
Kanaya menggelengkan kepala dengan tatapan muak pada Vano.
Ancaman dan makian terus saja terlontar dari mulut pria itu, bahkan sampai ia pergi dari halaman perusahaan pun masih saja mengumpat dengan kesal.
Axel membawa Kanaya masuk ke dalam ruangannya yang mana disana Fani dan Asisten Daddy mertua nya sudah menunggu.
"Kau tak apa sayang?" tanya Axel lembut.
"Tidak apa Mas, aku hanya ingin istirahat sejenak saja" jawab Kanaya tersenyum.
Fani dengan cekatan mengambil bantal agar posisi Kanaya lebih nyaman.
Asisten Daddy nya pun kembali bekerja lebih dulu sebelum nanti membahas hal penting, karena kondisi Kanaya yang memang tak memungkinkan sekarang ini.
🍅
Sedangkan di perjalanan, Vano melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Marah.
Kecewa.
Emosi.
Hal itulah yang memicu kecepatan berkendara Vano saat ini, dia begitu marah ketika Kanaya memilih serta membanggakan Axel yang sebagai Suami nya.
Bahkan dengan terang-terangan Axel merangkul posesif Kanaya di hadapannya entah untuk apa itu.
Emosi nya memuncak ketika ia terkana pukulan telak dari Axel dan belum sempat ia membalas ia sudah di amankan.
"Awas saja kau Axel, aku akan merebut Kanaya dan dia hanya milikku seorang" gumam Vano dengan tatapan penuh kemarahan.
Perjalanan menuju ke Desa pun tinggal beberapa saat lagi, Vano bahkan tak mengurangi kecepatannya saat di jalanan agak sempit dan berbelok.
Hingga,
__ADS_1
Brak.
Terjadilah kecelakaan yang mengakibatkan mobil Vano menabrak pohon di samping jalan untuk menghindari truck yang dari berlawanan.
Seketika jalanan macet karena mobil Vano menghalangi serta truck juga berhenti disana untuk melihat korban.
"Cepat telepon polisi"
"Panggil Ambulance, pria itu terus mengeluarkan darah dari kepala nya"
Teriakan demi teriakan disana terdengar begitu nyaring akibat melihat kondisi Vano yany cukup memprihatinkan.
Ya, kecelakaan ini cukup cepat dan mobil Vano menabrak cukup keras hingga mengakibatkan dirinya cukup terluka parah.
Tak berapa lama polisi datang bersamaan dengan datang nya ambulance,
Evakuasi segera di lakukan, Vano pun segera di bawa tim medis ke Rumah sakit terdekat disana.
Jalanan pun kembali lenggang dengan adanya polisi yang mengatur lalu lintas.
John membuka Resto sejak tadi, bahkan ia sangat sibuk dan di bantu oleh Adik Vano.
Pekerjaannya terhenti kala ada yang menelpon, ia melihat bahwa Vano yang menelpon.
"Halo"
".............."
"Apa, baik saya akan segera kesana"
Tut.
"Hani, kita tutup dulu dan pergi ke perbatasan" ucap John dengan cepat.
"Loh kenapa Kak?" tanya Hani bingung.
__ADS_1
"Nanti Kakak jelaskan, ayo tutup dulu mumpung gak ada pelanggan" jelas John.
Dengan cepat Hani memberitahu tim dapur dan yang lainnya,
Sedangkan John sendiri menghubungi seseorang dan setelah nya berlari keluar.
John meminjam mobil kepala Desa yang memang selalu di perbolehkan untuk umum.
Setelah itu ia menjemput Andreas dan kedua orangtua Vano di Rumah,
"Kenapa bisa kecelakaan, biasanya Vano akan selalu hati-hati" gumam John dengan bingung.
Tak berselang lama ia sampai juga di Rumah,
"Bu, Pak, ayo ikut ke perbatasan! Nanti akan saya jelaskan yang penting ikut dulu" ajak John.
Ayah hanya mengangguk walaupun bingung, ia dengan segera menggendong Andreas dan Ibu mengikuti nya dari belakang.
Setelah siap, mereka berangkat menjemput Hani yang masih menunggu di Resto.
"Ada apa Nak John?" tanya Ayah.
Huh.
"Vano kecelakaan dan sekarang ada di Rumah sakit".
Deg.
Deg.
.
.
.
__ADS_1