
-Rumah Sakit,
Disinilah keluarga Vano berada, di depan ruang operasi yang sedang menyala lampu nya.
Ya, Vano harus menjalankan operasi di kaki nya karena terjepit.
Andreas sudah terlelap karena sejak tadi terus menangis saaat melihat kondisi Ayah nya.
Bahkan disana sudah ada Bram yang memang sudah di beritahu oleh John.
Bram membawa menepi dari sana, dia ingin berbicara sebentar dengan sahabat nya itu.
"Kenapa ini bisa terjadi, bukankah Vano selalu tenang dan berhati-hati dalam berkendara?" tanya Bram dengan menghela nafas kasar.
"Entahlah aku juga tidak tau, bahkan aku juga tak tau ada urusan apa hingga ia berhari-hari di Jakarta" jawab John apa adanya
Bram menatap John.
"Apa jangan-jangan dia berusaha menemui Kanaya?" tebak Bram.
Huh.
"Sepertinya, obsesi dia pada Kanaya masih terlihat jelas" lirih John.
Bram menggelengkan kepala nya, dia tak habis pikir dengan kelakuan Vano.
Dia yang berkhianat dan dia juga yang menyesal setengah mati.
*
Hampir 1 jam mereka disana dan pada akhir nya ruang operasi pun terbuka.
Ayah segera menghampiri Dokter,
__ADS_1
"Operasi nya berjalan dengan lancar, pasien akan di pindahkan sebentar lagi" jelas Dokter.
"Baik Dok, terimakasih" balas Ayah sopan.
Dokter mengangguk dengan tersenyum, dia lalu permisi untuk kembali ke ruangannya.
Setelah kepergian Dokter, Vano yang terbaring lemah itu di dorong oleh beberapa perawat untuk ke ruang perawatan.
Ayah, Ibu, Hani serta John dan Bram pun mengikuti nya dari belakang.
Mereka akan menunggu bergantian agar tidak ada yang sakit kembali nanti nya.
Tiba di ruang perawatan, mereka duduk dengan nafas lega.
Bahkan Andreas sudah tak rewel seperti kemarin dan tadi, dia hanya meminta susu dan makanan ringan saja.
"Nak, apa kalian tau penyebab kecelakaannya?" tanya Ayah.
"Berarti Vano melajukan mobil nya sangat kencang" lirih Ayah dengan helaan nafas kasar.
Bram dan John menganggukan kepala nya, mereka juga mengira pasti Vano melaju dengan kencang.
Hani sejak tadi hanya diam saja, dia memilih mengajak Andreas bermain dan jajan agar tak rewel.
🍅
Pada malam hari nya, di ruangan Vano hanya ada John dan Bram saja.
Hani serta orangtua nya di suruh pulang dulu dan esok hari baru kesini lagi.
Kelopak Vano bergerak dan mengerjapkan mata nya beberapa kali, john dengan cepat memanggil seorang Dokter.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu terbuka, Dokter masuk dan melihat Vano sudah sadar dengan Bram di samping nya.
"Semua nya sudah stabil, pasien hanya butuh istirahat beberapa hari lagi" jelas Dokter.
"Dok, kenapa kaki saya tidak bisa di gerakan?" tanya Vano.
Hufh.
Dokter menghela nafas, dia lalu menyimpan alat medis dengan gerakan kecil.
"Kaki anda mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan ini, namun semua ini tidak lumpuh permanen atau masih ada kesempatan untuk sembuh" jelas Dokter dengan berat hati.
Deg.
"Lumpuh?" lirih Vano tak percaya.
"Tidak mungkin" lirih nya lagi dengan menggelengkan kepala.
Bram dan John sama terkejut nya, mereka berdua tak menyangka bahwa kecelakaan ini mengakibatkan kelumpuhan bagi Vano.
Setelah menjelaskan beberapa hal, Dokter pun berpamitan dari sana.
Hening.
Ketiga sahabat itu tak ada yang berbicara dan hanya saling menatap dengan raut wajah tak percaya nya.
.
.
.
.
__ADS_1