
Penolakan Andreas pada Cintya cukup membuat Vano dan keluarga nya kaget, entah apa yang pernah di buat Cintya hingga meninggalkan trauma begitu pada Andreas.
Kini semua keluarga duduk di ruang tamu, hanya Adik Vano dan Andreas saja yang berada di dalam kamar. Keduanya sedang asyik bermain dan Andreas pun berhenti dari nangis nya.
"Nak, apa yang sudah kamu perbuat hingga membuat Putra mu sendiri ketakutan?" tanya Ayah pada sang menantu, Cintya.
"Aku tidak melakukan apapun" jawab Cintya dengan cepat.
Hah.
Ayah membuang nafas kasar, dia lalu menatap Vano yang masih penasaran dan juga menahan amarah nya.
Hingga tepukan halus di lengannya menyadarkan Ayah dan sang Istri mengkode untuk pergi dari sana saja.
"Ayah dan Ibu pamit ke belakang dulu, karena sayuran sudah harus di panen" jelas Ibu dengan bangkit dari duduk nya.
Bram dan John ikut, mereka juga meninggalkan Vano dan Cintya yang masih berada di ruang tamu.
Setelah kepergian Ayah serta yang lainnya, Vano menatap Cintya dengan bengis dan seakan akan menerkam nya.
"Sekarang kamu jujur saja, Cin" ucap Vano
"Apa yang harus aku jujur? Orang aku gak pernah ngapa-ngapain Andreas" celetuk Cintya sesantai mungkin namun terlihat sangat gelisah.
Vano beranjak dari duduk nya, dia lalu menghampiri kamar sang Adik untuk mengambil Andreas.
Setelah itu, Vano kembali ke ruang tamu dengan Andreas di pelukannya.
"Ayah, aku takut" lirih sang Putra.
"Gak boleh takut, ada Ayah disini"
__ADS_1
Vano duduk di sofa tunggal yang ada di hadapan Cintya, dia mengusap lembut kepala Putra nya.
"Sayang, kenapa takut sama Bunda?" tanya Vano lembut.
Andreas menatap sang Ayah, dia lalu memeluk nya dengan erat karena takut.
"Bunda selalu saja membentak dan mengurung aku jika Ayah kerja" cicit Andreas dengan ketakutan.
"Bohong" teriak Cintya.
Huaaaa.
Karena kaget Andreas pun langsung menangis dengan histeris, Ayah dan Ibu pun langsung masuk di susul yang lainnya karena kaget juga dengan tangisan Andreas.
"Cup sayang, ini sama Ayah" bujuk Vano lembut.
Sedangkan Cintya menundukan kepala nya, dia merutuki Putra kecil nya yang sudah berani mengadu.
"Ibu, tolong bawa Andreas dulu ya" pinta Vano.
Ibu menganggukan kepala, dia membawa sang Cucu untuk masuk kembali ke dalam kamar.
"Kau memang wanita jahat, entah apa yang mereka lihat dulu dari dirimu hingga mengkhianati Mbak Naya" celetuk Adik Vano dengan ketus.
*
Vano dan yang lainnya duduk kembali, Cintya merasakan hawa-hawa tak sedap yang sedang hinggap di sekitar nya.
"Sekarang jawab jujur Cin, apa benar yang di katakan oleh Andreas?" tanya Vano dengan tegas.
"Tidak, anak itu bohong" jawab Cintya.
__ADS_1
Brak.
"Kau memang keterlaluan, bagaimana bisa anak itu ketakutan padamu kalau kamu tidak melakukan hal apapun" bentak Bram yang ikut kesal pada istri sahabat nya itu.
Heh.
"Ngapain kamu ikut-ikutan" ejek Cintya.
Vano menatap Bram, dia menggelengkan kepala dengan tatapan memohon.
Akhirnya Bram pun diam kembali dan duduk bersama John yang sejak tadi hanya diam saja.
"Apa yang di ucapkan Nak Bram benar, Cucuku tak mungkin ketakutan jika kamu tidak berbuat sesuatu" timpal Ayah dengan serius.
"Memang apa yang di ucapkan Cucu ku?" tanya Ayah menatap Vano.
Huh.
Vano membuang nafas perlahan, dia lalu menatap sang Ayah dengan sendu.
"Dia mengatakan kalau Bunda nya selalu mengurung dan membentak nya selama aku kerja" jawab Vano lirih.
Deg.
.
.
.
.
__ADS_1
.