
Cintya memutar bola mata nya dengan malas, dia lalu menatap Vano dengan jengah.
"Aku yang seharus nya bertanya padamu Van, kenapa kau ada di sekitar komplek ini?"
"Apa kau mau menemui Kanaya? Cih, ternyata kau terobsesi pada Istri orang!".
Vano mengerutkan dahi nya, dia lalu menelisik Cintya yang ternyata banyak berubah.
" Apa kau lupa jika ini adalah komplek menuju kemana? Bukankah ini jalan yang aku sering lewati jika akan ke Rumah, karena ini jalan pintas" ledek Vano dengan santai, dia merasa beruntung karena memang ini jalan pintas menuju Rumah nya yang lama.
Cintya kaget, namun ia berusaha mengendalikannya sebisa mungkin.
Dia lupa akan hal itu karena terlalu fokus akan rencana balas dendam nya pada Kanaya.
*
Sret.
Vano merebut pisau lipat yang ada di belakang tubuh Cintya, dia memang curiga saat melihat gelagat mantan Istri nya itu.
"Buat apa kau membawa senjata tajam? Jangan bilang kalau kau mau melakukan sesuatu hal pada Kanaya?" ucap Vano dengan nada tinggi.
Beberapa orang yang memang ada disana langsung menatap kedua nya dengan penuh selidik.
Ada beberapa yang mendekat, ada juga yang hanya menonton saja.
"Maaf ini ada apa? Kenapa membuat keributan di depan Rumah majikan saya?" tanya penjaga dengan nada datar.
__ADS_1
"Saya juga tidak tau, kedua orang ini berisik dan membawa senjata" jelas salah satu dari mereka.
Penjaga tersebut langsung saja mengambil senjata tersebut dari tangan Vano, lalu setelah nya ia mengusir Vano serta Cintya.
Semua bubar, hanya tersisa Cintya dan Vano yang masih saling tatap dengan pandangan penuh tajam.
Cintya menatap Vano dengan kesal, dia lalu masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
Begitupun dengan Vano, dia berlalu dengan mobil nya dengan perasaan tak menentu. Niat hati ingin menemui Kanaya, eh malah harus pulang dengan kosong.
*
Sedangkan di dalam Rumah mewah, Axel menerima laporan dari salah satu penjaga nya terkait apa yang barusan terjadi di depan.
Axel menggelengkan kepala nya, seberapa pun keras mereka mendekati Kanaya maka dia juga akan lebih keras menjaga Kanaya dari apapun.
"Tetap awasi dia" ucap Axel pada salah satu penjaga nya.
Axel lalu kembali lagi ke kamar, dia akan menemani kembali Kanaya yang sedang ingin bersantai saja di kamar.
Ceklek.
Pintu terbuka dan Axel tersenyum kecil melihat sang Istri yang masih menonton televisi dengan camilan di atas paha nya.
"Ada apa Mas?" tanaya Kanaya.
Axel menggelengkan kepala, dia lalu duduk di sofa yang dekat dengan Kanaya.
__ADS_1
"Hanya pengganggu kecil saja" jelas Axel.
Kanaya mengangguk, dia lalu kembali fokus pada tontonannya yang ternyata sangat seru.
Axel menggelengkan kepala ketika melihat Kanaya yang terus saja ngemil, namun ketika makan akan kembali di muntahkan.
"Sayang, mau makan gak?" tanya Axel lembut.
Eumm.
"Aku rasanya mau makan ikan bakar dengan lalapan, Mas" jawab Kanaya dengan mata berbinar.
"Siap, mau pesan apa buat sendiri?" tanya Axel dengan antusias.
"Beli aja deh, Mas" putus Kanaya
Dengan cepat Axel mengambil ponsel nya dan memesan makanan dari Restoran yang sudah menjadi langganan mereka.
Setelah itu, dia rebahan dengan berbantalkan paha sang Istri.
"Sayang, jangan buat Bunda kesusahan ya" ucap Axel di depan perut sang Istri.
"Iya Ayah" balas Kanaya dengan suara anak kecil.
.
.
__ADS_1
.
.