pun pergi, dia lalu menatap sang Suami yang fokus pada ponsel nya.
"Kenapa hemm?" tanya Axel setelah sadar bahwa ia sedang di perhatikan.
"Aku kira berita perusahaan Vano di jual itu hanya bohongan" celetuk Kanaya.
Axel menyimpan ponsel nya,
"Itu benar terjadi sayang, dan katanya perusahaan itu di beli oleh Tuan Anjas" jelas Axel.
"Si Casanova itu? Udah balik ke Indo dia?" tanya Kanaya heran.
"Heem, dia sudah balik setelah perjalanan bisnis ke Ausy. Aku yakin dia akan menargetkan kamu untuk di rayu, karena dia tak pandang bulu yang penting cantik pasti di embat" celetuk Axel sedikit kesal.
"Aku dan Fani tidak akan muncul di hadapannya, sekira nya ada rapat aku akan mengutus karyawan pria" jelas Kanaya lembut.
"Itu lebih baik dan juga bagus" ucap Axel terkekeh.
Kanaya menggelengkan kepala nya, dia lalu mengambil pesanan yang sudah datang dan mulai melahap nya.
Begitupun dengan Kanaya, dia sejak tadi sudah tergiur dengan kentang goreng dan eskrim.
*
Malam semakin larut, Axel dan Kanaya memutuskan pulang setelah puas jalan-jalan di Mall dan beberapa kali menjelajah makanan.
Bukan hanya Kanaya saja yang bahagia, Axel pun demikian karena ia sangat senang serta bahagia jika Kanaya bahagia.
"Ah aku lelah sekali, Mas" gumam Axel dengan merebahkan kepala nya di dada bidang sang Suami.
__ADS_1
"Tidurlah dulu, nanti jika sudah sampai aku akan bangunkan" balas Axel lirih.
🐥
Berbeda dengan pasangan Vano dan Cintya, kini keduanya tengah berdebat karena kabar perusahaan Vano.
Cintya marah karena ia tak di beritahu dan bahkan ia tak mendapatkan uangnya sepeserpun.
"Lalu kemanakan uang itu, Mas?" tanya Cintya.
"Membayar gaji karyawan" jawab Vano dengan santai.
Brak.
"Lalu untukku mana? Menyesal aku menikah denganmu" teriak Cintya membanting majalah di depannya.
"Aku yang lebih menyesal menikahimu bahkan tergoda oleh rayuan mu, karena lebih baik Kanaya di bandingkan kamu"
"Jika kamu menyesal, mari kita berpisah saja"
Cintya tersentak kaget, dia tidak pernah berpikir untuk berpisah dengan Vano karena dia sangat mencintai nya.
"Tidak mau" balas Cintya dengan cepat.
"Kalau tidak mau maka cepat bereskan barangmu dan besok kita akan pergi ke kampung" tegas Vano yang tak bisa di ganggu gugat.
Cintya mencebikan bibir nya kesal, dia lalu melangkah ke kamar nya dan membereskan semua nya.
.
.
.
.
__ADS_1
.